Di Bogor, Daendels Menanam Pohon-Republika

Di Bogor, Daendels Menanam Pohon
Minggu, 20 Oktober 2013, 10:55 WIB

Oleh Angga Indrawan

REPUBLIKA.CO.ID, Jalan Raya Bogor berujung di kawasan Jambu Dua yang sekarang menjadi pusat perbelanjaan pertama kali jika kita menyambangi Kota Bogor. Sebenarnya jika tetap lurus, kita dapat menempuh perjalanan hingga menuju Ciawi, salah satu lokasi yang juga dijadikan proyek jalan Daendels.

Kendati demikian, jalur yang saat ini bernama Jalan Pajajaran, sesungguhnya bukanlah jalur yang dibangun dari fondasi Jalan Daendels. “Jalan Pajajaran baru dibuat pada awal 1970-an,” ujar Hendra M Astari menjelaskan.

Menyisir Jalan Daendels di Bogor dari Jambu Dua, perjalanan berbelok ke arah timur dengan menyusuri Jalan Ahmad Yani. Jalur ini merupakan akses terdekat menuju kawasan Air Mancur yang kemudian menghubungkan dengan Istana Bogor yang juga dibangun Daendels pada saat kepemimpinannya.

Jalan Ahmad Yani bernuansa teduh lantaran pepohonan yang masih tertanam rapi di kanan-kiri jalan. Ada inspirasi Daendels di sini. Konon, selain membangun pos-pos penjagaan di tiap 45 kilometer jalan, Daendels juga menanam pohon kenari atau pohon asem di pinggiran jalan.

Selain memberikan kesan asri, peruntukan pepohonan ini juga untuk memisahkan proyek jalan dengan perkebunan yang dikelola Belanda. Pada zaman tersebut, Bogor memiliki perkebunan luas dengan komoditas mayoritas perkebunan karet. Perkebunan karet, bahkan tersebar hingga Kabupaten Bogor di wilayah barat yang berbatasan langsung dengan Rangkasbitung, Banten.

Akhirnya, Jalan Ahmad Yani berujung di satu kawasan yang saat ini terkenal dengan nama ‘Tongkrongan Air Mancur’. Ini merupakan kawasan favorit para mojang Bogor menghabiskan malam akhir pekan. Pusat kuliner murah meriah terhampar di lokasi yang berjarak 1 kilometer garis lurus dengan Istana Bogor tersebut.

‘Tongkrongan Air Mancur’ bukan tanpa sejarah. Di Lokasi inilah konon merupakan titik awal Belanda melakukan pemetaan lahan di wilayah ini. Bila saat ini berdiri tugu Air Mancur, dulunya monumen lingkaran berdiameter 10 meter itu berdiri tugu yang diambil dari simbol kerajaan Belanda.

Dari lokasi Air Mancur, perjalanan menyusuri Jalan Daendels melewati satu jalur protokol yang kini bernama Jalan Jenderal Sudirman. Di sepanjang jalan masih terdapat bangunan peninggalan Belanda yang saat ini masih diteruskan oleh pemerintah. Kebanyakan bangunan Belanda di daerah sini dipergunakan sebagai markas TNI Angkatan Darat dan kepolisian.

Istana Daendels

Istana Bogor memang menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan di Kota Hujan ini. Selain ratusan rusa yang dipelihara di halamannya, bangunan ini juga menjadi daya tarik lantaran kekokohannya mengingatkan kita kembali dengan sejarah kolonialisme Belanda.

Lokasinya berada di posisi tusuk sate antara Jalan Sudirman dan Jalan Juanda. Istana Bogor merupakan satu bangunan terbesar dan terluas yang ditinggalkan Daendels di Bogor.

Seperti dijelaskan dalam buku-buku sejarah, Daendels pada masa kepemimpinannya sempat memindahkan ibu kota pemerintahan dari Batavia ke Weltevreden—Gambir. Tak hanya itu, sang tangan besi juga memindahkan kediamannya dari Batavia ke Buitenzorg (Bogor). Istana Bogor saat ini masih terawat rapi.

Mengingat ini merupakan jalan milik petinggi, tak heran di Jalan Juanda tempat berdirinya Istana dibuat agak melebar. Memang dulunya Jalan Juanda ini dikenal masyarakat dengan istilah sebagai Jalan Besar, Jalan Raya, atau Groote Weg. Dari Groote Weg dan Istana inilah, Daendels mengatur pemetaan di wilayah Bogor dengan para penasihatnya.

Suryakencana-Tajur, Titik Akhir di Bogor

Menyisir Jalan Juanda dan melewati Kebun Raya Bogor, Jalan Daendels kembali menyempit di Jalan Suryakencana. Lokasinya tak jauh dari bangunan yang saat ini bernama Bogor Trade Mall.

Jika Jalan Juanda adalah jalannya para pejabat, berbeda dengan Jalan Suryakencana. Jalur ini terbilang lebih kecil dan dikhususkan sebagai pusat perdagangan pada saat Bogor era kolonial. Maka tak mengherankan, Jalan Suryakencana dulu dikenal dengan nama handel straat (jalan perniagaan).

Lokasi Jalan Suryakencana kental dengan nuansa Tionghoa. Sebab, lokasi ini merupakan wilayah yang diperuntukkan bagi etnis Tionghoa. Daendels dengan kebijakannya membagi wilayah permukiman berdasarkan etnis. Sisa lain pembagian wilayah berada di daerah Empang, dua kilometer dari Suryakencana. Daerah tersebut merupakan permukiman khusus etnis Arab.

“Kalau zaman dulu, gampang membedakan pedagang Cina dan Arab. Kalau Cina berdagang dipikul, Arab berdagang dijinjing,” kata pengamat sejarah Bogor, Eman Sulaeman.

Dari Kota Bogor menuju Suryakencana, panjang jalan diperkirakan 18 kilometer. Suryakencana berujung di daerah Eka Lokasari atau lebih dekat dengan kawasan Tajur. Di lokasi inilah kembali bertemunya Jalan Daendels dengan Jalan Pajajaran yang sebelumnya disebutkan sebagai jalur utama dari Jambu Dua menuju Ciawi.

Redaktur : A.Syalaby Ichsan
Sumber : Harian Republika/Nina Chairani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s