Sejarah Bogor Terkikis Bisnis-Jurnal Bogor

Sejarah Bogor Terkikis Bisnis

Bogor | Jurnal Bogor

Para elite birokrat di lingkup Pemerintah Kota Bogor semestinya membaca dan mempelajari sejarah kebudayaan kotanya. Dengan kata lain, para pemangku kebijakan itu sudah sepatutnya mengetahui rangkaian perjalanan sejarah kota yang diamanatkan kepadanya.

“Dengan demikian mereka mengetahui dan memahami kearifan lokal, serta kandungan makna dari sejarah itu sendiri,” ujar Budayawan yang juga sekaligus salah seorang sesepuh Bogor Eman Sulaeman, menanggapi tingginya laju pertumbuhan ekonomi yang malah justru mengorbankan dan menghilangkan benda-benda cagar budaya dan identitas Kota Bogor di masa lalu.

Eman termasuk budayawan dan sesepuh lainnya yang secara tegas tidak menyetujui pembangunan yang pesat dewasa ini, yang justru tidak memperhatikan dan mempedulikan lagi sejarah dan budaya. Salah satu yang disorot adalah dengan berdirinya proyek pembangunan Hotel Amarossa di Jalan Otista, Baranangsiang, Bogor Timur, yang telah “menelan” simbol dan kebanggaan masyarakat terlebih leluhur serta pendiri Buitenzorg.

“Untuk soal ini, budayawan harus berbicara dengan siapa lagi kalau bukan dengan Pemkot. Tapi sayang justru mereka malah terkesan tidak peduli ketika diajak berbicara mengenai sejarah dan budaya. Kami, sesepuh bukannya ingin dihargai. Tapi tolonglah pembangunan itu jangan sampai merusak dan menghilangkan identitas sejarah,” tegas Eman.
Diungkapkannya, bahwa ketinggian bangunan Hotel Amarossa sudah jelas-jelas menyalahi aturan. Apalagi pada pelaksanaannya pun sudah teramat banyak permasalahan yang timbul, dan membuat pro-kontra di masyarakat. “Ketinggian hotel (Amarossa) itu harus dipapas. Gunung Salak tidak lagi kelihatan, Tugu Kujang juga hilang kalah sama hotel,” tegasnya.

Saat ini, kata Eman, sudah sekitar 60 persen peninggalan sejarah dan budaya yang ada di Kota Bogor telah hilang dan berganti menjadi “hutan beton.” Menurutnya, pemandangan kota saat ini tak lagi mempunyai nilai estetika dan terkesan membosankan dengan bangunan yang berbentuk kotak. “Kota Bogor ini dulunya sangat indah sekali. Suasana dan pemandangannya tiada duanya. Udaranya sejuk, asri. Tapi sekarang tidak lagi,” kata Eman.
Lebih jauh Eman mengatakan, filosofisnya bangsa Belanda pada jaman dahulu telah merancang Kota Bogor masa depan sebagai sebuah Kota Klasik. Pembangunan Kota Bogor diarahkan ke wilayah bagian timur, bukan seperti sekarang yang carut-marut tidak terkontrol.

“Sudah sangat jelas masterplan arah kebijakan pembangunannya. Dimana kawasan perniagaan, kawasan pemukiman, dan sebagainya. Maka dari itu, pejabat harus membaca dan mempelajari buku sejarah Kota Bogor. Semua hal tercantum di buku itu. Yang terlihat sekarang kan penguasa dikalahkan oleh pengusaha,” imbuhnya.
Melihat kondisi ini, budayawan maupun sejarawan sangat miris dengan banyak hilangnya (atau sengaja dihilangkan) beragam benda cagar budaya. Pada posisi ini, nilai sejarah dikalahkan oleh nafsu dan ketamakan pejabat. “Pajajaran ‘ngahiang’ dari percaturan sejarah, budaya, politik, ekonomi, pertahanan dan keamanan,” pungkasnya.

Donni A. (Ktr)

2 thoughts on “Sejarah Bogor Terkikis Bisnis-Jurnal Bogor

  1. halo, salam kenal. mau minta izin posting blog ini di social media saya yaitu twitter (@retnone) dan Facebook (Retno W. Karsoutomo). Saya juga concern, kecewa berat dengan pembangunan hotel itu. Semoga dengan berbagi tulisan ini bisa membantu ‘menyadarkan’ pemerintah.
    Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s