Wihara Dhanagun Sambut Imlek-Kompas


Menyambut Imlek tanggal 2 Februari, sekitar 30 warga Bogor melaksanakan tradisi bersih-bersih Vihara Dhanagun di Jalan Suryakancana, Kota Bogor, Sabtu (29/1/2011).

BOGOR, KOMPAS.com – Menyambut Imlek yang jatuh tanggal 2 Februari, sekitar 30 warga Bogor melaksanakan tradisi bersih-bersih Wihara Dhanagun di Jalan Suryakancana, Kota Bogor, Sabtu (29/1/2011). Sekitar 50 rumphang dibersihkan atau dimandikan, termasuk meja altar dan lemari-lemari tempat rumpang diletakkan atau dipajang.

Ketua Pengurus Ritual Wihara Dhanagun, Frenkie Sibbald menjelaskan, membersihkan rumphang dan wihara adalah tradisi Wihara Dhanagun dalam menyambut tahun baru Imlek. “Pada saat imlek nanti wihara sudah bersih. Ini juga maksudnya, kita harus bersih saat menyambut tahun baru,” katanya.

Rumphang atau patung dewa dan orang suci di Wihara Dhanagun ada sekitar 50 buah. Rumphang terbuat dari kayu, kuningan, atau porselen. Tampilan wajah rumpang, mulai dari berwajah rupawan dengan senyum manis hingga angker dan garang.

Di antara koleksi rumphang itu ada yang berusia ratusan tahun dan rumphang tersebut hanya ada di Wihara Dhanagun. Wihara itu sendiri sudah ada sejak tahun1862.

Frenkie Sibbald menjelaskan, Wihara Dhanagun adalah wihara Buddha Mahayana di bawah naungan Sangha Agung Indonesia. Perayaan imlek tidak ada kaitannya dengan ritual peribadatan Buddha Mahayana.

Imlek itu adalah perayaan tahun baru kalender China dan secara tradisi dirayakan oleh orang China atau keturunan Tionghoa. “Pada saat perayaan tahun baru itu, sebagaimana perayaan tahun baru lainnya, dilangsungkan secara meriah. Saat itu juga merupakan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga dan bersilaturahmi dengan sanak saudara serta teman dan tetangga,” katanya.

Menurut Frenkie, siapa pun orang China dan keturunan Tionghoa biasanya secara tradisi menyelenggarakan perayaan ini dan melaksanakan ibadah tahun baru, sesuai agama atau kepercayaannya masing-masing.

“Kalau yang agamanya Kristen, ya ibadahnya ke gereja. Yang Islam, ke masjid. Kalau yang Buddha, Tao, dan Kong Hu Cu ke wihara atau kelenteng. Jadi melakukan peribadatan tanda syukur dan gembira menyambut tahun baru, sesuai agama masing-masing,” tutur Frenkie.

Perayaan atau libur tahun baru, lanjutnya, biasanya selama dua minggu. Perayaan ditutup dengan dengan pesta pada tanggal 15, yang disebut Cap Go Meh. Cap Go Meh adalah belasteran dari kata cap go (artinya 15) dan meh dari singkatan meriah. Di luar Indonesia pesta tanggal 15 itu populer dengan istilah Yen Siau Cie.

Pada Cap Go Meh nanti, tidak ada pesta besar-besaran sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Arak-arakan rumphang diiringi puluhan rombongan kesenian barongsai dan lainnya ditiadakan. Tradisi menggotong dan mengarak rumpang, hanya akan dilaksanakan halaman wihara, tidak diarak sampai ke Jalan Suyakancana.

“Kami tidak menyelenggarakan pesta atau arak-arakan karena kami menilai, tidak pantas kita berpesta di situasi Indonesia yang masih prihatin karena banyak bencana. Tanda gembira dan bersyukur kami menyambut tahun baru, selain beribadah, juga menyelenggarakan kegiatan-kegiatan bakti sosial saja,” ungkap Frenkie Sibbald.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s