Potensi Salatiga yang Terkubur…-Kompas

Home
ARTHUR RIMBAUD
Potensi Salatiga yang Terkubur…
Senin, 1 November 2010 | 03:21 WIB
KOMPAS/ANTONY LEE


Rosa Darwanti, istri Wali Kota Salatiga, menunjukkan bagian belakang rumah dinasnya. Rumah tersebut dahulu merupakan kediaman asisten residen dan diyakini menjadi tempat menginap Arthur Rimbaud, penyair besar Perancis, selama dua pekan pada Agustus 1876.

Bagi orang Perancis, nama Arthur Rimbaud tak asing. Ia merupakan penyair besar Perancis pada akhir abad ke-19. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa ia pernah singgah di Kota Salatiga. Rimbaud diyakini pernah tinggal di rumah asisten residen yang kini menjadi rumah dinas Wali Kota Salatiga.

”Saya malah enggak tahu, tuh. Saya kurang paham sejarah rumah ini,” tutur Rosa Darwanti, istri Wali Kota Salatiga John Manoppo, dalam perbincangan di rumah dinas wali kota, Sabtu (21/8).

Rosa Darwanti bersama keluarganya mulai menempati rumah dinas di Jalan Diponegoro tersebut tahun 2007, tak lama setelah suaminya dilantik sebagai wali kota menggantikan Wali Kota Totok Mintarto yang meninggal dunia. Sayang, selama dua tahun itu ia tak mengetahui kisah Rimbaud. Padahal, hanya berselang beberapa puluh meter dari bangunan utama kediamannya, terpasang sebuah plakat dari Kedutaan Besar Perancis.

”Aux pays poivres et detrempes”, begitu tertulis di plakat yang dipasang Duta Besar Perancis untuk RI Thierry de Beauce, 6 Mei 1997, itu. Lebih kurang terjemahan bebasnya berbunyi, ”Di negeri yang banyak lada dan beriklim basah (hujan)”. Kota Salatiga memang sejuk karena berada di kaki Gunung Merbabu.

Dalam plakat itu juga ditulis dalam bahasa Perancis dan Indonesia, ”Penyair besar Perancis Arthur Rimbaud (1854-1876) pernah berdiam di Salatiga tanggal 2-15 Agustus 1876”.

Kolonel (Purn) Jean Rocher, mantan Atase Pertahanan Kedubes Perancis untuk RI, dalam perbincangan pada Mei lalu di Semarang menuturkan, kutipan dalam plakat itu merupakan satu kalimat yang dihasilkan Rimbaud selama dia berada di Salatiga meskipun puisi secara keseluruhan ditulis sekembali dia ke Eropa.

Arthur Rimbaud dinilai sebagai penyair besar karena karya-karyanya, seperti ”Illuminations”, dinilai memberikan pengaruh pada kesusastraan modern. Oleh beberapa penyair Perancis, ia dijuluki sebagai ”Shakespeare semasa kanak-kanak”.

Bernard Dorleans dalam bukunya, Orang Indonesia dan Orang Perancis dari Abad XVI sampai dengan Abad XX, menuturkan, pada tahun 1876 saat berusia 22 tahun, Rimbaud bergabung dalam legiun asing Eropa. Ia berangkat dari Den Helder, Belanda, menaiki kapal Prins van Oranje menuju Batavia (Jakarta), 10 Juni 1876. Ia lalu melanjutkan perjalanan ke Semarang.

Kemudian, ia bersama legiunnya naik kereta api dari Semarang menuju Stasiun Tuntang dan melanjutkan perjalanan berjalan kaki menuju Salatiga. Ia menghabiskan waktu dua pekan di kota ini sebelum akhirnya desersi dari pasukannya dan kembali ke Eropa.

”Kisah itu luar biasa dampaknya bagi Kota Salatiga. Bisa digunakan sebagai daya tarik wisata sebagai kota sejarah,” tutur Edy Supangkat, pemerhati sejarah Salatiga, yang juga penulis buku Salatiga Sketsa Kota Lama dan Galeria Salatiga.

Dia mengakui bahwa selama ini potensi sejarah Salatiga terkubur dalam-dalam. Tak banyak petugas di Pemerintah Kota Salatiga memahami sejarah kota. Padahal, kisah-kisah itu bakal laku dijual kepada wisatawan asing. Apalagi dengan ”jejak” keberadaan tokoh sekaliber Rimbaud.

Rosa Darwanti setelah mengetahui kisah Rimbaud juga menilai hal ini potensi luar biasa. Dia bahkan mengusulkan rumah dinas wali kota itu dijadikan museum. Apalagi, selama ini bangunan tersebut dinilai sudah kurang representatif sebagai rumah dinas kepala daerah. ”Di bagian belakangnya ada hotel yang tinggi, jadi bisa ’mengintip’ aktivitas di rumah dinas,” tuturnya.

Apa pun caranya, potensi Arthur Rimbaud yang sudah lama terkubur itu harus bisa digali agar memberikan manfaat pariwisata dan memperkaya khazanah kebudayaan di Salatiga.

(Antony Lee/Iwan Santosa)

3 thoughts on “Potensi Salatiga yang Terkubur…-Kompas

  1. wah bagus banget websitenya gan, semoga cagar budaya di salatiga tidak makin tergerus jaman… acung jempol untuk anda,karna tampaknya pemangku kekuasaan juga tidak begitu perduli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s