Hari Raya Pe Cun Penuh Berkah – Jurnal Bogor

Hari Raya Pe Cun Penuh Berkah

Jurnal Bogor, 29 May 2009 oleh jayadi
Rubrik: SURKEN TOWN

Bogor – Tradisi perayaan hari raya Pe Cun dirayakan setiap tanggal lima bulan lima (Gou-gueq Che-gou) menurut perhitungan Imlek (kalender lunar) masyarakat Tionghoa di Indonesia. Menurut kalender Masehi 2009, perayaan tersebut dirayakan tepat kemarin (28/9) dan dipusatkan di Vihara Dhanagun. Selama kurun waktu 30 tahun, perayaan ini terhenti di periode rezim Soeharto.
“Perayaan Pe Cun tahun ini adalah kali pertama yang diadakan setelah 30 tahun vakum. Tujuan kami agar tradisi ini selalu terpelihara dan generasi muda mengenal apa saja perayaan kaum tionghoa dan adat istiadatnya,” papar Hariyanto Oetama, ketua Indonesia Tionghoa Bogor kepada Jurnal Bogor kemarin.
Acara Pe Cun tahun ini disambut dengan baik oleh para umat. Terlihat dari antusias setiap umat yang datang untuk meramaikan acara tersebut. Mulai dari anak-anak hingga para lansia rela dijemur terik matahari demi mengikuti rangkaian demi rangkaian acara yang terangkum dalam tradisi Pe Cun.
Menurut Candra Kusuma, panitia acara Pe Cun, selain ada perayaan sesuai tradisi tempat masing-masing, di Bogor sendiri perlu diberikan adanya pemahaman apa itu perayaan Pe Cun dan tradisi yang mengikutinya. “Oleh karena itu, diadakanlah talk show yang diisi oleh David Kwa sebagai pengamat budaya Tionghoa peranakan di Indonesia agar umat diberikan satu pemahaman dalam perayaan Pe Cun ini,” jelasnya.
Setelah acara bincang-bincang dengan David Kwa, umat mengikuti acara sembayang Twan Yang yang dipimpin Komwil Matakin, Andri Harsono, dengan tenang dan khusyuk. Acara puncak yang ditunggu-tunggu umat adalah lomba mendirikan telur di halaman vihara. “Hari ini adalah hari dengan sinar matahari terbanyak dalam setahun. Dengan kata lain, gravitasi matahari denagn bumi sangat kuat, sehingga bisa mendirikan telur. Ini adalah bukti bahwa keajaiban di hari raya Pe Cun terjadi. Saya yakin, kalau mendirikan telur dihari lain selain waktu tiong-ngo (tepat pukul 12.00 siang pada hari Pe Cun) bakalan tidak bisa,” tegas Andri.
Tradisi yang dilakukan selama Pe Cun seharusnya adalah mandi di sungai atau kali. Mengingat kondisi air di sungai tidak memungkinkan, panitia memiliki ide dengan mengucurkan air tanah yang berasal dari sumur Dhanagun ke sebuah bambu yang di modifikasi menjadi sebuah pancuran agar semua umat yang datang bisa merasakan berkah dari air yang diambil pada saat Pe Cun. “Meskipun diadakan dengan cara sederhana, hal ini tidak menghilangkan makna dari Pe Cun sendiri karena yang terpenting adalah bagaimana tradisi ini dapat dipertahankan oleh para generasi muda. Semoga tahun depan bisa lebih baik dan bisa saja perayaan Pe Cun menjadi agenda pariwisata di Bogor yang menarik para turis lokal maupun asing,” harap Candra.

Sri Wahyuni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s