Menunggu Perubahan Wilayah Suryakencana, Jantung Kota yang Kumuh

Menunggu Perubahan Wilayah Suryakencana, Jantung Kota yang Kumuh

Jurnal Bogor, 11 May 2009 oleh jayadi
Rubrik: SURKEN TOWN

Bogor – Kebesaran nama Eyang Raden Suryakencana Winata Mangkubumi, pendiri tatar Sunda yang diabadikan sebagai nama jalan atau wilayah di Kota Bogor, rasanya sudah tak senafas lagi dengan kondisi yang saat ini ada di wilayah itu. Suryakencana, penjaga Gunung Gede, putra Pangeran Aria Wiratanudatar, yang menurut cerita dinikahkan ayahnya dengan salah satu putri dari bangsa jin, keharuman namanya hanya mampu diindetikkan dengan kondisi wilayah yang kumuh, jalan raya yang berlubang disana sini, kemacetan, persoalan parkir, PKL, perumahan dan pertokoan yang padat dan tak ketinggalan tumpukan sampah yang menebarkan bau busuk.

Bogor, kota yang dulu dikenal senyap dan sejuk, kini riuh dan jauh dari kesan sebagai tempat peristirahatan (buitenzorg). Suryakencana, sebagai salah satu penanda kota, sebuah jalan lurus di depan gerbang Kebun Raya Bogor, dulu bernama jalan Perniagaan. Di sepanjang tepi jalan itu hidup warga Tionghoa yang sudah menetap sejak jaman kolonial. Jalan ini juga merupakan akses termudah mencapai Jakarta melalui Puncak, sebelum Jalan Tol Jagorawi ada.

Sulit membayangkan, kawasan itu pernah menjadi pusat keramaian Bogor yang tertata indah seperti dikenang para penduduk Bogor dan orang-orang yang secara generasi ke generasi tinggal di wilayah tersebut. Sulit juga membayangkan masa keemasannya jika dilihat dari namanya yang menyiratkan kecemerlangan sebuah wilayah.

“Nama Suryakencana tidak sebanding lagi dengan kondisi Suryakencana saat ini. Banyak hal yang harus dibenahi, mulai dari keindahan, kebersihan, keamanan hingga kenyamanan,” tanggap David Kwa, pengamat kebudayaan Tionghoa.

Suryakencana masa kini adalah wilayah di tengah kota yang seolah jauh dari penanganan dan perhatian berbagai pihak. Hampir tak ada kesan yang nyaman dan menyenangkan.
Bangunan-bangunan khas arsitektur Indies, makin lapuk dimakan usia. Berbagai bangunan malah dibiarkan roboh dengan sendirinya, jika tidak, ya dirobohkan. Bangunan itu berganti menjadi bangunan baru yang justeru jauh dari kaidah penataan. Beberapa bangunan atau tanah lainnya malah dibiarkan kosong, atau tidak melanjutkan pembangunan, entah karena kehabisan modal atau persengketaan. Hanya burung walet yang menjadi saksi keriuhannya.

“Bangunan lama sangat potensial untuk memajukan daerah Suryakencana. Butuh perhatian dari segala pihak, pembangunan bangunan lama atau tanah kosong harus secara terpadu dan serius. Jangan ‘anget-anget tai ayam’. Tapi harus berkesinambungan. Kita harus belajar pada negara lain yang memiliki bangunan lama, seperti Malaka. Bagunan tua adalah aset yang kita miliki dan jangan disia-siakan,” ujar David.

Berjalan di sepanjang trotoar Suryakencana, para pejalan kaki harus memasang kewaspadaan, selain sulitnya berjalan kaki karena dihimpit oleh para pedagang kaki lima, juga karena banyak lubang yang menganga di sepanjang trotoar itu. Tak jarang lubang itu hanya ditutup sebilah kayu atau hanya dihalangi pot tanaman yang sudah berubah menjadi tong sampah. Dalam lubang itu, genangan air berwarna hitam pekat bercampur sampah-sampah plastik yang sulit terurai.

Buruknya kondisi Suryakencana tidak berhenti sampai disana. Jalan-jalan aspal di Suryakencana sudah mengelupas dan kesannya hanya tinggal tumpukan bebatuan saja. Tengok saja di jalur Lawangsaketeng hingga Pasar Cunpok. Sementara di jalan raya Suryakencana, jalan yang bergelombang dan berlubang digenangi air yang acapkali menjadi faktor penambah kemacetan. Genangan air itu tak hanya berasal dari air hujan. Di pinggiran trotoar, air menyusup melalui lubang dan retakan trotoar lalu mengalir ke badan jalan, entah dari selokan atau saluran air.

Sempit, becek, padat dan situasi bising menyergap wilayah ini. Kendaraan yang tengah melintas berebut tempat dengan kendaraan yang parkir di sisi-sisi jalan Suryakencana. Tak ada tempat parkir yang layak di sekitar Suryakencana. Karenanya, masalah kemacetan menambah benang kusut Suryakencana.

“Alasan kemacetan adalah para PKL yang membiarkan sampah berserakan di jalan sehingga butuh waktu untuk membersihkan jalanan tersebut. Alasan kedua adalah adanya tanda dilarang stop untuk semua kendaraan, tapi mereka tidak mengindahkannya,” jelas R Ahmad Mulyadi, Kasi Pengendalian dan Ketertiban Dishub kota Bogor.

Daerah Suryakencana merupakan daerah yang memberi pendapatan retribusi tinggi. Meski begitu, Sujatmiko, Kepala UPTD Parkir Kota Bogor tidak menyetujui kalau ruas jalan Suryakencana dijadikan lahan parkir. “Karena efek jera kurang, seharusnya ada kenaikan tarif parkir yang signifikan. Untuk ke depannya seharusnya tidak ada lagi tempat parkir di daerah ruas jalan Suryakencana. Solusinya, daerah eks Gedung Dalam dibangun gedung parkir bertingkat,” tambah Sujatmiko.

Di malam hari, kondisi Suryakencana tidaklah membaik. Para pedagang sayur tumpah ruah di Jalan Suryakencana, Juanda hingga tanjakan Empang. Walhasil, timbunan sampah bertambah di berbagai titik. Tak hanya sampah sayuran, sisa peti kemas, karung dan plastik berserakan membanjiri wilayah Suryakencana.

Bekas balutan tali menumpuk di tiang-tiang dan pepohonan. Balutan tali-tali itu berasal dari para pedagang yang membuat tenda-tenda dagang, entah itu sayuran, makanan ataupun pedagang kaki lima. Belum lagi, spanduk dan baligo bekas kampanye atau promosi sebuah acara. Kesan kesemerawutan semakin mengalir bersama aliran listrik yang mereka gunakan, entah dari mana sumbernya. Namun yang pasti, instalasi listrik yang digunakan, mengandung resiko tinggi jika terjadi arus pendek di wilayah yang padat penduduk ini.

Bukan hanya itu. Jalan raya Suryakencana acapkali sering dijadikan sekelompok anak muda balap liar alias nge-trek. Kebisingannya sudah mengganggu kehidupan warga sekitar. “Selain Suryakencana, daerah Kampung Sawah dan Yasmin memang sering dijadikan areal balap liar. Hal itu tidak serta merta dibiarkan begitu saja. Kami selalu menindak tegas pelaku balap liar yang tertangkap tangan. Apabila pada waktu hujan dan sore hari jika hal itu dilakukan maka akan langsung kami tahan sebab dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas maupun terganggunya lalu lintas. Biasanya kami akan membuat perjanjian dengan mereka agar ada efek jera. Jika hal itu dilanggar maka kami tidak segan-segan menangkapnya,” jelas Ari Purwantono, Kasat Lantas Kota Bogor.

Kehidupan aman dan nyaman di Suryakencana memang dinanti banyak pihak. Warga sekitar mulai mengeluh adanya aksi balap liar yang ada di wilayah itu. Meski konon sudah ditindak, nyatanya aksi itu masih berlangsung hingga kini. Tak hanya itu, warga juga masih merasa ketakutan jika mengingat kondisi keamanan di wilayah Suryakencana yang dinilainya rawan. “Dulu, di Lawang Saketeng dan toko Sumber Fajar pernah terjadi perampokan dan pembunuhan. Kondisi ini masih menandakan bahwa wilayah Suryakencana membutuhkan perlindungan lebih dari pihak terkait. Apalagi kejadiannya baru-baru ini,” tutur Acep S, salah satu warga di Suryakencana.

Kejadian yang dimaksud warga adalah kasus perampokan yang terjadi pada bulan April 2007 yang menimpa Yani, warga Suryakencana. Wajar jika warga sekitar masih merasa ketakutan. Terlebih lampu-lampu penerangan jalan banyak pula yang sudah mati. Apalagi memasuki jalan Pedati dan Lawang Saketeng, kesan senyap dan mengerikan serta merta menyergap kehidupan di sekitar wilayah itu.

“Orang kita, mungkin masih bisa menerima keadaan tersebut. Namun belum tentu masyarakat di luar Bogor terbiasa dengan kondisi itu, apalagi turis asing. Mereka enggan untuk datang jika melihat keadaan Suryakencana sekarang. Bagaimana kita bisa baik di mata dunia jika kota kecil seperti Bogor saja sulit untuk pulih,” gugah David.

“Kami selalu berkordinasi kepada semua pihak demi terbentuknya Suryakencana yang lebih baik. Tinggal kepedulian diri masing-masing, misalkan tentang kebersihan di Surken demi hal positif untuk semua pihak,’ kilah Ahmad Mulyadi, Kasi Pengendalian dan Ketertiban Dishub Kota Bogor.

Suryakencana sesungguhnya daerah tambang emas bagi Kota Bogor jika dikelola dengan sungguh-sungguh. Ciri kota ideal sebetulnya masih sanggup disandang wilayah ini, kalau dikelola dengan serius. Ini harus segera dilakukan, kondisi yang ada akan segera mengancam hilangnya sebuah warisan budaya di kota tercinta ini, yang selama berabad-abad mewarnai dinamika kehidupan masyarakat kota Bogor.

“Suryakencana itu sebetulnya daerah yang beradab dan salah satu ciri kota maju karena ada keberagaman etnis dan mereka hidup berdampingan di dalamnya. Hal ini yang harus di pertahankan. Ciri lain kota ideal adalah adanya bangunan tua yang harusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya karena ada nilai sejarah yang belum tentu dimiliki oleh daerah lain,” bahas Dr Ernan Rustiandi, Direktur Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB.

Suryakencana juga disebut-sebut orang sebagai Kota Impian (Dream City) karena unsure sejarah yang terkandung di dalamnya. “Namun itu sangat bertolakbelakang dengan kenyataan yang ada. Nyatanya, transportasi masal tidak dapat mengurangi kemacetan. Kecuali kalau kita melakukan upaya efisien untuk hal itu. Juga dilakukan penghijauan yang sangat diperlukan untuk pedestrian agar tercipta kenyamanan para pejalan kaki,” tambah Ernan.

Sudah saatnya semua pihak, baik pengambil kebijakan maupun masyarakat bersama-sama mengupayakan terwujudnya suatu kawasan Pecinan yang moderen, namun tetap memiliki kekhasan budaya serta menjadi warisan budaya yang kita dapat banggakan. Jika tidak, Suryakencana sungguh hanya akan berhenti sebagai mimpi.

Rifky setiadi | Sri Wahyuni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s