Gado-gado Menteng – Koran Tempo

Gado-gado Menteng
Hilangnya sebuah kota taman warisan kolonial.

Menelusuri kawasan Menteng pada hari-hari ini membuat kita gregetan. Bangunan-bangunan tua khas kolonial Belanda itu semakin hari semakin hilang berganti menjadi bangunan modern dengan pagar tinggi yang angkuh. Beberapa bangunan tua bahkan terlihat merana karena tak dirawat pemiliknya. Sedangkan pada gedung yang lainnya tertera plang “Dijual” di depannya.

Bangunan khas bercorak Colonial Indische di Jalan Muhammad Yamin hingga perpotongan Jalan Lembang kini hanya tersisa empat gedung. Sisanya adalah bangunan berarsitektur modern. Kondisi agak mendingan terlihat di Jalan Lembang. Di kawasan itu hampir 70 persen rumah peninggalan Belanda terawat dengan baik. Hanya ada sedikit perubahan di sana-sini.

“Perubahan itu sifatnya perbaikan,” kata Suprapto, salah seorang penjaga rumah di Jalan Lembang. Kondisi Menteng sekarang tentu jauh berbeda dengan konsep awal pembangunan kawasan itu sebagai kota taman.

Menteng dibangun sebagai perumahan kalangan atas oleh perusahaan real estate Bouwmaatschappij N.V. de Bouwpleg. Perusahaan itu membeli lahan yang dikenal sebagai Niuew Gondangdia seluas 500 hektare. Pembangunan dimulai pada tahun 1911 dan dipimpin oleh arsitek P.A.J. Moojen.

Kota taman Menteng terdiri atas rumah induk di tengah kaveling dengan dikelilingi taman. Ada taman lingkungan (Taman Kudus, Taman Panarukan, Taman Kodok, dan lain-lain; taman kota (Taman Suropati, Taman Tugu Tani); Situ Lembang; dan lapangan sepak bola Menteng yang kini telah berubah menjadi Taman Menteng. Taman-taman itu dihubungkan oleh koridor pepohonan besar, jalur hijau jalan dengan pedestrian yang lebar, serta jalur biru bantaran kali yang saling sambung-menyambung tak terputus.

Sejarawan Adolf Heuken yang tinggal di Menteng mengatakan kini kawasan itu telah kehilangan jati dirinya sebagai kota taman. Heuken memberi julukan baru untuk Menteng: Kota Gado-ado. Arsitektur di kawasan itu kini campur aduk dengan berbagai arsitektur beraneka ragam. “Mewah tapi tanpa selera,” katanya.

Heuken, dalam buku Menteng, Kota Taman Pertama di Indonesia yang ditulis pada 2001, menyatakan bahwa pembangunan Menteng saat itu adalah pelecehan budaya kota karena telah merusak identitas kota dan suatu daerah kota yang khas. Bagaimana sekarang? “Semakin parah,” tutur Heuken.

Menurut dia, dari tahun ke tahun, keadaan bukannya semakin baik. Tahun 1970-an adalah periode awal kerusakan Menteng. Rumah-rumah baru, yang menurut Heuken sangat norak, mulai dibangun. Halaman depan dan belakang diisi dengan bangunan tambahan, sehingga ciri kota taman semakin rusak.

Meski gubernur telah mengeluarkan surat keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor DIV-6098/d/33/1975 tentang kawasan pemugaran Menteng, laju pembangunan rumah-rumah baru tak bisa terbendung. Menurut Heuken, pola penghancuran bangunan tua dimulai dengan menelantarkan, lalu membiarkan pintu dan jendela serta kusen dicuri. Lantaran rumah dinilai sudah agak rusak, bagian belakang pun dibongkar. “Pada suatu hari, bangunan utama ambruk dengan sendirinya,” katanya.

Peraturan Daerah Nomor 9/1999 tentang pelestarian dan pemanfaatan lingkungan dan cagar budaya yang salah satunya untuk melindungi bangunan-bangunan di Menteng, menurut Heuken, juga tak bergigi. Menurut dia, tak ada pengawasan, pencegahan, dan hukuman terhadap pelaku pembongkaran rumah lama. “Kalau ada duit, semua masalah dibiarkan saja,” katanya.

Kepala Dinas Tata Ruang DKI Jakarta Wiriyatmoko mengatakan peruntukan untuk kawasan Menteng tetap tak berubah, yaitu sebagian besar untuk permukiman. “Jika ada perubahan fungsi, pengawasannya yang nggak benar,” ujarnya. Seharusnya Dinas Pengawasan dan Penataan Bangunan memahami daerah konservasi agar tak sembarangan mengeluarkan izin bangunan di kawasan tersebut.

Heuken sependapat. “Urban planning Jakarta tak pernah menyeluruh dan bersifat tambal sulam saja,” katanya. JULI | SOFIAN | FERY F

Rencana Awal Menteng

Perumahan Menteng dirancang dengan penggolongan beberapa kelas sesuai dengan rekomendasi BOW (Burgerlijke Openbare Werken = Dinas Pekerjaan Umum) kala itu. Kelas 1 sampai 3 dibangun di daerah inti dan diperuntukkan bagi para pejabat tinggi dan warga Eropa/Belanda kelas menengah atas.

Langgam bangunannya ada yang menamakan gaya masa peralihan (Overgangs periode) dari rumah Indis lama (Oud Indische Huis) yang berhalaman amat luas dengan serambi depan dan belakang selebar rumah, sampai ke gaya vila Eropa atau gaya modern yang sedang berlaku saat itu.

Perumahan elite di kelas ini ada di sepanjang jalan yang juga berklasifikasi tinggi dengan nama boulevard. Perumahan kelas 4 sampai 7 merupakan tipe yang terbanyak dibangun dan merupakan perumahan tempat berbaurnya orang Belanda dan kaum pribumi.

Perumahan kelas 6 dan 7 banyak dihuni para pegawai sehingga dikenal sebagai rumah dinas pegawai (Lands Woningen Voor Ambenaren). Umumnya, tipe bangunan kelas ini merupakan bangunan tidak bertingkat dan bisa berupa rumah gandeng (koppel).JULI|

Sumber: situs Dinas P2B

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s