Kusen Tua Rumah Bumi Sangkuriang Dilelang – detikBandung

Rabu, 25/03/2009 17:52 WIB

Kusen Tua Rumah Bumi Sangkuriang Dilelang

Andri Haryanto – detikBandung Bandung –

Lima belas bekas kusen Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang (BPBS) akan dilelang kepada umum. Pengelola bangunan itu mengaku alasan pelelangan karena kusen telah rusak. Alasan kedua, karena tidak sanggup membayar biaya perawatan bangunan yang termasuk bangunan cagar budaya itu.

Ditemui di Resto & Cafe Concordia BPBS, Jalan Kiputih, Ciumbuleuit, Bandung, Staff Operasioanal BPBS, Yudi Gumilar, mengatakan, pelelangan dikarenakan beberapa kusen yang menempel sekarang sudah tidak memungkinkan digunakan. Kusen yang dilelang terdiri dari 2 buah kusen di pintu masuk, 1 kusen di pintu tengah ruangan, 1 kusen jendela tangga lobby barat, 10 kusen jendela lobby utama. Bahan kusen itu terbuat dari kayu kamper. Sedangkan 1 kusen di lobby kotak berbahan kayu jati. “Kusen sudah terlihat tidak memungkinkan dipakai makanya diganti. Bentuk bangunan tidak dirubah,” kata Yudi

Pelelangan kusen bangunan milik Perkumpulan Bumi Sangkuriang itu, dikatakan Yudi merupakan inisiatif dari anggota perkumpulan BPBS. Anggota perkumpulan ini saat zaman Belanda adalah para pembesar Belanda. Saat Indonesia merdeka, perkumpulan ini berisi birokrat, artis, pengusaha, dokter dan lain-lain.

Lelang Kusen Tua Bangunan Heritage
Mahal, Rawat Bumi Sangkuriang
Andri Haryanto – detikBandung


Bandung – Pelelangan kusen di Bumi Sangkuriang tidak lepas dari mahalnya biaya perawatan bangunan yang berdiri tahun 1957 itu. Pengelola berharap ada peran pemerintah untuk menambal biaya perawatan.

Hal ini dikatakan oleh Staff Operasioanal BPBS, Yudi Gumilar, saat ditemui detikbandung, Rabu (25/3/2009). “Dananya untuk perawatan soalnya memelihara bangunan heritage itu sangat mahal biayanya,” kata Yudi.

Saat ini, imbuh Yudi, biaya perawatan dan juga beban pajak bangunan cagar budaya dibebankan sepenuhnya kepada pengelola. Ia berharap pemerintah memainkan perannya dalam pelestarian bangunan cagar budaya.

“Saya dengar ada subsidi untuk perawatan bangunan cagar budaya, tapi tetap saja beban pajak dan perawatan kita yang tanggung,” ujar Yudi.

Sekedar diketahui gedung anggun ini dibuat dengan desain gaya jengki hasil karya arsitek Belanda terkenal Ir. A.W. Gmeilig Meyling.

Di halaman belakang, bekas rumah tinggal administratur disulap menjadi guesthouse enam kamar. Bangunan ini tidak pernah diubah. Selain bentuknya, tegel dan mebelnya pun masih asli zaman Belanda.

Bangunan ini merupakan pengganti Societeit Concordia yang berubah menjadi Gedung Merdeka pada 1955. Preanger Planters (orang-orang Belanda yang tinggal di perkebunan) yang biasa berkumpul di Societeit Concordia beralih berkumpul di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s