Pesta Teng-Lo-Leng, Riwayatmu Kini-Jurnal Bogor

Pesta Teng-Lo-Leng, Riwayatmu Kini

Rifki Setiadi

Cheng Ge, salah satu hasil budaya yang sangat unik dalam perayaan Cap Go Meh di Bogor mati mengenaskan, Bahkan belum ada orang yang mengaku menemukan jasadnya, Pembunuhan pelan-pelan terhadapa hasil kebudayaan itu diakibatkan pelarangan dan diskriminasi yang tidak pemah jelas alasannya

Upaya merekonstruksi kesenian Cheng Ge bukan tak ingin dilakukan. Sejak aturan pelarangan itu, pupusnya budaya unik ini perlahan pergi bersama jasad para pelaku dan pembuat Cheng Ge yang tidak sempat atau bahkan mungkin tidak berani meregenerasikannya saat mereka masih hidup.
“Ketika budaya Tionghoa dilarang di Indonesia, banyak masyarakat Tionghoa yang tertekan dan mengalami auto amnesia. Auto amnesia adalah penyakit lupa akan sejarah masa lalunya. Sejak orang Tionghoa dikucilkan, banyak di antara kami yang mempersalahkan takdir. “Mengapa kami dilahirkan sebagai warga keturunan Tionghoa?’,” tutur David Kwa, Bagi para pemerhati kebudayaan Tionghoa. kematian Cheng Ge sangatlah disesalkan¬† dan tetap menjadi luka dalam yang memilukan. Meski begitu, penelusuran mengenai kesenian Cheng Ge yang hilang di Bogor, belum apa-apa. Bahkan tidak setipis kulit bawang sekalipun. Kita hanya mendengar kesenian itu kini hidup di Semarang dan Menado.

Beberapa kebudayaan unik di Bogor yang berhasil dipertahankan saat ini hanyalah Kie Lin. Itu pun dengan berbagai kerja keras yang harus ditempuh oleh para sesepuh Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih. Perguruan silat ini berkali-kali memindahkan Kie Lin agar bisa bertahan. Bahkan, Kie Lin di Bogor setidaknya sudah tiga kali dibuat, awal tahun 1950, 1954 yang saat itu dibuat dari bahan terpal, dan yang terbaru adalah Kie Lin yang saat ini ada dan bertahan di Kebon Jukut. “Awalnya kita simpan di Gedong Dalam, terus pernah dua tahun di Pulasara, sampai akhirnya kini di Kebon Jukut,” cerita Gunawan Rahardja, pimpinan PGB Bangau Putih yang merupakan putra Subur Rahardja atau Lim Sin Tjoei. Subur pada jamannya dikenal sebagai inohong yang sangat berwibawa dan begitu lekat dengan kehidupan sosial dan masyarakat di Bogor.

Menyambut Cap Go Meh, tahun 1954, Kie I Lin biasanya dipertontonkan seraya menghimpun dana. Usaha penghimpunan dana itu dilakukan untuk menyumbang berbagai panti sosial dan lembaga kemanusiaan di Bogor. Spanduk-spanduk Kie Lin dipasang di Jalan Perniagaan, kini dikenal sebagai Jalan Suryakencana. Suasana Capgomehan menjelang arak-arakan, saat itu hampir sama dengan suasana Idul Fitri. Orang-orang berpakaian baru dan rumah-rumah di sepanjang jalan Suryakencana dibersihkan oleh para pemiliknya. Warga yang satu dengan warga yang lain saling menghantarkan makanan dengan rantang

Kaum ibu warga Tionghoa saat itu sudah itu sudah mengenakan kebaya, pakaian khas Sunda. Kita kemudian mengenalnya sebagai kebaya encim. Produk budaya hasil akulturasi warga Tionghoa dengan kebudayaan Sunda itu kini jarang ditemukan dan dipakai.

Suasana kemeriahan Bogor dalam pesta Capgome – begitu orang menyebutnya saat itu, sudah dikenal meluas hingga seantero nusantara, bahkan Asia. Sebagai puncak keramaian, sejak dulu sudah ada pawai dengan musik yang saat itu akrab di telinga orang dengan bunyi “tet-tet-dur… tet-tet-dur”.
Selain Kie Lin PGB, di Bogor pada jaman itu juga sudah dikenal liong dari kelompok Chung Lien Hui, yang juga memainkan liong kecil oleh anak-anak. Juga permainan Samsi dari perkumpulan Yoh Fei.

Menggambarkan meriahnya Capgome, Kwee (1886-1951) menulis. “Di malam tjap-gomehan antero straat ada begitu padet dengan penonton, terkadang orang tidak bisa bertindak mundur, atawa maju, hingga keliatannya orang boleh berjalan menginjak itu kepala-kepala manusia yang begitu rapet zonder (tanpa) kuatir jato di tanah. Tjapgomeh di Buitenzorg (Bogor), Cianjur, dan Bandung pun teritung rame. Yang bikin itu pesta jadi rame yalah rombongan orang yang jalan plesiran dengan diiringi muziek, menyamar dengan rupa-rupa pakean, sambil berdansa dan tandak (menari) di sepanjang jalan”.

Perayaan Cap Go Meh di Bogor berbeda dengan perayaan yang ada di Batavia saat itu. Jika di Batavia atau Jakarta meriah pada hari-hari Sin Thjia, maka di Bogor perayaan diiakukan pada hari Goan Siao. Seminggu setelah itu keramaian pindah ke Sukabumi. Orang menyebutnya sebagai Pesta Teng-Lo-Leng. “Teng Lo Leng itu artinya lampion. Karena Cap Go Meh juga dikenal sebagai pesta lampion,” imbuh David.

Berbeda dengan daerah lainnya, Cap Go Meh di Bogor ramai hingga tengah malam.
Kebiasaan ini bertahan hingga kini. Selanjutnya, Kwee menulis, “Di sepanjang itu jalanan ada penuh dengan restaurant dan warung-warung makanan yang sebagian besar tinggal dipasang terus sedari Pasar Malem. Tradisi pasar malam itu, kini masih berlangsung di Pasar Bogor yang dilakukan oleh para pedagang sayuran yang tumpah ruah ke jalan Suryakencana. Kebiasaan berdagang hingga malam ini juga kemungkinan ditularkan oleh warga Tionghoa yang terkenal ulet dan pekerja keras dalam melakukan usaha. Tentu saja hal ini tidak hanya sekedar menggambarkan suasana meriah, namun juga kehidupan yang begitu lekat antara etnis Tionghoa dan etnis lainnya.

Bahkan, tradisi yang sejak dulu ada, seperti arak-arakan yang diikuti oleh demang-demang Buitenzorg yang mewakili etnis Sunda, noni-noni Belanda dengan pakaian khasnya, dan etnis Tionghoa yang berkostum unik Tionghoa, hingga kelompok militeryang menjadi peserta pawai, tetap hadir sebagai bagian dari perayaan yang tak bisa dipisahkan. Itulah sebabnya Cap Go Meh disebut-sebut tidak mengutamakan unsur ritual atau keagamaan. Tetapi lebih kepada sebuah festival budaya yang menggambarkan kebersamaan dan keberagaman warga Bogor.
Karenanya, setelah Cap Go Meh hidup kembali, perayaan ini juga dinamakan sebagai Bogor Street Festival. Sejarahnya sudah jelas. Lalu, mengapa harus menolak?*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s