Cap Go Meh Dynasti Han Dan Tradisi di Bogor

Cap Go Meh Dynasti Han Dan Tradisi di Bogor

Cap Go Meh sudah dimulai pada masa Dynasti Han (206–220). Kebiasaan menggantungkan lentera warna warni di atas pintu masuk, dilakukan pada zaman itu. Sejarah mencatat, pesta Goan Siao yang luar biasa adalah ketika Dynasti Ming di bawah pemerintahan Kaisar Thay Zu (1368 Masehi–1399 Masehi). Waktu itu terpasang sekitar tujuh ribu buah lentera. Istimewanya, lentera-lentera itu beraneka warna dan bentuk, dan dilepas di atas perairan sungai Yang-Tze.

Menciptakan suatu pemandangan yang fantastik dan menarik, sampai-sampai mereka mengatakan: ”Budha turun dari Nirwana untuk menyaksikan acara ini”. Pada masa Dinasti Tang menetapkan Hari Raya Cap Go Meh sebagai salah satu bagian dari Festival tiga purnama atau San Yuan Jie. Belakangan, Kaisar dari Dynasti Qing yang juga gemar berpesta pora, merayakan Goan Siao dengan istimewa.

Di kota raja ”Kota Terlarang Ungu”, Kebun Raya, Kuil, Jembatan, Mercu dan Gapura, pokoknya di semua tempat yang dapat dihiasi dengan lentera, pasti tidak terlewatkan. Semuanya ini diharapkan dapat menggembirakan hati rakyatnya.

Tradisi di Bogor
Perayaan Cap Go Meh di Bogor tempo doeloe tidak dirayakan tepat tanggal 15 (Capgo) sesuai namanya-namun pada tanggal 16 (Caplak), seperti juga Cap Go Meh di Tanah Abang, Paal Merah dan Jatinegara.

Seperti halnya di Jakarta sebelum dilarang menjelang akhir 1950-an, Cap Go Meh di Bogor sebenarnya telah menjadi pesta rakyat, ajang bertemunya berbagai kelompok etnik yang ada di kota hujan ini. Setelah sekian lama absen selama periode orde baru, seiring dengan bergulirnya reformasi perayaan kembali diadakan.

Walaupun atraksi Cap Go Meh telah kembali ke Kota Bogor, namun perayaannya tetap tidak sama, beberapa acara ditiadakan karena tidak ada penerusnya, seperti Wayang Potehi dan Ceng Ge yang kini kehilangan tempat di mata generasi muda. Untuk itulah salah satu kiprah untuk menanggulangi pengeroposan budaya dan melestarikannya adalah dengan lebih menghidupkan festival Cap Go Meh.

Dahulu di Bogor, khususnya Ho Tek Bio (sekarang Vihara Dhanagun-red) yang berdiri sejak 337 tahun lalu atau sejak tahun 1672 M, selalu menjadi pusat kegiatan acara ini. Pada setiap tanggal 15 bulan 1 Imlek, areal vihara dihias dengan lampion warna-warni.

Menurut penuturan para orang tua dulu, rute perjalanan Joli-Joli para Dewa-Dewi melintasi Istana Bogor atas permintaan Presiden RI pertama, Bung Karno. Tapi, sekarang ada ritual unik di Bogor, yakni arak arakan Cap Go Meh yang selalu diadakan saat malam hari. Hal ini yang membedakannya dengan acara serupa di tempat lain.

Selain itu biasanya pemuka dan pengurus Klenteng akan melakukan ”ritual tour” ke beberapa Klenteng historik di Bogor pada malam Cia Gwee dan malam Cap Go Meh, yang dimulai dari Hok Tek Bio atau Vihara Dhanagun bergerak mengunjungi Klenteng Pan Koh di Belong serta Klenteng Kwan Im di Jalan Siliwangi yang merupakan klenteng-klenteng karuhun masyarakat Tionghoa Bogor.

Uniknya lagi, dalam Cap Go Meh tampilnya lentera terpanjang dalam bentuk seekor Liong sepanjang 50 meter yang merupakan hadiah dari warga Tionghoa keturunan yang turut merasa memiliki dan peduli akan kotanya tercinta, Bogor.

Tradisi perayaan yang dilakukan oleh para keturunan Tionghoa untuk memperingati Cap Go Meh di Bogor merupakan perayaan yang tanpa pandang bulu, karena seluruh masyarakat dapat turut serta dalam acara tahunan ini.

Bahakan, untuk menambah semangat multikultural yang terkandung didalamnyam maka kesenian yang ditampilkan pun kini semakin beragam, yakni dengan diramaikannya berbagai kesenian daerah dan komunitas-komunitas yang tumbuh dan berkembang di kota Bogor.

Dengan demikian semakin mengukuhkan kerukunan dan kedamaian antar etnik serta lintas agama yang terjalin di kota Bogor sebab Cap Go Meh menjadi pesta semua bukan milik golongan atau kelompok tertentu dan wajar bila dimasa mendatang Cap Go Meh menjadi ikon kota Bogor sehingga menjadi agenda tahun wisata Kota Bogor.***

Sumber : Media Kit,
Panita Cap Go Meh 2009

Puluhan Warga Tionghoa Kesurupan Dipotong Lidahnya

Bogornews—Puluhan warga Tionghoa kesurupan saat melakukan ritual potong lidah atau tangsing, yang digelar di Vihara Dhanagun Bogor. Minggu (8/2) siang, Upacara ritual potong lidah yang dilakukan oleh warga Tionghoa menjelang perayaan Cap Go Meh, yang akan digelar Senin (9/2) sore nanti.

Dalam ritual tersebut diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh spiritual dengan diiringi lantunan musik tradisional. Secara bergantian peserta ritual potong lidah maju ke meja yang diatasnya terdapat pisau, golok, jarum, dan senjata tajam lain.

Setelah itu para peserta lantas menyayat lidahnya hingga mengeluarkan darah. Darah yang keluar lantas diambil dan gunakan untuk menulis doa di atas kertas pemujaan. Selain memotong lidah, pemangku upacara juga menusuk pipi dan mulutnya dengan jarum besar dan memukuli tubuhnya dengan bola jarum.

Pelaksanaan ritual potong lidah yang digelar pukul 14.00 siang berjalan lancar, dan para peserta yang kesurupan dengan cepat berhasil disadarkan. Sedangkan luka bekas sayatan di lidah diobati dengan menggunakan berbagai macam obat-obatan dan makanan seperti telur, jeruk nipis, jagung, dan bawang putih.

Menurut panitia Cap Go Meh Vihara Dhanagun, Beny Suryajaya, tangsin merupakan salah satu ritual menjelang Cap Go Meh, dengan tujuan meminta keberkahan dari para dewa agar pelaksanaan puncak Cap Go Meh di tahun kerbau ini berjalan lancar. “Cap Go Meh adalah hari ke-15 dan hari terakhir perayaan Imlek, “ katanya. (iso/bil)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s