Potehi, Naik Daun tetapi Minim Generasi – Kompas.com

Potehi, Naik Daun tetapi Minim Generasi

Inggried Dwi Wedhaswary
Para pengunjung Mal Ciputra, Jakarta Barat tengah menyaksikan pertunjukan Wayang Potehi, Selasa (5/2)
Senin, 26 Januari 2009 | 09:29 WIB

Sambil duduk di belakang panggung, Slamet Sirat (50) terlihat bahagia meskipun keringat masih mengucur akibat panasnya cahaya lampu dan sempitnya ruang ketika beraksi. Ketika itu, dirinya baru saja memainkan wayang potehi dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2560.
Meskipun hanya berdurasi 20 menit, pementasan tersebut sangat memberi pengaruh kepada perkembangan wayang potehi sendiri. “Baru tahun 2001, potehi mulai dipentaskan dan kini bisa dilihat wayang potehi bebas dipentaskan termasuk di mal,” kata Slamet ketika ditemui usai pentas di Mal Taman Anggrek Jakarta, Minggu (25/1).

Slamet mengungkapkan, sejak Sekolah Menengah Pertama ia belajar bermain wayang potehi. Aktivitas itu sudah menjadi menu sehari-hari. Mulai dari mengenal tokoh, musik yang menjadi pengiring hingga tata cara pementasan.

Kini, setelah lebih dari 30 tahun bergelut dengan wayang potehi, tawaran pentas sering diterimanya. Bahkan tidak jarang, keluar dari daerah tempat tinggal asalnya, Surabaya.

Mementaskan potehi ternyata tidak hanya seorang dalang, tetapi ada empat orang lain yang memiliki peran masing – masing. Dalang (Sehu) sebagai pemeran utama akan dibantu asisten dalang (jie Jiaw). Asisten ini bertugas menyiapkan dan merapikan wayang yang digunakan oleh dalang.

Tiga lainnya bertugas memainkan alat musik untuk mengiringi pementasan yakni, pemegang tambur (dongku), kecer (tuabak) dan kenong (tuatu). “Kalau seperti ini pementasan akan meriah, karna ada interaksi yang saling melengkapi,” lanjutnya.

Bapak dengan dua anak ini, sangat optimistis dengan perkembangan wayang potehi sekarang ini. Apalagi di tempat asalnya, pementasan potehi dipentaskan setiap hari.

Namun, meski mulai marak, generasi penerus pegiat wayang potehi masih sangat menyedihkan. Sangat sulit untuk mengajak para anak muda tekun mempelajarinya. Kebanyakan mereka berhenti di tengah jalan atau hilang begitu saja. “Mungkin orang akan berpikir tentang masa depan. Sebab, menjadi dalang wayang potehi belum menjanjikan, ” ungkapnya.

Maka dari itu, belajar wayang potehi harus dibarengi mental yang kuat untuk tidak sekadar mengejar materi . Selain itu, masa belajar yang menyita waktu mengharuskan seseorang memiliki kesabaran tinggi.

Untuk dasar saja, seseorang butuh satu tahun. Empat tahun selanjutnya baru belajar mengenai penokohan, cerita, hingga hubungan antara musik dan permainan wayang saat pementasan.

“Idealnya lima tahun baru bisa menguasai. Seni itu memang mahal dan banyak hal yang harus kita korbankan untuk perjuangan mengenalkan kesenian wayang potehi,” tambahnya.

Slamet bertekad terus mementaskan dan mengenalkan kebudayaan Tionghoa kepada masyarakat. Saat ini bersama 17 rekannya yang tergabung dalam grup Lima Merpati, terus berusaha mengenalkan wayang potehi baik melalui pementasan dan pelatihan. Tidak saja kepada generasi muda, tetapi semua masyarakat yang ingin mempelajari kebudayaan tua Tionghoa ini yang mulai kehilangan generasi penerusnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s