Bukan Hari Raya Imlek – Suara Pembaruan 2008

SUARA PEMBARUAN DAILY
Bukan Hari Raya Imlek

Selamat Tahun Baru Imlek. Itu ucapan yang benar. Selamat Hari Raya Imlek, itu salah kaprah, yang hingga kini masih sering muncul. Imlek, menurut David Kwa, pemerhati budaya Tionghoa, bermakna kalender.

Jadi Selamat Hari Raya Imlek, bisa bermakna Selamat Hari Raya Kalender Tionghoa.

Jangan lupa, leluhur Tionghoa sejak ribuan lalu sudah memiliki sistem penanggalan sendiri. Jauh lebih tua daripada sistem penanggalan Masehi.

Tanggal 7 Februari 2008 adalah hari pertama kalender Tionghoa. Coba perhatikan kalender yang beredar. Pada 7 Februari itu tahun penanggalan Tionghoa adalah 2559. Angka tahun itu secara tidak langsung menggambarkan usia peradaban bangsa Tionghoa.

Tetapi, soalnya kali ini bukan soal usia penanggalan. Kali ini soal salah kaprah penyebutan.

Itu yang membuat gundah David Kwa menjelang Tahun Baru Imlek. “Masih terus terjadi salah paham soal Imlek. Banyak yang tidak tahu beda Tahun Baru Imlek dengan Hari Raya Imlek,” katanya.

Kegundahan David juga menyambar banyak kalangan yang secara sederhana sering disebut orang Tionghoa. Indradi dan Suma Mihardja, misalnya. Mereka mengaku prihatin bukan hanya soal salah paham tentang Imlek itu. Mereka gundah menyaksikam banyak keramaian menjelang Imlek yang menurut mereka bisa mengganggu makna Imlek. Lampion, huruf-huruf Cina dalam ukuran besar, orang-orang berpakaian Tionghoa, ternyata tidak membuat mereka bahagia.

Dalam pandangan kedua orang yang banyak terlibat dalam kampanye antidiskriminasi terhadap warga Tionghoa itu, kemeriahan Imlek bisa jadi mengundang masalah lain. Masalah salah paham berikutnya.

Kedunya mengingatkan warga Tionghoa betapa praktik diskriminatif dari sisi peraturan memang sudah bisa dikatakan usai. Beberapa aturan hukum yang selama ini menyakitkan warga Tionghoa sudah menghilang. Dari tataran hukum, perlindungan terhadap warga Tionghoa bisa dikatakan sudah semakin kuat.

Bahwa di beberapa tempat di Indonesia warga Tionghoa masih kesulitan mendapatkan kartu tanda penduduk (KTP) dan paspor, itu juga diakui keduanya.

“Saya juga masih menerima pengaduan dan informasi mengenai praktik diskriminasi terhadap warga Tionghoa. Soal KTP dan paspor, misalnya. Tapi khusus soal pengurusan paspor bisa jadi disebabkan permainan biro-biro jasa pengurusan paspor. Petugas imigrasi sekarang sudah tidak mensyaratkan pengurusan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia, Red) dalam pengurusan paspor,” kata Indradi.

Lalu, soal apa yang mengundang keresahan kedua orang itu? Ya, soal kemeriahan menjelang Tahun Baru Imlek itu. Berlebihan. Dan itulah yang kita saksikan hari-hari menjelang pergantian tahun menurut kalender Tionghoa.

Pusat-pusat keramaian mengemas berbagai keramaian khusus bernuansakan Tionghoa, dari mulai penampilan barongsai hingga bagi-bagi hadiah.

Singkat cerita, kemeriahan dan pesta yang dikedepankan. Padahal, kenyataan membuktikan betapa salah satu persoalan besar bangsa ini ialah prasangka. Prasangka bahwa semua warga Tionghoa adalah “binatang ekonomi” yang secara ekonomi jauh lebih baik daripada warga Indonesia lainnya.

Soal ini sudah menjadi bahan perdebatan panjang di negeri ini. Pro dan kontra sudah lama berlangsung. “Kenyataannya tidak semua orang Tionghoa itu makmur,” kata Indradi.

Mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara Jakarta itu berulang kali mengingatkan prasangka antaretnis bukan perkara sepele. Persoalan prasangka itu tidak bisa diselesaikan dengan keterlibatan pemerintah semata.

Dalam konteks kebangsaan, semua warga negara harus terlibat mengikis habis prasangka itu. Jika tidak, sila ketiga Pancasila, hanya tinggal slogan.

Bibit perpecahan bangsa bukan tidak mungkin akan muncul jika warga Tionghoa terlalu jor-joran merayakan Imlek. Prasangka yang menyebutkan semua warga Tionghoa adalah kaya dan kekayaannya diperoleh tidak dengan cara yang benar, akan bertemu.

Introspeksi

“Imlek bagi saya, adalah saat yang tepat untuk melakukan introspeksi,” Suma menegaskan.

Dari David Kwa, muncul penjelasan yang bikin benderang. Pertama, soal penyebutan Imlek. Kamis 7 Februari ini adalah hari pertama dalam kalender Tionghoa yang menurut David menggunakan pedoman peredaran bulan. Saat-saat menjelang pergantian tahun, para leluhur Tionghoa sering melakukan acara bersih-bersih rumah. Jendela dan pintu harus dibuka. Tradisi lainnya ialah mengecat rumah.

Warga Tionghoa juga dilarang tidur. Dewa Rezeki tidak akan datang ke rumah yang pintunya tertutup rapat dan penghuninya tidur.

Soalnya ternyata tidak berhenti di situ. Di balik tradisi ribuan tahun itu tersimpan ajaran luhur. Soalnya bukan melulu menahan kantuk di malam pergantian tahun. Tradisi itu mengajak warga Tionghoa melakukan introspeksi.

Pada saat yang sama, semua warga mengucapkan syukur atas keberhasilan yang diperoleh pada setahun terakhir. Bagi mereka yang peruntungannya kurang baik di tahun sebelumnya, juga bisa berdoa agar peruntungan di tahun mendatang akan lebih baik lagi. Jangan lupakan shio yang selalu berubah setiap tahunnya. “Kalau shio di tahun sebelumnya tidak membawa keberuntungan, semoga saja di tahun berikutnya peruntungan datang,” masih kata David.

Soal yang erat kaitannya dengan Imlek, David dengan santai menjelaskan bahwa makna kata “Gongxi Facai” yang sering muncul di mana-mana dalam dialek Mandarin bermakna selamat menjadi kaya. Istilah yang bernuansa materialistis itu berasal dari Hong Kong yang belakangan populer di Indonesia.

Di masa lalu dan hingga kini, sebagian kecil warga Tionghoa masih menggunakan ucapan “Sin Chun Kiong Hie, Tiam Thiam Siu”. Artinya, selamat tahun baru dan panjang umur.

Soal mengapa istilah Gongxi Facai yang lebih populer bisa jadi diakibatkan banyak faktor. Pertama, ketidakmengertian. Kedua, bisa jadi karena orang sekarang memang ingin terus lebih kaya.

“Yang pasti, mereka yang menjual Imlek dengan berbagai acara yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan makna Imlek, yang pasti akan terus bertambah kaya. Mereka akan menangguk banyak keuntungan dari masyarakat kita, bukan hanya Tionghoa. Sekarang soalnya kembali pada keinginan semua pihak untuk memaknai Imlek. Bukankah setiap tahun baru dalam sistem penanggalan apa pun punya makna spiritual dan filosofi yang baik?” Suma menegaskan. [SP/Aa Sudirman]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s