Menginventarisasi Gedung Bersejarah

Menginventarisasi Gedung Besejarah- Pikiran Rakyat

SEBAGAI salah satu pusat pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1870-1881, Kota Bogor memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Setelah pekan lalu ditemukan buker, para peneliti budayawan mulai angkat bicara. Menurut para pakar, Kota Bogor memang terkenal sebagai daerah peninggalan Kerajaan Padjadjaran. Maka, tak heran jika di kota ini sering ditemukan benda-benda sejarah. Selayaknya, Kota Bogor menjadi daerah yang dilindungi sebagai cagar budaya.

Berbicara mengenai cagar budaya, Kota Bogor memiliki nilai sejarah dan bisa masuk ke dalam cagar budaya. Berdasarkan penelitian pada bulan Mei 2007, tercatat 564 bangunan yang masuk ke dalam kategori benda tak bergerak. Bangunan tersebut tersebar di 103 ruas jalan di Kota Bogor. Dari 564 bangunan tersebut, 300 di antaranya masih bagus dan berkembang, namun sisanya sudah hancur karena tidak dilestarikan.

Dari 300 bangunan ini terbagi menjadi empat kajian. Pertama bangunan utuh dan terpelihara, contoh autentiknya adalah Istana Bogor. Selanjutnya, aspek bangunan utuh dan mengalami perubahan. Ketiga bangunan masih utuh dan tidak terpelihara dan keempat adalah bangunan lama yang ciri-ciri khasnya sudah hilang.

Dari beberapa aspek tersebut, pengamat budaya Kota Bogor mengatakan bahwa pada zaman Belanda tersebut, Kota Bogor merupakan salah satu kota yang banyak membangun kantor-kantor. Sampai saat ini, jelas ada bangunan yang masih utuh dan masuk kepada cagar budaya yang harus diperhatikan dan dilestarikan. Bangunan tua yang masih utuh di Kota Bogor adalah Kantor Penelitian Bioteknologi Perkebunan di Jalan Taman Kencana Bogor. “Jelas sangat indah bangunannya. Batu-batu nampak menghiasi bagian luar. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Bogor. Ciri indice-nya masih terlihat,” ujar pengamat budaya Kota Bogor, Rachmat Iskandar saat ditemui di Balai Kota Bogor, Jumat (28/11) siang.

Masih banyak bangunan lain yang masih nampak bagus terlihat. Di Museum Zoologi misalnya, bangunan cagar budaya itu masuk ke bangunan utuh dan terpelihara. Daerah Sempur, Taman Kencana, dan Jalan Riau juga terdapat bangunan-bangunan yang masih utuh hasil peninggalan Belanda.

Adalah Thomas Karsten, sang arsitek planolog asal Belanda yang merancang bangunan di Kota Bogor pada tahun 1924-1930. “Dia orang pertama yang merancang tata letak bangunan di Kota Bogor yang sampai sekarang bisa kita lihat. Ini merupakan sejarah yang harus tetap kita lestarikan,” kata Rachmat.

Memang, seiring dengan perkembangan zaman, beberapa bangunan hasil karya Karsten sudah punah dan hancur. Dulu di daerah Empang, Kota Bogor, terdapat bangunan hotel bernama Belleveu, namun karena kurang dipelihara akhirnya bangunan tersebut hancur. Kini lokasi tersebut dijadikan salah satu tempat perbelanjaan. Tak hanya itu, beberapa ciri khas di Jalan Surya Kencana juga pudar karena adanya pelebaran jalan. “Seharusnya masalah cagar budaya itu harus tetap kita lestarikan. Itu merupakan bagian dari sejarah,” tambah Rachmat.

Terbitkan perda

Benda Cagar Budaya (BCB) di daerah seharusnya tetap dilestarikan karena menyimpan nilai-nilai historis yang perlu diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya. Dari kacamata sejarah, BCB merupakan aset budaya daerah yang tak boleh dihancurkan atas nama kepentingan apa pun. Oleh karena itu, seharusnya dilindungi dengan peraturan daerah (perda). Kalau belum ada perda yang melindungi BCB, DPRD seharusnya segera membuatnya.

Di era otonomi, setiap pemerintah daerah memiliki wewenang melakukan pembangunan di segala bidang, demi kemajuan daerah. Dalam konteks ini, peluang untuk melenyapkan BCB sangat terbuka lebar bagi setiap pemerintah daerah, karena arsitektur BCB umumnya sudah kuno alias ketinggalan zaman.

Dalam praktiknya, lenyapnya BCB dapat menghapus ingatan dan pengetahuan sejarah yang terkait dengan kepentingan pembangunan di bidang humaniora dalam arti luas. Dengan kata lain, kalau terlanjur dilenyapkan oleh generasi sekarang, maka generasi berikutnya tidak lagi bisa mewarisi nilai-nilai artistik yang umumnya bersifat falsafiah luhur yang terdapat pada BCB tersebut.

BCB merupakan peninggalan sejarah yang punya nilai arsitektur tinggi sehingga harus dilestarikan. Namun sayangnya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui dan mengenal pentingnya BCB. “Bahkan banyak yang menganggap BCB itu barang baru, padahal merupakan peninggalan dengan nilai arsitektur tinggi,” tutur Rachmat. (PK-5)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s