Eksotisme dan Sejarah Tionghoa di Glodok

KOMPAS/PRIYOMBODO
Beberapa anak tampak bermain di meriam kuno di Taman Fatahillah Jakarta. Setiap akhir pekan kawasan Taman Fatahillah-yang sekitarnya terdapat beberapa museum- ramai dikunjungi warga dan pelajar.
Senin, 8 Desember 2008 | 17:57 WIB

Pesona dunia timur daratan Tiongkok masih dapat dinikmati di pecinan Glodok-Pancoran yang merupakan museum hidup salah satu komunitas tertua di Jakarta. Glodok-Pancoran dan kawasan sekitar adalah Tang Ren Jie atau pecinan yang menjadi urat nadi perekonomian Jakarta, bahkan di Indonesia hingga dekade 1990-an.

Pelbagai grosir besar hingga pedagang eceran dapat ditemui di kawasan yang membentang hingga wilayah Pinangsia (dahulu Financieren, pusat keuangan-Red) di timur, Perniagaan, Pasar Pagi, Asemka, dan Bandengan (dahulu Bacheragracht-Red) di utara.

Secara fisik, tidak banyak bangunan berlanggam Tionghoa tersisa di jalan utama Glodok- Pancoran. Akan tetapi, masyarakat yang menghuni adalah keturunan pemukim Tionghoa yang tinggal selepas Perang China (1740-1743) di Jawa.

Pemerintah Verenigde Oost Indie Compagnie (VOC) sengaja membangun hunian baru di Glodok-Pancoran yang berada di luar benteng Belanda tetapi masih di dalam jangkauan tembakan meriam mereka. Strategi itu diterapkan demi alasan keamanan para kolonis Belanda dan warga penghuni benteng pasca- Perang China yang diawali dengan pembantaian
10.000 orang Tionghoa di dalam Benteng Batavia, Oktober 1740. Selanjutnya, daerah hunian baru itu menjadi pusat bisnis dan ekonomi di Nusantara hingga kini.

Memasuki kawasan tersebut di Jalan Pancoran, puluhan toko obat tradisional Tionghoa berjajar di rumah toko di kedua sisi jalan. Iskandar, pemilik toko Bintang Semesta atau Beng Seng (Mandarin: Ming Xing), mengatakan, toko obat yang ada di tempat itu dimiliki secara turun-temurun lebih dari empat generasi.

Obat-obatan yang diramu dari tumbuhan, hewan, serangga, cacing, dan rendaman arak dapat dibeli di sini. Para sinse atau tai fu (dokter Tionghoa) juga menyediakan jasa memeriksa parapasien yang datang. Pengunjung yang datang juga tidak melulu orang Tionghoa, tetapi juga suku bangsa lain banyak yang berobat atau sekadar membeli ramuan untuk perawatan kesehatan di Pancoran.

Bahkan, pada masa lalu, ada pertunjukan silat oleh para penjual koyo di jalanan Pancoran. Tian Li Tang, seorang sesepuh warga yang juga keluarga pemilik Toko Tian Liong, mengenang, para pedagang koyo selalu dikerumuni penonton saat mempertunjukkan kebolehan ilmu kungfu. “Sehabis pertunjukan mereka menjual koyo kepada para penonton.
Sayang sekarang tradisi seperti itu sudah tidak ada lagi. Padahal, di negara lain itu menjadi atraksi wisata,” katanya.

Artis Hongkong dan Kapten Westerling

Makanan Tionghoa yang eksotis, seperti belut, ular kobra, bulus, dan ramuan ayam arak ataupun sup ayam dengan campuran seperti ginseng juga dapat dinikmati di sekitar Gang Gloria dan Pertokoan Chandra. Restoran tempo doeloe, seperti Siaw A Tjiap dan Wong Fu Kie, juga masih berjualan, seperti pada masa prakemerdekaan Indonesia.

Di sudut Gang Gloria, di sebuah pusat jajan, terdapat kedai Tay Loo Tien yang kesohor dengan nasi goreng ham yang khas sejak zaman Kolonial Belanda. Adapun pusat jajan di Pertokoan Chandra memiliki penataan ruang seperti food court di Singapura dan Malaysia.

Tian Li Tang mengatakan, sejumlah artis Hongkong pada tahun 1980-an menjadi pelanggan pelbagai restoran di Glodok-Pancoran. “Kapten Westerling pada zaman revolusi juga suka jajan di daerah ini,” kata Li Tang, merujuk pada sosok “The Turk” Raymond Westerling, komandan pasukan khusus Komando Speciale Troepen (KST) yang dulu membuat teror di Sulawesi Selatan semasa perjuangan 1945-1949.

Minuman sehat, seperti susu kacang dan cincau hijau ataupun cincau hitam serta sari tebu, dengan mudah dapat dibeli di restoran ataupun di pinggir jalan. Satu gelas minuman segar harganya Rp 2.000 hingga Rp 5.000.

Di kawasan sama terdapat puluhan pedagang kudapan khas Tiongkok. Manisan plum, buah semboi (kiambwee-Red), jeruk mandarin, aneka gula-gula, dan pelbagai jajanan eksotis dapat diperoleh di ujung Jalan Pancoran, dekat sudut Jalan Toko Tiga Seberang. Manisan dijual dengan ukuran berat satu ons.

Selepas jembatan ke arah barat laut di Jalan Pintu Kecil, terdapat belasan pedagang buku Tionghoa. Banyak buku Tionghoa kuno-yang diburu kolektor yang datang dari mancanegara-dijual di kios pinggir jalan tersebut.

Pernak-pernik barang khas Tiongkok dapat dicari di Gang Kali Mati di sebelah Toko Tian Liong. Belasan ahli feng shui (geomancy) juga menyediakan jasa di gang tersebut. Bahkan, mereka lengkap dengan menyediakan dagangan perlengkapan untuk sembahyang.

Minyak wangi impor dengan harga murah dapat dibeli di pertokoan di Jalan Petak Sembilan. Para importir minyak wangi di Jakarta memulai bisnisnya di kawasan ini.

Harga jual minyak wangi bisa lebih murah Rp 100.000 hingga Rp 150.000 jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan yang rata-rata menjual parfum berkelas pada kisaran harga Rp 400.000 hingga Rp 750.000 untuk ukuran botol isi 100 mililiter.

Berbelanja perabot rumah tangga dapat dilakukan di Jalan Pintu Besar Selatan. Toko perabot di sini sebagian besar merupakan warga Konghu Kayu yang merupakan keturunan migran dari Provinsi Guangdong. Mereka disebut sebagai kelompok Konghu Kayu karena memiliki keahlian di bidang pertukangan kayu. Selain mereka, terdapat pula kelompok Konghu Batu yang dikenal ahli dalam bidang bangunan dan Konghu Besi yang ahli dalam permesinan.

Kelompok lain yang dominan adalah Hokkian yang aktif dalam perdagangan. Sedangkan kelompok Hing Hwa memiliki spesialisasi di bidang sepeda dan sepeda motor. Mereka adalah kelompok yang dominan di Glodok-Pancoran.

Dari penjara ke pertokoan

Kawasan bekas Penjara Glodok yang angker kini berubah menjadi pusat perdagangan elektronik. Lokasi ini berada di seberang Glodok-Pancoran di kawasan Harco. Sebelum terjadi kerusuhan Mei 1998, kawasan ini menjadi pusat belanja elektronik bagi wisatawan Jepang, Taiwan, dan Hongkong. Jacky, Wakil Ketua Paguyuban Kota Tua, mengatakan, sejak pecah kerusuhan, situasi perdagangan elektronik belum pulih. “Pedagang kaki lima merajalela. Turis juga belum kembali berbelanja di sini,” ujarnya.

Adapun produk perlengkapan rumah tangga dan bangunan dapat dibeli di Pinangsia. Selain wisata belanja, pecinan Glodok-Pancoran juga merupakan situs sejarah awal mula Kota Jakarta. Setelah Tionghoa bermukim dan membangun bisnis, serta perkebunan tebu, Batavia mulai berkembang pesat.

Bahkan, pada akhir abad ke-17 hingga ke-18, penduduk Tionghoa sempat mencapai 35 persen dari seluruh warga Batavia. Sayang, pelbagai bangunan tua, kuil, rumah abu, dan perkumpulan puak tidak mendapat perhatian layak dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Tahun Kunjungan Wisata Indonesia. (Iwan Santosa)

Sumber : Kompas Cetak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s