Bangunan Tua, di Kota Tua

BAYU G. MURTI

Gereja Zebaoth, salah satu bangunan tua yang masih kokoh berdiri hingga kini. FOTO : BAYU G. MURTI

By: F.S Putri Cantika (Uthie)

Kecewa dan prihatin, adalah segelintir rasa yang tersirat ketika romantisme dan kekinian Kota Bogor disuguhkan bersamaan. Bogor dalam ingatan, selalu membawa keindahan yang tak pernah terelakkan. Landscape yang menawan, bangunan-bangunan yang eksotis dengan nuansa kenyamanan yang tak terbeli seakan-akan membawa kita untuk terus memejam dalam nostalgi, menikmati keindahan kota tanpa masalah yang kini memaksa penghuninya untuk berpikir keras membenahi lagi kotanya.

Dengan sebutan Buitenzorg yang melegenda, Bogor pernah menjadi magnet bagi para penguasa hingga peneliti untuk sekedar singgah di tanah yang pernah disebutkan sebagai Surga ini. Reputasinya sebagai tempat peristirahatan dan pusat penelitian masih tersisa di sudut-sudut kota yang kian kehilangan arah.

Berawal dari kekaguman Van Imhoff terhadap Kampoeng Baru yang dikembangkan Tanuwijaya, mendorongnya untuk membangun sebuah rumah peristirahatan tingkat tiga, dilengkapi dengan sebuah kebun besar pada 1744-1750. Bangunan inipun didisain sangat mirip dengan Blehheim Palace, kediaman Duke Malborough, yang juga lahir sebagai embrio perkembangan Kota Bogor.

Tempat peristirahatan ini kemudian menjadi poros perkembangan kota, mulai dari pusat pemerintahan, hunian dan perniagaan.Tak heran berbagai bangunan tua peninggalan kolonial masih tersebar di sepanjang wilayah penyangga kawasan Istana dan Kebun Raya Bogor ini. Bangunan-bangunan lawas juga akan kita temui di beberapa wilayah pemukiman, seperti Taman Kencana, Sempur, Pasir Kuda, Merdeka, Semeru, Surya Kencana dan Empang.

Namun perlu kita cermati bersama, bahwa kita tidak boleh terjebak dan harus dapat memisahkan definisi ”bangunan yang tua” dan bangunan tua yang termasuk ”benda cagar budaya”. Menurut UU cagar budaya, bangunan tua yang termasuk benda cagar budaya harus berusia sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun dan harus dianggap memiliki nilai sejarah, pengetahuan, serta budaya. Dengan demikian, selain melihat penampilannya, kita juga harus melakukan kajian terhadap bangunan yang akan di tetapkan sebagai benda cagar budaya.

Banyak yang tidak menyadari akan pentingnya pelestarian bangunan tua, terlebih lagi dengan munculnya berbagai isu-isu global seperti perubahan iklim dan krisis global yang seolah-olah memaksa kita untuk memprioritaskan hal lainnya dibandingkan dengan pelestarian bangunan tua sebagai cagar budaya. Kebijakan pemerintah daerah seakan tidak memprioritaskan pelestarian cagar budaya. Mengapa pelestarian cagar budaya yang berhasil di negara-negara lainnya, biasanya dilakukan oleh kelompok-kelompok grass root? Perlu kita pahami bersama bahwa benda cagar budaya merupakan salah satu identitas dan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga perlindungan benda cagar budaya bertujuan melestarikan dan memanfaatkannya untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional.

Betapapun Bogor kaya akan bangunan tua dan tempat-tempat bersejarah yang merupakan salah satu produk bendawi cagar budaya (tangible cultural heritage) yang harus dilestarikan. Sungguh disayangkan kekayaan cagar budaya ini tidak membuat para penentu kebijakan tertarik untuk segera melakukan perlindungan dan pelestarian terhadap sekian banyak benda cagar budaya yang dimiliki Bogor. Padahal bangunan tua merupakan aset kebudayaan dan pariwisata yang jika dikelola dengan benar, akan menarik begitu banyak wisatawan domestik maupun mancanegara.

Siapa yang mengira, dari 878 cagar budaya dunia (world heritage), Kebun Raya Bogor yang melegenda tidak tercantum di dalamnya. Sebanyak 600 benda cagar budaya yang pernah teridentifikasi di Kota Bogor, hanya 20 bangunan yang dilindungi oleh Undang undang. Sedangkan bangunan lainnya terus beralih fungsi, bahkan terancam dibongkar dan hilang. Sementara itu, Undang-undang tentang cagar budaya hanya memasukkan tentang kewajiban dan sanksi, tanpa ada pengaturan lebih lanjut terkait pelestariannya. Mestinya pemerintah daerah melakukan satu manuver melalui peraturan yang sifatnya mengikat.

Banyak bangunan cagar budaya yang kini beralih fungsi bahkan hilang dan berubah menjadi bangunan kegiatan ekonomi. Sebut saja Societet yang berganti menjadi perkantoran bank, dan Hotel Bellevue yang kini berubah wujud menjadi Bogor Trade Mall. Beberapa bangunan masih berusaha mempertahankan komponen-komponen yang tersisa, dan berdiri apa adanya, seperti Masjid Raya Empang, dan kediaman Wiranata. Bahkan beberapa bangunan ada yang berupaya mempertahankan dirinya tanpa menjadi apapun, dan terkesan terbengkalai, seperti Hotel Pasar Baroe.

Beberapa bangunan tua cagar budaya memang masih dimiliki secara pribadi, namun negara memiliki kewajiban untuk membantu pengelolaan dan pelestarian bangunan cagar budaya tersebut. Tingginya biaya perawatan bangunan tua, dengan pajak bumi dan bangunan yang mencapai puluhan juta rupiah per tahunnya juga menjadi salah satu kendala pelestarian bangunan tua. Akibatnya, banyak sekali pemilik bangunan tua yang menjual rumah mereka. UU pun tidak cukup efektif untuk memupuk kepedulian masyarakat, pun tidak ada aturan yang mengikat, yang melarang pemiliknya untuk menjual dan merombak. Semoga poin-poin yang harus diatur dalam undang-undang ini masuk dalam rencana revisi UU cagar budaya seperti yang pernah dikatakan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir. Jero Wacik, SE saat penutupan Kongres Kebudayaan Indonesia 2008, 12 Desember lalu. Harapannya adalah UU cagar budaya yang baru nanti memang betul-betul dapat ”melindungi” cagar budaya, baik yang bendawi maupun yang non bendawi.

Kekhawatiran akan terus muncul dan bertambah besar, bahwa kita akan kehilangan identitas kita, seiring dengan hilangnya heritage building yang dimiliki Kota ini. Akankah bangunan tua tidak dapat bertahan di tengah arus modernisasi yang menggerus nilai-nilai dengan kepentingan?

Kini deretan bangunan tua kita harus memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat perkotaan. Bangunan-bangunan lawas tersebut kini menjadi apapun yang dibutuhkan kotanya. Bahkan beberapa di antaranya telah hilang demi kepentingan ekonomi dan trend pembangunan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s