Berpeluh dan Berdebu di Suryakencana – Kompas

Berpeluh dan Berdebu di Suryakencana

Minggu, 4 Mei 2008

Ninuk Mardiana Pambudy

Belum lama, 30 tahun lalu, Bogor masih kota sejuk dan tenang. Berjalan kaki masih menjadi pengalaman yang memanjakan indra dengan pohon kenari di sepanjang jalan, sementara pemandangan ke arah Gunung Gede dan Pangrango menjadi sesuatu yang terberi.

Kota ini akan senyap pada pukul tujuh malam saat kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) di Jalan Pajajaran, Baranangsiang, di Jalan Gunung Gede, dan di Taman Kencana mengistirahatkan aktivitasnya.

Kehadiran lebih dari 4.000 mahasiswa di ketiga kampus itu memberi kehidupan pada Bogor. Bangunan kampus Baranangsiang yang berseberangan dengan Kebun Raya Bogor menjadi salah satu penanda Bogor setelah Indonesia merdeka, cantik dengan halaman rumput luas menghadap ke Jalan Pajajaran.

Penanda kota lain selain Kebun Raya, Istana Bogor, dan Museum Zoologi adalah Jalan Suryakencana yang tegak lurus dengan pintu masuk utama Kebun Raya. Pusat kegiatan lain berada di sekitar Jembatan Merah dan Pasar Anyar di bagian barat kota, bersebelahan dengan stasiun kereta api yang tiap hari membawa penumpang dari Bogor ke Jakarta.

Jalan Suryakencana adalah pusat keramaian Bogor. Bukan hanya karena di sepanjang tepi jalan itu bertempat tinggal dan berdagang warga Tionghoa sejak zaman kolonial, juga karena jalan itu adalah akses termudah mencapai Bandung dari Jakarta melalui Puncak sebelum ada Jalan Tol Jagorawi.

”Kalau mau ke Puncak, dulu melalui Jalan Suryakencana. Di sana pusat keramaian kota, ramai dalam arti Bogor yang sepi, lho,” kenang Kismono (65), mantan dosen di Fakultas Peternakan IPB dan kini pengajar program D-3 IPB. Kismono datang ke Bogor pada tahun 1961 sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan IPB yang ketika itu masih di bawah Universitas Indonesia.

Jejak perubahan

Itu dulu. Setelah Jalan Tol Jagorawi memudahkan akses Jakarta-Bogor, Bogor tumbuh cepat. Sayangnya, nasibnya sama seperti banyak kota di Indonesia: tumbuh kurang terencana.

Sebagai kota, usia Bogor sangat tua. Secara resmi kota ini menyebut hari lahirnya 3 Juni 1482, dihitung dari saat penobatan Raja Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran. Kampung yang sudah ada saat itu, antara lain Baranangsiang, Lawanggintung, dan Lawang Seketeng. Tempat tersebut berada tidak jauh dari Jalan Batutulis, diambil dari nama Prasasti Batu Tulis yang mencatat nama-nama kampung itu dan Pakuan sebagai ibu kota, dengan Lawanggintung dan Lawang Seketeng bersisian dengan Jalan Suryakencana.

Melihat Jalan Suryakencana sekarang, sulit membayangkan kawasan itu pernah jadi pusat keramaian Bogor seperti dikenang penduduk Bogor dan orang-orang yang tiga generasi tinggal di jalan tersebut maupun dari namanya yang menyiratkan kecemerlangan.

Menuju ke Suryakencana melalui Jalan Juanda di depan Kebun Raya adalah upaya melelahkan karena angkot berhenti di sembarang tempat. Berjalan di trotoar Suryakencana mesti berhati-hati karena tidak rata dan banyak lubang. Belum lagi pedagang buah dan makanan memenuhi kaki lima. Sampah berserakan dan lubang-lubang di tepi jalan berisi air menghitam pada Minggu (27/4) siang. Angkot membuat macet jalan tiga lajur itu dengan berhenti sesukanya.

Deretan rumah toko (ruko) tiga atau empat lantai berdiri rapat di sisi-sisi jalan sebagian besar tutup pada hari Minggu, seperti pada masa lalu yang menyenangkan, meskipun di tempat lain di Kota Bogor toko dan mal tidak mengenal hari libur.

Sebagian kecil dari ruko itu tidak lagi berfungsi. ”Yang punya pindah ke (perumahan) Vila Duta,” kata Ny Yung Hidayat (77). Dia bersama suaminya (almarhum) memiliki usaha jasa foto Puncak Photo Studio setelah mengambil oper bisnis itu dari kerabat yang mendirikan bisnis itu tahun 1941.

Ny Yung mengenang Suryakencana yang bersih dengan delman dan sepeda sebagai alat transportasi serta penerangan jalan masih memakai tiang bambu. ”Atap rumah masih dari daun kelapa,” papar dia tentang masa mudanya. ”Sekarang ngebul (berdebu), berisik, macet.”

Orang dari Jakarta yang mampir di Bogor pada tahun 1970-an pasti masih mengingat toko roti Tan Ek Tjoan yang kini sudah pindah tempat, sedangkan orang Bogor banyak yang bangga bisa belanja kebutuhan rumah tangga di Ngesti yang berdiri sejak 1953.

Dua Toko Ngesti berada bersisian dengan dipisahkan Jalan Ranggagading, sedang satu toko lagi ada di Jalan Pajajaran. ”Ngesti berasal dari nama ibu saya. Tiga anak lelakinya masing-masing dikasih satu toko,” papar Hindarto (59). Dia bersama istrinya mengelola toko Ngesti di sisi kiri gang dan tinggal bersama Ny Ngesti (80) yang masih tampak bugar.

”Kami mempertahankan harga murah dan melayani pelanggan. Barang dipilih yang paling dibutuhkan sehari-hari dan selengkap mungkin. Seperti (toko) swalayan, tetapi enggak besar. Jadi, hemat waktu belanja,” kata Ny Hindarto yang ikut menunggui toko bersama suaminya.

Di situ dijual bakso sampai kutang dan celana dalam, ada gula sampai seragam sekolah, ada kopi dan aneka kue kering sampai tas merek Elizabeth buatan Bandung, kosmetik, jamu dan suplemen makanan, lengkap dengan tawaran diskon untuk sejumlah barang.

Jejak kejayaan Suryakencana juga bisa dilihat pada toko roti Singapore yang berdiri pada awal 1980-an. Saat itu, Singapore Bakery memberi warna modern pada Suryakencana dengan rak kaca berisi roti jenis baru untuk saat itu di Bogor, seperti roti sosis dan long john yang tidak lain roti panjang berlapis coklat dan kepingan kacang tanah.

Meja dan kursi saling berpunggungan untuk menjaga privasi pengunjung. Kini, toko itu menjadi toko roti dan swalayan dan hampir separuh meja pajangnya kosong pada Minggu (27/4) siang.

Di luar Suryakencana, toko roti dan kue Bogor Permai di Jalan Jenderal Sudirman yang berdiri tahun 1962 masih bertahan sebagai tempat mencari oleh-oleh. Toko itu mempertahankan kemasan dari kotak anyaman bambu dengan alas daun pisang selain buka sejak pagi hari untuk orang yang ingin sarapan.

Di depannya ada rumah makan Yun Sin yang kini bernama Sahabat. ”Baksonya enak sekali,” kata Kismono.

Terus berubah

Meskipun daerah tua Bogor tampak tertatih-tatih dibandingkan daerah-daerah baru yang terus berkembang di pinggiran kota, tetapi bukan berarti tak ada gerak di sana.

Bila Puncak Photo Studio kini dikelola Chendra Hidayat (53), anak tertua Ny Yung, maka Ngesti mulai beralih ke generasi ketiga. Anak pasangan Hindarto yang lulus sekolah bisnis di Australia tengah mengembangkan usaha kopi bubuk Nikmat kemasan sekali pakai.

”Kopi kami sangrai dan giling sendiri mulai tahun lalu dan pemasaran baru di Bogor,” papar Hindarto.

Sejak dua tahun lalu ada rumah makan Mie Sehat di Suryakencana yang menjual mi dari campuran bayam, wortel, atau bit tanpa pengawet dan penyedap rasa untuk orang yang semakin sadar kesehatan.

Pedagang makanan di emperan kini jadi daya tarik Suryakencana. Soto Kuning Pak Jusup sampai sore tak kekurangan pembeli, sementara Atmaja yang berjualan di depan Mie Sehat bisa menjual 600 buah combro dan misro sehari, seharga Rp 1.500 per buah. Di dekatnya ada gerobak menjual aneka pepes, dari ikan nila, teri, jamur, tahu, oncom, peda, sampai pisang sagu. Orang pun masih rela antre menunggu kursi atau makan di mobil sambil berpeluh.

”Saya masih ke sana cari martabak bangka atau beli buah karena harganya lebih murah dari supermarket,” kata Kismono.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s