Wisata Heritage, Cara Kota Bogor Datangkan 5 Juta Wisatawan-kompas.com

Wisata Heritage, Cara Kota Bogor Datangkan 5 Juta Wisatawan
Senin, 20 April 2015 | 12:28 WIB

BOGOR, KOMPAS.com – Tahun 2015, Kota Bogor meningkatkan potensi wisata heritage dan wisata taman untuk menarik kunjungan wisatawan. Seperti yang diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Bogor Shahlan Rasyidi, Kota Bogor akan memperkenalkan pariwisata berbasis heritage.

“Wisata heritage akan kita jual. Namun heritage bukan hanya sekadar bangunan cagar budaya yang mempunyai nilai sejarah. Heritage juga termasuk seni dan budaya. Contohnya ada seni jaipongan, wayang golek, dan seni budaya lain,” ujarnya kepada KompasTravel di Bogor, Minggu (19/4/2015).

Oleh karena itu, Shahlan mengungkapkan akan meningkatkan infrastruktur pada obyek wisata heritage di Kota Bogor seperti Kawasan Pecinan, Istana Bogor dan Museum Zoologi. “Kita akan rapikan pedestrian. Fasilitas informasi juga,” katanya.

Menurut data dari Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Bogor tahun 2014, 4.350.930 wisatawan telah mengunjungi Kota Bogor. Wisatawan domestik mendominasi sebanyak 4.180.650 dan sisanya 202.280 wisatawan mancanegara. “Tahun ini (2015) kita targetkan 5 juta wisatawan. Angka kenaikan sekitar 10 persen,” katanya.

Dengan target tersebut, Shahlan mengatakan telah memprogramkan sejumlah festival dengan tema heritage untuk menarik kunjungan wisatawan. Selain acara lomba lari yang melintasi kawasan heritage di Suryakencana, salah satu acara festival yang akan hadir di Kota Bogor adalah Festival Budaya Helaran. “Acara tersebut akan menampilkan pawai hasil kerajinan tangan, perkebunan, dan hasil usaha kecil menengah lain,” tuturnya.

Sejumlah objek wisata heritage di Kota Bogor pun tak kalah akan ia perkenalkan. Shahlan mengaku Kebun Raya Bogor dan Istana Kepresidenan menjadi dominasi kunjungan wisatawan. “Punden Berundak, Makam Raden Saleh, Prasasti Batutulis, dan tempat-tempat keramat lain bisa jadi pilihan,” ucapnya di sela-sela makan siang bersama KompasTravel di Bogor.

Kota Bogor merupakan salah satu alternatif pilihan destinasi wisata warga Jakarta dan menjadi magnet wisatawan untuk melepaskan penat. Wisatawan dapat menggunakan transportasi umum kereta rel listrik untuk mencapai Stasiun Bogor. Di dekat stasiun, terdapat obyek wisata yaitu Taman Kencana.

Penulis: Wahyu Adityo Prodjo
Editor: I Made Ashdiana

Tingkatkan Pariwisata, Ini Dia Strategi Wali Kota Bogor – kompas.com

Tingkatkan Pariwisata, Ini Dia Strategi Wali Kota Bogor

Senin, 20 April 2015 | 10:32 WIB

BOGOR, KOMPAS.com – Menjadi salah satu tujuan wisata warga Jakarta, Pemerintah Kota Bogor terus membenahi program pendukung pariwisata. Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto menargetkan pembenahan infrastruktur dapat selesai pada akhir masa jabatan.

“Pertama, kita selesaikan kemacetan. Pedestrian di Jalan Suryakencana juga kita tertibkan. Pedagang-pedagang akan direlokasi ke dalam pasar. Kebersihan pasar kita bina,” kata Bima Arya Sugiarto kepada KompasTravel di Bogor, Minggu (19/4/2015).

Oleh karena itu, salah satu strategi yang mendukung program pembenahan adalah dengan cara menggandeng perusahaan-perusahaan yang memiliki dana alokasi Corporate Social Responsibility (CSR). “Dengan dana CSR, Bogor dapat lebih hidup dan cantik. Kita ajak untuk membantu membenahi Bogor,” katanya.

Dengan demikian, Arya berharap kunjungan wisatawan dapat meningkat dan Bogor dapat terlepas dari julukan kota angkot. Selama ini, ia mengaku mengalami kesulitan untuk mengatasi kemacetan di Kota Bogor. “Kalau mau main ke Bogor, macet kan juga jadi gak enak,” ujarnya.

Strategi lain yang Arya lakukan adalah mencanangkan hari bebas kendaraan di Jalan Suryakancana. “Sebenarnya dengan adanya lomba lari Bogor Heritage Run, ke depannya harus bebas kendaraan. Jadi gak perlu lari di tengah kemacetan,” katanya

Mendapat kucuran dana dari pemerintah pusat sebesar Rp 5 miliar, Arya juga akan menggunakan untuk promosi pariwisata. Ia mengungkapkan penggunaan dana tersebut juga dialokasikan untuk pembenahan infrastruktur di titik-titik cagar budaya. “Kita buat gerbang. Pedestrian di sekitarnya pun kita rapikan. Supaya wisatawan nyaman,” tutupnya.

Bogor berlokasi 60 kilometer di selatan Kota Jakarta. Wisatawan dari Jakarta dapat menggunakan transportasi umum kereta api listrik menuju Stasiun Bogor. Dari Stasiun Bogor, wisatawan dapat menuju Taman Kencana untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan.

Penulis: Wahyu Adityo Prodjo
Editor: I Made Asdhiana

NOTE: memangnya warga suryakencana setuju? Dapet ide dari mana yah? Gerbang dari 2013 ga jalan, trotoar ? Sudah rusak lagi

Festival Tjap Go-Meh di Bogor

CGM – Bogor StreetFest
Cuplikan koran Sin Po mengenai acara ‪#‎capgomeh‬ ‪#‎bogor‬ tahun 1959.

Festival Tjap Go-Meh di Bogor
Orang Djakarta Tumplek ke Kota-Kalong

“Bogor mempunya tradisi tersendiri dlm perayaan festival Tjap Go-Meh dan untuk pertama kali dlm sejarah Lerotan2 Tjap Go-Meh di terima oleh Presiden Sukarno di Istana Bogor, Liong Hijau dari PPSMI Bogor mengamuk mengibas-ngibaskan kepala, mengerung-gerung, mengejar “Tjoe” (bola merah yg memancarkan api) di halaman Istana Bogor yg kemudian di susul tandu dimana di arak patung “Hok Tek Tjing Sien” melintas di depan Kepala Negara, Pejabat2 sipil dan militer”

Jakarta 23 Feb 1959 Sin Po.
Ini adalah puncak keramean dari tahun baru Tionghoa Di Indonesia.
Sejak pagi, bukan saja warga Tionghoa dari jakarta yg tumplek ke kota Kalong, bahkan dari Sukabumi, Parung, semplak, Tangerang berbondong2 datang untuk memeriahkan puncak dari perayaan taon baru Tionghoa.
Situasi di Klenteng Hok Tek sudah sibuk sedari malam sebelonnya untuk mempersiapkan Liong yg akan menuju Istana Bogor, pendatangpun tidak kalah sibuknya terdengar suara bambu yg di kocok mengiringi hujan gerimis agar keluar dari bumbungnya sebage jawaban “Hok Tek Tjing Sien” atas pertanyaan yg diajukan orang2 yg bersangkutan, apa itu soal peruntungan, perjodohan di tahun tsb atau permohonan obat2 untuk sembuhkan penyakit.

Arak2an di mulai.

Tepat setengah 6 sore pintu Klenteng di buka, berturut-turut berbagai barongsai keluar dari klenteng untuk membuka jalan Liong hijau dari PPSMI Bogor yang akan meliwati pecinan2 kota bogor menuju Istana Bogor di mana Presiden Sukarno dan pejabat2 sudah tida sabar menunggu yg tadi siangnya baru datang dari Jogja langsung tida di bandara Semplak yg di lanjutkan menuju Istana mengunakan Mobil

Dung….. tjeng…. tida pernah berhenti mengiringi 6 barongsai dan 1 buah Liong yg panjangnya 6 meter semua di arak oleh pemuda2 PPSMI
Keadaan kebon raya saat itu tenang dan sepi itu mendadak ramai di kunjungi orang. Presiden Sukarno saat itu mengenakan Jas coklat begitu riang mengikuti tarian barongsai dan liukan Liong PPSMI Bogor, juga 6 anak lelaki dan 8 anak prempuan di bawah 10 taon tida mau kalah memaenkan barongsai kecil ikut menari di depan Persiden dengan di iringin irama dung… tjeng… dung…tjeng….

Kira2 jam 7 malam sang Liong meninggalkan Istana untuk kembali via toko di kota bogor banyak pula toko yg sudah siapkan Ampauw buat Liong PPSMI dari itu lerotan toko2 di Bogor, di samping itu ada pula toko yg memasang tulisan “tidak menerima permainan” di muka tokonya.

https://groups.yahoo.com/neo/groups/budaya_tionghua/conversations/topics/48911

Rumah Sang Mayor dari Tahun Kelinci Api-kompas.com

Rumah Sang Mayor dari Tahun Kelinci Api

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Senin, 16 Februari 2015 | 13:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pada salah satu panel lukisan yang menghiasi dinding Gedung Candra Naya tertulis kalimat beraksara Tiongkok yang artinya kurang lebih: ”Pada Tahun Kelinci di pertengahan bulan musim gugur dicatat kata-kata ini”. Dari tulisan dan ornamen itu, diyakini gedung ini dibangun pada Tahun Kelinci Api yang jatuh pada tahun 1807 atau tahun 1867.
Karena tanpa kepastian angka tahun pembangunan (Mandarin: Nien Hao), kompleks bangunan di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Barat, itu tak bisa dipastikan kapan dibangun, apakah dibangun tahun 1807 atau pada tahun 1867.

Jika dibangun pada 1807, pendirinya adalah Khouw Tian Sek untuk menyambut kelahiran anaknya, Khouw Tjeng Tjoan, pada 1808. Jika dibangun pada 1867, yang membangun kompleks gedung ini adalah Khouw Tjeng Tjoan pada masa tuanya.

Khouw Tjeng Tjoan, seperti ditulis doktor arsitek cagar budaya, Naniek W Priyomarsono, dalam bukunya, Rumah Mayor China di Jakarta (Penerbit Subur, Jakarta, Juni 2008), mempunyai 14 istri dan 24 anak. Salah satu putranya adalah Khouw Kim An yang kemudian menjadi mayor di struktur Pemerintahan Kota Batavia.

Sejak Khouw Kim An menjadi mayor pada 1910, kompleks bangunan cagar budaya tersebut populer disebut sebagai ”Rumah Mayor China”.

Sejarawan Mona Lohanda yang dihubungi terpisah membenarkan, Khouw Kim An adalah mayor Tiongkok terakhir di Batavia. Dia menjabat mayor dua periode, yakni pada 1910-1918 dan 1927-1942. Mona menjelaskan, di era pemerintahan VOC (Vereenigde Osstindische Compagnie) dan Pemerintahan Hindia-Belanda, jabatan mayor dan kapitan adalah jabatan prestisius.

Seorang kapitan memimpin kelompok etnisnya di satu kampung yang jumlah warganya 1.000 orang. Para kapitan ini dipimpin seorang mayor.

”Para mayor ini mendapat hak menjual candu dari Pemerintah VOC,” papar Mona. Naniek menambahkan, rumah seorang kapitan berbeda dengan rumah seorang mayor. Selain ukuran ruang-ruang bangunannya lebih besar, ornamen di rumah mayor lebih rumit dan mewah, tak ubahnya kompleks rumah para bangsawan di daratan Tiongkok.

Candra Naya

Khouw Kim An mulai tinggal dan berkantor di kompleks gedung di Jalan Gajah Mada tersebut tahun 1934. Sebelumnya ia tinggal di Bogor.

Pria kelahiran Batavia, 5 Juni 1879, dan fasih berbahasa Belanda, ini tumbuh sebagai pengusaha, bankir, dan politisi. Ia menjadi salah satu pemegang saham Bataviaasche Bank.

Antara tahun 1910 dan 1930, Khouw Kim An menjadi Presiden Dewan China (Kong Kwan). Tahun 1921-1930 ia menjadi anggota Volksraad (DPR). Tahun 1928-1942, ia menjadi Pengurus Pusat Partai Chung Hwa Hui.

Setelah Jepang mendarat di Jawa pada 1942, Khouw Kim An ditawan. Ia meninggal di kamp konsentrasi pada 13 Februari 1945 dan dimakamkan di Jati Petamburan.

Minggu, 26 Januari 1946, setelah Perang Dunia II berakhir, didirikan Perkumpulan Sosial Sin Ming Hui (Perkumpulan Sinar Baru). Organisasi sosial ini menyewa rumah Khouw Kim An sebagai pusat kegiatannya. Tahun 1962, perkumpulan ini diubah namanya menjadi Perhimpunan Sosial Tjandra Naja. Sejak itulah gedung tersebut dikenal sebagai Gedung Candra Naya.

Satu bangunan hilang

Naniek menjelaskan, bagian depan Gedung Candra Naya digunakan sebagai tempat kerja atau kantor sang mayor, sedangkan bagian belakang, yaitu bangunan memanjang dua lantai dengan 17 pintu, menjadi bangunan tempat tinggal keluarga.

”Ketika saya mulai menyiapkan pemugaran Candra Naya tahun 1993, bangunan panjang tersebut sudah hilang. Semua kusen, pintu, dan jendela yang terbuat dari kayu hilang dijarah,” ungkap Naniek.

Saat Jakarta dilanda kerusuhan Mei 1998, ahli waris rumah tersebut kabur. Naniek dengan setia mengumpulkan dan menyimpan semua bagian bangunan asli, terutama yang terbuat dari kayu, di ruang bawah tanah gedung tersebut.

Ketika dipugar pada 2006-2008, di atas lahan seluas 2.441 meter persegi itu dibangun gedung apartemen, hotel, perdagangan, dan perkantoran. Namun, bangunan Gedung Candra Naya dipertahankan hingga saat ini.

”Saat direstorasi, kedua sayap bangunan dibongkar dan dibangun kembali agar kendaraan dan alat-alat berat bisa masuk,” tutur Naniek.

Kini, bagian depan rumah sang mayor menjadi bagian dari Hotel Novotel, sedangkan di bagian belakang, di bekas bangunan keluarga Khouw Kim An, berdiri gedung apartemen. Rancangan bangunan modern ini dibuat sedemikian rupa sehingga tak mengganggu bangunan asli.

Untuk menghidupkan kembali kenangan tentang rumah sang mayor, pengelola sering mengadakan acara bertema Jakarta tempo doeloe di sana. (WINDORO ADI)

Editor: Ana Shofiana Syatiri

Surya Kencana Kota Pusaka, Ahim: Benahi Dulu Sistem Transportasinya-heibogor.com

Surya Kencana Kota Pusaka, Ahim: Benahi Dulu Sistem Transportasinya
Minggu, 15 Februari 2015 09:25 WIB

Heibogor.com – Tokoh warga Tionghoa Kota Bogor Arifin Himawan menyarankan untuk membenahi kawasan Surya Kencana di beberapa sektor agar bisa dijadikan sebagai Kota Pusaka di Kota Bogor.

“Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan menata pedagang tumpah yang berdagang di Pasar Bogor. PD Pasar Pakuan harus bisa mengatur para pedagang agar berjualan di dalam pasar,” ungkapnya kepada heibogor.com,kemarin (Sabtu, 14/02/15).

Kedua, lanjutnya, benahi sektor transportasi, seperti trayek angkot yang boleh melewati kawasan Surya Kencana, sistem parkir dar sistem transportasi yang benar-benar sesuai untuk kawasan ini. “Seribu langkah ke depan bergantung pada dua langkah dasar ini,” ujarnya.

Ahim sapaan akrabnya menjelaskan, setelah dua langkah tersebut dilakukan, pemerintah dan DPRD Kota Bogor harus membenahi Peraturan Daerah (Perda) dan regulasi tentang cagar budaya.

Ia pun menuturkan, sampai saat ini belum ada Perda yang mengatur perlindungan bagi Benda Cagar Budaya (BCB).

Seharusnya, lanjutnya, ada kebijakan khusus untuk pemilik rumah-rumah tua, seperti keringanan dalam pembayaran PBB, pembayaran rekening listrik, PDAM, dan lainnya karena untuk merawat bagunan tua membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Sebagai pribadi, saya meminta agar bangunan-bangunan tua itu harus segera dipertahankan dan dilindungi oleh pemerintah. Saya melihat untuk pembangunan Kota Pusaka ini tidak hanya bergantung kepada dana APBD, tetapi juga bisa mengambil dari dana CSR,” pungkasnya.

Penulis: Reza Zurifwan
Editor: Hilda Ilhamil Arofah

Jangan Pergi Tan Ek Tjoan- portalkbr.com

Jangan Pergi Tan Ek Tjoan
Written By : Ade Irmansyah | 22 January 2015 | 08:04

KBR, Jakarta – Satu persatu, gerobak roti berwarna kuning muda dengan logo khasnya “koki tengah memanggang roti”, keluar dari pintu gerbang pabrik yang berada di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Para pedagang yang didominasi lelaki paruh baya itu mulai menggowes gerobaknya.

Aktivitas tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun. Tapi sayangnya, kegiatan itu akan lenyap. Ini karena toko roti Tan Ek Tjoan dijual oleh pemiliknya dan dipastikan bakal pindah ke Ciputat pada pertengahan bulan depan.

Muhammad Tobiin, Kepala Produksi Pabrik Roti Tan Ek Tjoan bercerita mengapa toko itu harus hengkang.

“Kita itu dapat teguran secara halus, teguran secara halus itu maksudnya seperti ini. Untuk industri sudah jelas tidak boleh menggunakan air tanah, selain itu untuk industri perpajakannya juga berbeda, terus untuk pemakaian listrik untuk industri juga dibedakan,” papar Tobiin.

“Selain itu yang paling krusial adalah saya itu sempat ditegur oleh BPOM terkait kelayakan tempat untuk produksi makanan. Kalau saya itu merombak total pabrik yang ada di Cikini ini, itu membutuhkan biaya yang sangat besar dibandingkan membuat pabrik yang baru itu,”

Tobiin juga mengatakan, saat ini kondisi toko roti di Ciputat sudah hampir rampung 100 persen. Kata dia, kepindahan itu bakal disertai dengan rencana Tan Ek Tjoan mengantongi sertifikat ISO pada 2017 yang selama ini sulit didapatkan.

“Kedepannya kan saya punya rencana untuk gimana cara Tan Ek Tjoan itu bisa diakui dalam arti kita bisa dapatkan sertifikat ISO. Langkah pertama supaya itu terjadi adalah soal kelayakan dari sisi tempat, terus dari sisi kelayakan, terus dari sisi human atau orangnya sendiri, terus dari sisi bahan baku dan lain sebagainya. Karena managemen menargetkan tahun 2017 atau 2018 sertifikat ISO itu bisa kita dapatkan. Nah kalau kita sudah pindah ke Ciputat otomatis langkahnya bisa lebih mudah ketimbang kita masih di sini.”

Menanggapi rencana kepindahan itu, Juru Bicara Pemprov DKI Jakarta, Eko Haryadi sama sekali tak mencegahnya. Ia justru mempersilakan. Sebab, sesuai aturan Undang-undang, pabrik dilarang berada di kawasan utama Ibu Kota karena akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Di mana pasokan air tanah yang kian menipis akan tersedot habis oleh pabrik-pabrik.

“Saya juga punya ikon Jakarta di Jakarta Selatan, Roti Lauw namanya, merknya masih ada dan mereka tetap ada berjualan. Tapi sekarang pabriknya di Pulogadung dan sudah bukan di Cipete. Jadi yang penting sekarang nama itu tidak hilang tapi bahwa ada kebijakan pabrik harus dipindahkan keluar kota ya memang harus diikuti.”

Buntut dari beleid ini pun sudah terlihat ketika pabrik roti Lauw yang sebelumnya berada di Cipete, Jakarta Selatan akhirnya dipindahkan ke kawasan Industri, Pulogadung beberapa tahun lalu.

Usia toko roti yang telah melegenda itu sudah 93 tahun. Pemiliknya adalah Tan Ek Tjoan, warga Tionghoa Bogor. Ia memberanikan diri membuka pabrik roti dengan merk namanya sendiri.

Dikatakan berani sebab saat itu pabrik roti sejenis hanya dimiliki atau dibuat oleh orang-orang Belanda. Dan, Tan Ek Tjoan adalah pelopor dari pabrik sejenis lainnya dengan citra rasa ala Belanda.

Bisa dikatakan, roti Tan Ek Tjoan menjadi simbol saksi sejarah perjalanan bangsa Indonesia dari zaman penjajahan Belanda hingga sekarang.

Tahu Tan Ek Tjoan akan lenyap dari Ibu Kota Jakarta, Sejarawan Betawi JJ Rizal geram. Kata dia, Pemprov DKI Jakarta sama saja dengan mengabaikan bahkan melanggar aturan tentang cagar budaya apabila membiarkan bangunan pabrik itu berubah bentuk sesuai amanat Undang-undang nomor 11 tahun 2010.

Kata dia, pemerintah DKI Jakarta semestinya memberikan perlakuan khusus kepada toko roti Tan Ek Tjoan agar tetap berada di Jakarta. Misalnya dengan memberi subsidi atau memberikan keringanan pajak lantaran sudah susah payah mempertahankan sejarah di era modern.

“Menurut saya, pemerintah DKI mampu memberikan subsidi yang berbeda dengan mengambil produk dari Tan En Tjoan untuk menjadi bagian dari kegiatan aktivitas mereka, sehingga terselamatkan dan tetap menjadi ikon. Ini merupakan kerugian bagi pemprov DKI Jakarta ketika ini pindah, ini kerugian terhadap situs sejarah sosial Jakarta,”.

Tapi sayang, Pemprov DKI Jakarta tutup telinga. Juru Bicara Pemprov Eko Haryadi mengatakan, pihaknya akan tetap berpegang pada aturan yang ada. Kata dia, kalau pun pemilik toko roti pindah, bangunan itu akan tetap ada.

“Kalau dia berupa cagar budaya berarti bangunannya hanya boleh direnovasi, tetapi fungsinya tidak boleh untuk sebuah pabrik. Kalau tidak salah dulu juga ada Sirup Talang Sari di Cikini, namun sekarang Cikini bukan tempat yang terpat lagi untuk sebuah Industri.”

“Yang pasti bahwa kalau itu Heritage itu harus dipertahankan, itu bunyi aturan. Jadi siapa pun nanti pemiliknya itu harus dipertahankan sebagai warisan Jakarta. Seperti SMA 3 itu kan tidak berubah, di Pojok Cikini itu juga ada Kantor Pos dan itu tidak berubah,”.

Namun pandangan berbeda dilontarkan JJ Rizal. Kata dia, Pemprov DKI Jakarta seharusnya tidak melihatnya sesempit itu. Sebagai peninggalan sejarah dan cagar budaya, aktivitas di Tan Ek Tjoan semestinya juga tidak boleh berhenti.

“Tan Ek Tjoan ini kan bagian dari situs warisan sejarah sosial masyarakat Jakarta. Tan Ek Tjoan sudah menjadi penanda, bukan hanya penanda lidah karena pembuka sejarah kuliner di Jakarta. Tapi juga dia penanda bagi masyarakat Jakarta sebagai masyarakat yang plural, artinya kita bisa menemukan aneka ragam etnik di dalam bentuk makanan.”