Mengingat Bogor Tempo Dulu yang Manusiawi-Kompas

Mengingat Bogor Tempo Dulu yang Manusiawi
Selasa, 24 Juni 2014 | 17:07 WIB

LEBIH dari 100 foto tua dan baru dipamerkan melalui ”Catatan Sejarah Kota Bogor dalam Foto”, di Lantai 3 Bogor Trade Mall, Senin (23/6/2014).

Ada foto yang menerangkan Stasiun Bogor dibangun pada 1872. Pembangunan itu untuk mempercepat lalu lintas barang dan manusia antara Buitenzorg (Bogor) dan Batavia (Jakarta) menggunakan kereta api, yang sebelumnya bergantung pada kereta kuda.

Foto lain bercerita, di depan Stasiun Bogor pada 1910, dibangun Taman Wilhelmina atau Taman Kebon Kembang. Pada 1970, sebagian kawasan diubah menjadi terminal angkutan kota.

Namun, usia terminal tidak bertahan lama. Taman Wilhelmina diubah menjadi Taman Topi yang sampai kini terdiri atas Taman Ade Irma Suryani dan Plaza Kapten Muslihat.

Jadi, sebelum Terminal Taman Topi ditutup, pengunjung yang naik kereta dapat turun di Stasiun Bogor kemudian menyeberang dan melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan kota. Inilah bukti bahwa sebelum diubah menjadi Taman Topi, sistem angkutan umum di Kota Bogor pernah terintegrasi.

Apalagi, di luar gerbang Stasiun Bogor, saat Terminal Taman Topi masih ada, juga ramai deretan delman, becak, dan bemo. Pengunjung bebas memilih menikmati Bogor dengan pelbagai sarana transportasi.

Kendali banjir

Foto lain bercerita bahwa, jauh sebelum ada Kanal Barat dan Kanal Timur di Jakarta, ada Kanal Selatan di Bogor. Belanda membangun Kanal Selatan yang notabene adalah sodetan Ciliwung-Cisadane pada 1854.

Saluran itu dulu disebut Westerlokkan atau Kanal Barat Ciliwung. Alirannya dari Empang melalui Paledang, Jembatan Merah, Ciwaringin, Jalan Sumeru, dan Cimanggu Barat. Di tempat terakhir itu, kanal bercabang ke kiri menuju Cilebut dan ke kanan ke Jalan RE Martadinata dan Jalan Ahmad Yani dan masuk lagi ke Ciliwung.

Dari foto terungkap bahwa sejak dulu pun Belanda memikirkan bagaimana Ciliwung diatur agar limpahan airnya tidak membanjiri Ibu Kota (Batavia atau Jakarta), dengan membagi debit air ke Cisadane yang bermuara di Tangerang.

Nah, saat Jakarta banjir tahun ini, didengungkan kembali proyek sodetan Ciliwung-Cisadane. Lho, bukankah Belanda sudah mewariskan Kanal Selatan yang kini tak terurus itu?

Foto lain bercerita keberadaan Witte Pall (tugu) yang dibangun pada 1839 untuk peringatan kembalinya Buitenzorg dari penguasaan Inggris ke Belanda.

Tugu itu dulunya berlambang Kerajaan Belanda dan berfungsi sebagai titik triangulasi primer. Penanda koordinat letak ketinggian Bogor dari permukaan air laut. Nah, koordinat itu diperlukan bagi pembuatan peta topografi yang mencakup lahan di Pulau Jawa.

Tugu itu dihancurkan pejuang Indonesia pada 1958. Senasib dengannya adalah kuburan Belanda (memento mori) yang kini menjadi Terminal Merdeka, Pasar Kebon Jahe, dan Pusat Grosir Bogor.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengakui, foto-foto yang dipamerkan amat penting untuk membuktikan sejarah Kota Bogor dalam perjalanan Republik Indonesia.

Sayang, kemauan untuk merekam perjalanan sejarah dalam dokumentasi tulisan dan foto masih lemah. ”Budaya kita itu kuat dalam penuturan, bukan dokumentasi, sehingga masa lalu mudah dilupakan,” katanya.

Pameran juga menunjukkan masih banyak bangunan bersejarah yang tersisa dan terpelihara sehingga patut dijaga. Lihatlah, pada masa lalu, Kota Bogor dinamai Buitenzorg karena tidak ada masalah atau sangat nyaman dan manusiawi. (Ambrosius Harto)

Klenteng Cina Rasa Eropa di Pecinan Bogor-National Geographic Indonesia

Klenteng Cina Rasa Eropa di Pecinan Bogor

Kisah vila peristirahatan berlanggam arsitektur indis yang menjelma sebagai klenteng. Warga pecinan setempat pernah menjulukinya sebagai “Gredja Boeloloe”.
klenteng-cina-rasa-eropa-di-pecinan-bogor
Wihara Dharmakaya di Jalan Siliwangi, kawasan pecinan Bogor. Awalnya merupakan tempat peristirahatan yang dibangun sebuah keluarga Tionghoa di Batavia. Dari puncak menara, yang bisa disetarakan dengan pagoda, tampak pemandangan Gunung Salak nan membiru. (Agni Malagina)

Memasuki halaman muka Wihara Dharmakaya, kita disuguhi pemandangan bangunan klenteng yang tak biasa. Gedung berarsitektur campuran gaya Eropa, Cina, Indonesia berpadu dengan warna merah simbol kebahagiaan. Awalnya bangunan ini merupakan wihara Buddha yang dikenal sebagai Kwan Im Bio.

Saya lebih suka menjulukinya “Si Klenteng Cina Rasa Eropa”. Bangunan ini memiliki menara di sisi kanannya yang berjendela gaya gotik. Tampaknya, menara ini disetarakan dengan pagoda. Pagoda yang dalam bahasa Sansekerta disebut stupa, yang merupakan langgam bangunan asli India, dikenal dengan nama “dhagoba”—berasal dari “dhatu-garbha”. Artinya, tempat penyimpanan keramat yang dalam agama Buddha merupakan simbol ketaatan yang tak tertandingi.

Orde baru telah mengganti nama klenteng ini dari Kwan Im Bio menjadi wihara Dewi Chandra Naga Sari, dan sekarang berubah menjadi vihara Dharmakaya. Wihara ini dikelola oleh Wihara Vajra Bodhi yang bertempat di Tajur, Bogor. Rupanya, bangunan ini merupakan bekas bangunan langgam arsitektur Eropa yang pernah disebut warga sebagai “Gredja Boeloloe”.

preview
Potret para biksuni, yang pernah mendarmakan hidupnya di Wihara Dharmakaya Bogor, membuat suasana wihara ini hangat dan tampak privat. (Agni Malagina)

Istilah “klenteng” merupakan adaptasi hasil pendengaran penduduk lokal terhadap bunyi dari “Guan Yin Ting” (kediaman Dewi Kwan Im atau Kwan Im Teng dalam bahasa Hokkian). Sepanjang pecinan Bogor di Jalan Suryakencana hingga Jalan Siliwangi terdapat tiga buah klenteng: Hok Tek Bio (Wihara Dhanagun), Klenteng Phanko (Pan Ku), dan Wihara Dharmakaya yang terletak di Jalan Siliwangi.

Konon, bangunan tersebut merupakan vila keluarga Tionghoa asal Kwitang, Batavia—kini Jakarta Pusat—pada awal abad ke-20. Kemudian didarmakan untuk biara, dan pada awal 1940-an, klenteng ini dikelola oleh seorang biarawati atau suhu wanita yang bernama Tan Eng Nio.

Bubungan pada atap sisi depan bergaya atap ekor walet yang merupakan bangunan dengan arsitektur khas daerah selatan Cina. Dua naga saling berhadapan, dengan imaji bulat dengan rambut api yang berada di antara keduanya. Inilah ciri khas atap klenteng.

Dalam tradisi Cina, naga merupakan simbol kekuatan “Yang” dan simbol kesuburan. Naga pun dapat dimaknai sebagai lambang supremasi kekuatan tertinggi dalam dunia mitologi Cina. Sementara, imaji bulatan berambut api dapat diinterpretasikan sebagai mutiara, matahari, atau bulan.

Tidak seperti klenteng lain, tak ada ukiran dan pahatan motif poenix, naga atau bunga dedaunan pada bubungan atap vihara Dharmakaya.

Dua singa penjaga gerbang pun menyambut kadatangan setiap tamu. Kedua patung singa ini biasa diletakkan di muka bangunan pemerintahan dan wihara/klenteng. Singa yang terletak di sebelah kanan biasanya lengkap dengan ornamen bola di kaki kanannya. Simbol laki-laki atau kekuatan maskulin. Sementara singa di sebelah kiri dengan anak singa di kaki kirinya merupakan simbol kekuatan feminin. Keduanya merupakan penjaga bangunan penting dan simbol harmoni Yin dan Yang.

Teras bangunan indis ini memiliki pintu dengan ornamen pada papan jati berupa ukiran ular naga dan burung phoenix. Satwa bersayap itu merupakan mahkluk supranatural dalam kepercayaan tradisional Cina yang merupakan simbol kekuatan Yin, pelengkap Yang yang dimiliki oleh Naga. Keduanya merupkan simbol harmoni.

preview2
Ruangan dalam Wihara Dharmakaya yang memadukan beragam budaya: tradisi Cina dan arsitektur indis. Tampak hiasan pintu bergaya neoklasik dengan balutan art-deco khas awal abad ke-20 yang menghubungkan dua ruangan. (Agni Malagina)

Pada sisi lain terdapat gambar kelelawar sebagai simbol kemakmuran. Keindahan bangunan ini pun disempurnakan oleh lengkung-lengkung bingkai pintu dan jendela khas bangunan Indis. Tak ketinggalan lantai keramik djadoel bercorak dekoratif kuning kunyit dan coklat yang menambah kesan antik bangunan tersebut.

Memasuki ruang utama, pengunjung akan di sambut oleh Dewa Kuan Ong, sang dewa rejeki. Tak jauh darinya terdapat tangga naik ke pagoda. Tidak seperti pagoda lain yang beranak tangga 21 yang melambangkan kebaikan, jumlah anak tangga wihara ini hanya 19. Sesampainya di atas, kita akan menemui Dewa Langit, San Tian Ong. Dari ruangan kecil di ujung menara itu kita dapat menikmati pemandangan Gunung Salak.

Kembali ke ruang utama yang memajang altar Dewi Kwan Im yang berukir flora dan fauna; juga foto dari biksuni yang pernah mengabdi di wihara Kuan Im tersebut.

Kesan privat lebih terasa di vihara ini. Konon menurut cerita penjaga vihara tersebut, tempat itu lebih sering digunakan oleh keluarga para biksuni untuk beribadah. Namun pada saat sembahyang Imlek, Cap Gomeh dan ulang tahun Dewi Kwan Im, wihara ini akan ramai dikunjungi umat.

Di halaman samping dan belakang terdapat bangunan tambahan untuk klinik pengobatan yang dijembatani oleh taman kecil nan asri, ibarat berada di sebuah vila peristirahatan yang tenang.

Demikianlah kisah Vihara Dharmakaya yang dibangun dan berhiaskan simbol-simbol dalam tradisi Negeri Tirai Bambu yang telah mengakar di bumi Nusantara.

(Agni Malagina, Sinolog FIB Universitas Indonesia/MYTh)

Pulo Geulis Menyimpan Tinggalan Budaya Masa Belanda dan Tionghoa-antaranews.com

Pulo Geulis Menyimpan Tinggalan Budaya Masa Belanda dan Tionghoa
Rabu, 12 Februari 2014 02:15

Kampung Pulo Geulis dan kawasan Babakan Pasar Kecamatan Bogor Tengah, merupakan salah satu dari Kawasan di Kota Bogor yang memiliki aset wisata paduan antara Budaya Tionghoa dan Kolonial Belanda. Pulo Geulis semula memiliki nama yang sangat puitis, Parakan Baranangsiang, namun telah berganti menjadi Pulo Geulis artinya Pulo nan cantik.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Rachmat Iskandar salah satu nara sumber Tim RIPPDA (Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah) Kota Bogor, Pulo Geulis selain terkenal dengan Vihara Mahabrahma yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bogor, juga banyak menyimpan tinggalan Budaya Masa Belanda dan Tionghoa,

Di Kampung Pulo Geulis dan Kawasan Babakan Pasar banyak ditemukan tinggalan budaya Belanda, berupa arsitektur bergaya neo Classic, art deco, dan modern tropis. “ Ini merupakan asset yang bisa dikembangkan menjadi salah satu objek wisata menarik di Kota Bogor. Kita berharap Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto yang akan dilantik 7 April mendatang bisa mengembangkan kawasan ini menjadi salah satu Objek Wisata, “ ungkap Rachmat.

Rachmat memaparkan, bekas hotel Pasar Baroe misalnya, yang bergaya neo Classic berikut sebuah bangunan rumah tinggal mewah yang dikenal dengan nama Landhuisen yang juga bergaya neo Classic.

Hotel Pasar Baroe dan bangunan rumah tinggal tersebut terletak di belakang Pasar Bogor. Kondisi bangunan Hotel Pasar Baroe kondisinya sangat memprihatinkan. “ Bangunan itu sudah tidak terurus, dan kumuh, “ kata Rachmat.

Selain itu, terdapat juga bangunan yang bergaya art deco. Ciri-cirinya adalah bangunan yang diberhiasan (dekoratif) dalam bentuk alur-alur beton, kotak – kotak kaca dan berlantai dengan motif arabesca.

Rachmat menceritakan, di Pulo Geulis dan Babakan Pasar juga masih ditemukan bangunan bekas gedung teh, pagar dari rel kereta api yang dibuat tahun 1868. Sedangkan dalam kaitannya dengan budaya Tionghoa, menurut Rachmat ditemukan makam leluhur alm Masagung pemilik penerbit toko buku Gunung Agung. Makam tersebut terletak di belakang SD tidak jauh dari Puskesmas Belong Babakan Pasar.

Tak hanya itu, lanjut Rachmat, juga ditemukan perlengkapan untuk membuat tahu tradisional berupa alat penggilingan kedelai yang terbuat dari batu Selain itu ada alat tumbuk dari batu, kolam ikan dari batu milik salah satu tokoh masyarakat setempat bernama Bram.

Dikawasan ini juga terdapat sebuah bangunan sosial yang berfungsi membantu warga miskin dalam Mulasara Jenazah (Pengurusan jenazah-red). Diatas bagian depan bangunan tersebut masih tercantum huruf Fons Untuk Orang Miskin 1930. “Bangunan ini bergaya Kolonial Belanda yang masih difungsikan untuk untuk kegiatan amal dan sosial. “ ujarnya.

Disamping itu juga ada Gardu Listrik dan Pos Jaga peninggalan Belanda yang lokasinya di Jalan Roda. “Sayangnya bangunan Pos Jaga telah beralih fungsi menjadi tempat berjualan asinan, “ kata Rachmat.

Menariknya lagi, kata Rachmat, sebagian warga asli Pulo Geulis memiliki keahlian membuat emping jengkol. Alat untuk membuat emping jengkol tersebut menggunakan alat tumbuk dari bahan batu berbentuk bulat yang diambil dari sungai Ciliwung. “Masyarakat Pulo Geulis menyebutnya alat tersebut batu emping. Hasil produk mereka dijual ke para pedagang soto di kawasan Suryakencana, “pungkasnya. (yan)

Pemilik Cagar Budaya Ogah Urus Pengurangan Pajak-Tempo.co

Rabu, 11 September 2013 | 17:59 WIB
Pemilik Cagar Budaya Ogah Urus Pengurangan Pajak

TEMPO.CO, Yogyakarta – Pemilik bangunan cagar budaya di Yogyakarta diminta membuat surat tidak mampu agar bisa memperoleh potongan pajak bumi dan bangunan. Padahal pemilik bangunan lawas itu di kawasan Kotabaru, Yogyakarta, dari kalangan ekonomi mampu.

Akibatnya, pemilik bangunan cagar budaya ogah mengajukan keringanan pajak pada Pemerintah Kota Yogyakarta. “Ya, enggak maulah suruh buat surat tidak mampu. Wong orang mampu, kok, disuruh bilang tidak mampu,” kata Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Kotabaru, Soegiarto, Rabu, 11 September 2013.

Dia memberikan contoh seorang pemilik rumah berstatus cagar budaya di kawasan Jenderal Soedirman. Saat pemilik itu mengajukan keringanan pajak yang seharusnya dibayarkan Rp 45 juta per tahun kepada pemerintah kota, ia malah diminta membuat surat keterangan tak mampu.

Pemberian potongan pajak ini dinilai penting sebagai upaya agar pemilik bangunan mau mempertahankan bentuk bangunan itu. ”Sebenarnya masyarakat mau saja, tapi prosedur pengajuan surat permohonannya yang tidak pas,“ kata Soegiarto.

Tak heran, program pengurangan pajak yang diberlakukan Pemerintah Kota Yogyakarta sedikit peminatnya. “Syaratnya sebenarnya mudah. Cukup mengajukan permohonan lalu kami cek lapangan,” kata Kepala Seksi Pembukuan dan Pelaporan Dinas Pendapatan Daerah dan Pajak Keuangan (DPDPK) Pemerintah Kota Yogyakarta, Santosa. Di kawasan Kotabaru, Yogyakarta, ada 700 obyek pajak yang merupakan bangunan bekas peninggalan kolonial Belanda.

Pengurangan pajak untuk bangunan cagar budaya lumayan besar. “Kategori pemilik cagar budaya bisa sampai 35 persen pengurangannya,” kata Kepala Seksi Penagihan dan Keberatan DPDPK, Irawati.

Sementara itu, aktivis cagar budaya Yogyakarta, Joe Marbun, menilai prosedur pemberian program insentif pajak itu menyepelekan persoalan. “Itu, kan, (pengurangan pajak) sebenarnya bentuk penghargaan. Tapi, dengan meminta membuat surat keterangan tidak mampu, itu menjadi bentuk perendahan,” kata dia.

PRIBADI WICAKSONO

*catatan : kekonyolan pegawai dispenda dan aturannya ini juga berlaku di Bogor

Berbagai Berita Tentang Walikota Baru Bogor di Hari Pertama

Bima Arya Jadikan Bogor Kota Berwawasan Lingkungan – 6 April 2013 -skalanews

Skalanews – Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto menyatakan komitmennya untuk menjalankan visi sebagai kepala daerah salah satunya untuk menjadikan “Kota Hujan” Bogor sebagai kota berwawasan lingkungan.

Berbagai langkah akan dilakukannya dalam mewujudkan Bogor sebagai Kota Berwawasan Lingkungan.

“Pertama saya akan memaksimalkan aset yang dimiliki Pemerintah Kota Bogor yang memungkinkan untuk berfungsi menjadi ruang terbuka hijau dan wilayah serapan,” ujar Bima di Bogor, Minggu.

Selain langkah tersebut, lanjut Bima, ia juga akan melakukan evaluasi semua perizinan yang sudah dilakukan, agar tidak ada lagi penyimpangan fungsi lahan yang ada di Kota Bogor.

“Saya juga akan mengawasi bagaimana fasilitas umum dan fasilitas sosial betul-betul ditaati oleh pengembang, termasuk drainase. Jangan sampai pembangunan dan pengembangan yang ada merusak tata kota yang ada.

Tidak hanya itu, ia pun akan mengawasi sangat serius pembangunan hotel dan mall yang ada di Kota Bogor.

“Pembangunan hotel dan mall akan kita awasi agar tidak menghancurkan ekosistem yang ada di Kota Bogor,” ujarnya.

Sementara itu, ancaman hilangnya hutan kota di Kota Bogor kian terlihat, sejumlah pembangunan dengan menebang pohon dilakukan oleh para pengembang.

Pembangunan nyata yang menyalahi aturan terlihat di Jalan Semeru depan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, di mana pembangunan ruko-ruko dilakukan di sepanjang jalan pinggiran aliran Sungai Cidepit.

Aksi protes terhadap pembangunan di pinggiran Sungai Cidepit sempat mendapat protes dari sejumlah warga yang menginginkan kawasan Jalan Semeru kembali asri dengan banyaknya pohon. (ant/mar)

Pasca Dilantik, Bima Arya-Usmar Hariman Keliling Kota Bogor- okezone.com
Selasa, 08 April 2014 10:39 wib | ant -


BOGOR – Wali Kota Bogor Bima Arya dan wakilnya Usmar Hariman berkeliling bersama seluruh kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk meninjau langsung kondisi kota hujan tersebut.

“Kebun Raya ini merupakan etalase Kota Bogor yang harus kita jaga dan perhatikan kondisi kebersihannya dan kelayakannya,” ujar Bima saat meninjau langsung Kota Bogor, Selasa (8/4/2014).

Dengan menggunakan satu bus pariwisata, Bima dan Usmar mengajak seluruh Kepala SKPD melihat kondisi nyata di lapangan Kota Bogor. Berbagai kritikan dan masukkan disampaikan selama dalam perjalanan yang berlangsung mulai dari Plaza Balai Kota bergerak menuju Jalan Surya Kencana.

Bima mengatakan, kondisi di sekeliling Kebun Raya Bogor sangat memprihatikan, banyak pendestrian yang bolong-bolong, begitu juga sampah dan tali rapia bergantungan di pohon-pohon.

Bima juga mengomentari persoalan arus lalu lintas di depan Bogor Trade Mall (BTM) yang sembrawut dan begitu juga di Jalan Oto Iskandar Dinata. Bima meminta Kepala DLLAJ untuk melakukan evaluasi terhadap manajemen kemacetan dan trayek di titik tersebut untuk mengurai persoalan kesembrawutan di wilayah itu.

Selain itu, Bima juga mengkritisi adanya parkir sepeda motor di depan Sekolah Dasar depan Plaza BTM. “Itu kacau sekali, ada P coret kenapa pada parkir motor disana,” ujar Bima.

Kunjungan berlanjut ke Jalan Surya Kencana. Di depan Plaza Bogor dan Vihara Dhanagun, Bima menyampaikan bahwa lokasi tersebut harus menjadi prioritas untuk dibenahi karena merupakan wajah Kota Bogor. “Ini Vihara Dhanagun sangat bersejarah. Lokasi ini harus diperhatikan, sayang jika dibiarkan. Kita tata, di sini cocok dijadikan kios khusus buah,” ujarnya.

Berlanjut ke sepanjang Jalan Suryakencana, Bima meminta DLLAJ untuk menyerahkan laporan pengelolaan parkir dan tarif di wilayah tersebut yang menjadi persoalan utama.

Kunjungan terus berlanjut, Bima mempertanyakan keberadaan sejumlah gedung yang tidak beroperasi dan belum selesai pengerjaannya yang terdapat di sepanjang Jalan Suryakencana.
“Saya ingin memastikan, semua perizinan harus sesuai dengan pengaturan tata ruang,” ujar Bima.

Sebelumnya diberitakan, hari pertama kepemimpinannya, Bima dan Usmar melakukan apel pagi. Usai apel pagi, Wali Kota dan Wakil Kota berkeliling ke seluruh ruangan bagian di Sekretariat Daerah Kota Bogor dan memimpin rapat staf.
(ant//sus)

Selasa, 08/04/2014 10:37 WIB
Hari Pertama Kerja, Bima Arya Minta Rute Angkot di Bogor Dikaji Ulang – detik.com

Bogor – Wali Kota Bogor Bima Arya mulai memetakan permasalahan di wilayahnya. Yang paling mencolok perhatiannya adalah soal kemacetan dan kaitannya dengan penumpukan angkot.

Setelah bersilaturahmi dengan jajaran pegawai di balai kota Bogor, Jl Kapten Muslihat, Jabar, Selasa (8/4/2014), Bima langsung berkeliling kota menggunakan bus. Dia berencana melakukan sidak ke sejumlah dinas.

Di tengah jalan, dia sempat mengutarakan berbagai rencana soal pengaturan lalu lintas untuk mengatasi kemacetan. Salah satunya mengkaji rute angkot.

“Jl Otto Iskandardinata depan Museum Zoologi Bogor dicatat sebagai lokasi yang macet dan banyak PKL. Saya harap terus ada koordinasi dengan dinas kabupaten untuk dilakukan kajian untuk rute angkot dan jalur kendaraan,” kata Bima.

Bima ingin mengkaji kemungkinan dilakukan rute satu arah di beberapa ruas jalan penting di Kota Bogor. Untuk itu, dia meminta laporan dari anak buahnya dalam tiga hari ke depan.

“Saya mendapat laporan terjadi pemadatan rute angkot soalnya. Terus ada tempat parkir motor di dekat sekolah padahal ada rambu P dicoret. Tolong dirapikan. Kalau sekolah keberatan bilang sama saya. Karena saya malu melihat ada rambu P coret tapi masih banyak yang parkir,” paparnya.

Selain itu, Bima juga ingin memberi surga pada para pejalan kaki. Banyak trotoar yang tidak layak digunakan dan butuh perbaikan segera. “Kita fokuskan pedestrian yang mengelilingi Kebun Raya. Karena saya suka lari minimal seminggu sekali, saya ingin lari atau jalan kaki ke Kebun Raya,” imbuhnya

Masalah kemacetan juga tak lepas dari faktor PKL. Hal ini tak luput dari perhatian politikus PAN tersebut. Dalam waktu dekat, dia akan merevitalisasi para pedagang, agar tak menjamur di jalanan.

“China Town dan pintu Kebun Raya harus cantik. Sayang kalau vihara ini nggak kelihatan kan. Aset-aset kota ini. Bagaimana cara nanti PKL direlokasikan. Saya minta nanti berdialog dengan para tokoh di lokasi ini,” pesannya.

Lokasi parkir pun bakal diatur sedemikian rupa agar tidak meluber ke pinggir jalan. Bima akan menggandeng pihak swasta untuk mengatasi masalah ini.

“Gedung BHS (dulunya bioskop ternama di Bogor) juga saya minta untuk diurus. Ini kayaknya jadi gedung paling tinggi di Bogor. Ke depan betul-betul harus kita perhatikan perizinan dan penggunaan harus sesuai dengan tata ruang,” paparnya.

Gaya Wali Kota Bogor Bima Arya di Hari Pertama Kerja-Rima News
Tue, 08/04/2014 – 11:48 WIB

RIMANEWS- Salah satu Walikota termuda di Indonesia, Bima Arya, melakukan gebrakan di hari pertama dirinya dinas sebagai Wali Kota Bogor.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya dan wakilnya Usmar Hariman berkeliling bersama seluruh kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk meninjau langsung kondisi Kota Hujan tersebut.

“Kebun Raya ini merupakan etalase Kota Bogor yang harus kita jaga dan perhatikan kondisi kebersihannya dan kelayakannya,” ujar Bima, Selasa (8/4).

Dengan menggunakan satu bus berukuran pariwisata, Bima dan Usmar mengajak seluruh Kepala SKPD melihat kondisi nyata di lapangan Kota Bogor.

Berbagai kritikan dan masukan disampaikan selama dalam perjalanan yang berlangsung mulai dari Plaza Balai Kota bergerak menuju Jalan Surya Kencana.

Bima mengatakan, kondisi di sekeliling Kebun Raya Bogor sangat memprihatinkan, banyak pendestrian yang bolong-bolong, begitu juga sampah dan tali plastik bergantungan di pohon-pohon.

Bima juga mengomentari persoalan arus lalu lintas di depan Bogor Trade Mall (BTM) yang semrawut dan begitu juga di Jalan Otto Iskandar Dinata.

Bima meminta Kepala DLLAJ untuk melakukan evaluasi terhadap manajemen kemacetan dan trayek di titik tersebut untuk mengurai kemacetan di wilayah tersebut.

Selain itu, Bima juga mengkritisi adanya parkir sepeda motor di depan Sekolah Dasar depan Plaza BTM. “Itu kacau sekali, ada P coret kenapa pada parkir motor di sana,” ujar Bima.

Kunjungan berlanjut ke Jalan Surya Kencana. Di depan Plaza Bogor dan Vihara Dhanagun, Bima menyampaikan bahwa lokasi tersebut harus menjadi prioritas untuk dibenahi karena merupakan wajah Kota Bogor.

“Ini Vihara Dhanagun sangat bersejarah. Lokasi ini harus diperhatikan, sayang jika dibiarkan. Kita tata, di sini cocok dijadikan kios khusus buah,” ujarnya seperti dikutip Antara.

Berlanjut ke sepanjang Jalan Suryakencana, Bima meminta DLLAJ untuk menyerahkan laporan pengelolaan parkir dan tarif di wilayah tersebut yang menjadi persoalan utama.

Kunjungan terus berlanjut, Bima mempertanyakan keberadaan sejumlah gedung yang tidak beroperasi dan belum selesai pengerjaannya yang terdapat di sepanjang Jalan Suryakencana.

“Saya ingin memastikan, semua perizinan harus sesuai dengan pengaturan tata ruang,” ujar Bima.

Di hari pertama kepemimpinannya, Bima dan Usmar melakukan apel pagi. Usai apel pagi, Wali Kota dan Wakil Kota berkeliling ke seluruh ruangan bagian di Sekretariat Daerah Kota Bogor dan memimpin rapat staf.

Sebelumnya, Bima Arya mempunyai 6 progam unggulan, yaitu:

1. Anti Metropolitan

Bima akan mengembalikan Bogor menjadi kota nyaman dan sejuk. Kota yang dulunya menjadi favorit warga luar daerah khususnya Batavia, untuk datang dan berlibur.

Kalau sekarang Bogor dikenal dengan kota sejuta angkot, Bima sesumbar akan mengubah dan mengembalikannya menjadi kota sejuta taman. Dia juga akan menindak pedagang kaki lima yang bandel, berjualan di sembarang tempat.

2. Siap Copot Kepala Dinas yang Tak Sejalan

Selanjutnya wali kota muda ini berjanji, tidak akan segan menggeser kepala dinas yang tak bisa mengikuti irama kepemimpinannya. Dia menjelaskan, reposisi atau mutasi kepala dinas tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Dia akan melihat dahulu kinerja para Kadis. Selain itu, reposisi tidak didasarkan pada alasan suka atau tidak suka.

3. Membenahi Jumlah Angkot

Jumlah angkot di Kota Bogor terus membludak, sedikitnya 3.412 angkot beroperasi setiap hari. Dalam waktu dekat, dirinya akan mengkaji dan merumuskan angka ideal angkot yang boleh beroperasi di kota hujan itu.

Masalah transportasi dalam kota, diakui Bima sudah ada konsep jalan keluarnya, baik dari Dinas Perhubungan maupun lingkup universitas.

4. Menata PKL

Bima Arya akan memfokuskan penataan PKL di sekeliling Pasar Bogor dan Jembatan Merah dengan cara revitalisasi, relokasi, retribusi ke daerah pinggir kota dan represif.

Selain PKL, Bima juga akan menindak para bekingan yang selama ini meminta jatah ‘uang keamanan’ kepada para PKL.

5. Anti Mal Baru

Bima Arya menegaskan tidak akan memberikan izin mendirikan mal baru di kota Bogor. Menurutnya, mal yang ada di kota Bogor sudah cukup banyak. Jika ada pengembang yang ingin tetap mendirikan mal, keberadaannya akan dibatasi. Lokasinya pun akan ditempatkan di pinggir kota Bogor dengan catatan harus berkonsep heritage dan hijau.

6. Demografi dan Tata Ruang

10 Tahun lagi jumlah penduduk Bogor diprediksi mencapai 1,5 juta dari angka sekarang di kisaran 500 ribu jiwa. Isu demografi tersebut akan ditata melalui pendidikan dan lapangan pekerjaan.

“Agar bonus demografi yang kita nikmati akan berdampak positif, bukan menjadi generasi yang membebani,” kata Bima.

Selain itu, diperlukan penataan tata ruang kota, mengingat adanya istana kepresidenan. Bima Arya menyatakan akan membuat Bogor tidak kumuh lagi. Dia berharap agar pemerintah pusat membantu pertumbuhan Bogor.

Bima menggarisbawahi jika berbagai masalah yang dihadapi Bogor saat ini, tidak akan selesai dalam lima tahun atau satu periode kepemimpinannya. (rim/mer)

——————-
selamat bekerja
semoga amanah dalam menjalankan tugas

Menteng residents seeking property tax break-Jakarta Post

Menteng residents seeking property tax break
Indah Setiawati, The Jakarta Post, Jakarta | Jakarta | Fri, March 21 2014, 10:06 AM

Dozens of residents of the upscale Menteng area in Central Jakarta are seeking a reduction in their property tax following the administration’s decision to drastically hike the taxable value of property (NJOP) by 120 percent to 240 percent this year.

Menteng subdistrict head Sulastri said 56 residents had requested a reference letter to propose a property tax reduction since tax returns were distributed in February.

“Most residents who have asked for a reduction in the property tax live in elite RWs [neighboorhood units] such as RW 4, RW 5, RW 7 and some parts of RW 6. Many of them are retirees, while others probably inherited the houses and don’t have high positions like their parents,” she said in a phone interview Wednesday.

She said some of the residents live on upper-class streets such as Jl. Teuku Umar and Jl. Taman Suropati.

The administration estimates revenue from property and building tax will surge by 82.2 percent to 6.7 trillion (US$598.2 million) this year from Rp 3.68 trillion last year.

Recently, Governor Joko “Jokowi” Widodo promised to give tax breaks only to residents with demonstrated need. His promise is in line with Gubernatorial Decree No. 211/2012, which allows for a maximum tax reduction of 50 percent for taxpayers who cannot afford the tax and a maximum of 75 percent for war veterans.

Tumpal, a resident of Jl. Purwakarta, said he planned to seek a property tax reduction because his family was not able to pay the rising property tax. He said this year he would have to pay Rp 35 million in property tax, more than double the Rp 14 million he paid in previous years.

“I think the increase in the NJOP is fair and rational because the property prices here are skyrocketing. But personally, I feel burdened by the amount of the property tax. We need time to adjust our spending,” he said.

His now deceased father had been receiving a sizeable tax break because he was a veteran. Now, however, Tumpal has only been able to secure a 10 percent tax reduction.

“There should be a dispensation for residents who preserve their old buildings like our family. It is not easy to preserve an old building. We must struggle with the dust and use expensive paints because the walls need special treatment,” he said.

Tumpal’s Dutch colonial-era house has been declared a heritage site. The history of Menteng dates back to 1908, when the area was purchased by real estate company De Bouwploeg and developed as a housing complex for the elites.

Although a 1975 gubernatorial regulation declared Menteng a historical preservation area in the city, many houses were converted, without the city administration’s knowledge, into garish mansions that left little or no glimpse of the old architecture. Other homes were neglected and now lie in ruins, such as the famous Rumah Cantik on Jl. Cik Di Tiro.

Tumpal said several of his old neighbors who could no longer keep up with higher property tax ended up renting or selling their properties to business tycoons moving in from other upper class residential areas such as Pantai Indah Kapuk or Kelapa Gading in North Jakarta.

“The demand for houses in Menteng is higher than what’s available because this neighborhood is free from floods and safe,” he said, adding that his house was appraised at Rp 60 billion in the market.

Urban activist Marco Kusumawijaya said the property tax should be integrated with spatial planning, as it could be used as an important instrument to control land use. He said the city administration could use the property tax to protect and revitalize heritage areas.

“For example, the city can ease the tax in heritage areas such as Menteng and Kebayoran Baru, so the owners can get tax breaks for preserving old buildings,” he said.

He said a property tax break could also be used as an incentive or disincentive to control infrastructure, transportation and flooding issues. It could be used to manage the growth of industries in the capital, encourage the development of buildings with mixed functions and control the use of ground water.

Bima Arya Berjanji Akan Mendata Ulang Benda Cagar Budaya-inilah.com

Bima Arya Berjanji Akan Mendata Ulang Benda Cagar Budaya

January 25, 2014

INILAHBOGOR (KOTA BOGOR) – Kondisi bangunan SMA Negeri 1 dan SMP Negeri 1 Kota Bogor yang semula merupakan benda cagar budaya (BCB) kini hilang ditelan moderenisme arsitektur. Hilangnyanya bangunan yang menjadi Aset Nasional itu, dinilai sebagai bentuk ketidak pedulian pemerintah daerah dan jajaran pendidikan kota Bogor akan arti sejarah bagi peradaban manusia.

Menyikapi hali itu, Walikota Bogor Terpilih, Bima Arya Sugiarto mengatakan, bahwa kedepan pihaknya akan lebih menata benda-benda dan bangunan cagar budaya.

“Dengan masuknya Kota Bogor sebagai Kota Pusaka, kedepan kita akan lakukan penataan terhadap peninggalan benda-benda bersejarah di Kota Bogor. Salah satunya terkait dengan benda dan bangunan cagar Budaya.” ungkap Bima Arya kepada inilahbogor.com usai menghadiri pembukaan Depelovment Basketball Legue (DBL) di GOR Pajajaran Bogor, Sabtu (25/1/14).

Dikatakannya, Dikatakannya, Benda Cagar Budaya (BCB) adalah merupakan peninggalan sejarah yang perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak, terutama pemerintah, baik pusat, provisi dan daerah.

“Untuk itu kedepan kita akan kembali mendata benda-benda dan bangunan cagar budaya, baik itu milik pemerintah kota maupun perorangan,” katanya.

Ditanya perihal hilangnya bangunan benda cagar budaya yang kini beralih wujud menjadi bangunan bernuansa modern, Bima menuturkan bahwa pasca April 2014 mendatang pihaknya akan mengingatkan kepada pihak-pihak yang menempati bangunan bernilai sejarah dan cagar budaya untuk dapat sama-sama menjaga kelestarian bangunan tersebut, termasuk yang kini terjadi terhadap SMA dan SMP Negeri 1 Bogor.

Reporter : Herman

Bima Arya Ingin Bogor Menjadi Primadona Pariwisata-Kompas

Bima Arya Ingin Bogor Menjadi Primadona Pariwisata
Minggu, 12 Januari 2014 | 17:56 WIB

BOGOR, KOMPAS.com – Wali Kota Bogor terpilih Bima Arya menyatakan komitmennya untuk memajukan pariwisata Kota Bogor karena memiliki banyak potensi yang bisa dikelola dan menjadikannya primadona bagi masyarakat luas.

“Pemerintah Kota Bogor akan total berjuang menjadikan pariwisata Kota Bogor sebagai primadona,” ujar Bima dalam Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Bogor, di Ruang Rapat I Balaikota Bogor, Sabtu (11/1/2014).

Bima mengatakan Kota Bogor layak menjadi kota jasa dan pariwisata karena dari kajian berbagai aspek yang ada, historis, topografis, potensi, dan APBD termasuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), jasa dan pariwisata sangat menonjol di kota hujan tersebut.

“Oleh karena itu, kita perlu menggerakkan semua lini. Melihat data yang ada, dalam satu tahun jumlah kunjungan wisawatan ke Kota Bogor mencapai 3,5 juta,” katanya.

Menurut Bima, dalam mewujudkan hal tersebut Wali Kota bersama jajarannya bertugas menyiapkan infrastruktur yang bagus.

“Ke depan Kota Bogor menjadi surga bagi pejalan kaki. Bisa kita bayangkan nanti mulai dari stasiun, terminal, sekitaran keliling Kebun Raya, dan kawasan Suryakencana nyaman untuk pejalan kaki,” ujarnya.

Dikatakannya, berbagai rencana telah disiapkan dalam menata Kota Bogor sebagai primadona pariwisata. Salah satunya di kawasan Surya Kencana akan dijadikan seperti di Jalan Braga Bandung.

Di sana, masyarakat bisa nyaman berjalan kaki menikmati wisata kuliner Surya Kencana. Begitu juga disejumlah titik wisata lainnya akan dihidupkan.

Bima menambahkan, hal tersebut dapat terwujud dengan kerja sama semua pihak. Di tahun 2014 ini Pemerintah Kota Bogor agar berbenah dan 2015 siap untuk menyambut tahun yang datang.

“Tahun 2015 kita siap menyambut tamu-tamu yang datang ke Kota Bogor, sehingga warga dari berbagai kota yang datang ke sini (Bogor) tidak disambut dengan ‘billboard’ yang merusak pemandangan. Mari kita sambut wisatawan yang datang dengan aura Bogor yang luar biasa,” ujarnya.

“Kita akan cerewet tentang desain hotel yang berdiri, kalau tidak heritage jangan bangun hotel di Bogor. Jadi, nanti kalau ada pengusaha yang akan membangun hotel jangan asal modern, apalagi kalau lebih tinggi dari Tugu Kujang akan kita babat,” tegasnya.

Ketua HPI Kota Bogor, Bagus Karyanegara menyatakan, pihaknya siap menjadikan Bogor sebagai Kota tujuan utama pariwisata. “Rakercab HPI betujuan untuk bagaimana menyusun dan merumuskan Kota Bogor sebagai Kota tujuan wisata,” kata Bagus.
Editor : I Made Asdhiana
Sumber : Antara

ditunggu janjinya kang

Mencari Jalan Keluar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya-National Geographic Indonesia

Mencari Jalan Keluar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya
Bertahun-tahun didiskusikan, apa langkah nyata kita?

Ada 59 bangunan tua Tionghoa di Jakarta yang terdaftar sebagai cagar budaya menurut SK Gubernur No.475/1993. Sebagaian besar — 57 — merupakan ruko, 1 rumah tinggal dan 1 gereja, kebanyakan berlokasi di Jakarta Barat. Bahkan yang sudah berstatus harus dipertahankan, kelestariannya pun patut dipertanyakan.

Persoalannya klise: pemilik bangunan cagar budaya tak mendapatkan insentif dari Pemerintah Daerah untuk biaya pemeliharaan yang tak sedikit itu. Langkah akhir dari si pemilik cagar budaya adalah membongkar bangunan untuk pemanfaatan ekonomi, atau menjual lahan dan bangunan itu. Sementara, pembeli yang tahu atau mungkin pura-pura tak tahu, tak menganggap penting bangunannya. Hanya butuh lahannya. Jadi, bangunan juga segera dibongkar.

Akan terjadi “ribut-ribut” sejenak – komunitas pencinta bangunan tua bersejarah akan membuat petisi, protes agar bangunan itu dipertahankan. Tapi imbauan ini biasanya tak cukup kuat untuk meluluhkan hati si pemilik atau si pembeli.

Ini terjadi misalnya pada Rumah Karawaci, peninggalan tuan tanah Kapiten Oei Djie San di Kota Tangerang yang dibongkar pada 2009. Upaya komunitas Walibatu (Warga Peduli Bangunan Tua) pun terhenti.

Jika alasan pemilik “Rumah Cantik Menteng”, bangunan cagar budaya yang dijual kepada putra orang nomor satu Indonesia, semata karena alasan ekonomi, tak kuat membayar pajak di kawasan elite itu, pemilik bangunan cagar budaya Tionghoa punya alasan lain untuk tak mempertahankannya:

Bangunan Tionghoa punya kecenderungan menjadi sasaran amuk massa bila terjadi kerusuhan berbau etnis. Ini mengemuka dalam Diskusi “Bangunan Tua Tionghoa di Jakarta, Sejarah yang Terlupakan” di Museum Bank Indonesia, Minggu, (28/7), yang menampilkan pembicara antara lain, pemerhati sejarah dan budaya Tionghoa, Mona Lohanda. Diskusi ini digelar Kecapi Batara — Kelompok Pecinta dan Pemerhati Bangunan Tua Nusantara.

Jalan keluarnya? “Sebenarnya ada dana pemeliharaan di Pemda DKI, tapi hanya untuk bangunan yang dimiliki oleh Pemda DKI. Jadi, desak kami, ajukan permintaan agar keluar surat keputusan yang mengatur anggaran untuk bangunan cagar budaya,” papar Andrian Attahiyat, Kepala Balai Konservasi DKI Jakarta.

Dan tak kalah penting, adanya bela rasa dan pengakuan tulus, bahwa Tionghoa adalah bagian sejarah dan masyarakat kita. Jangan terpaku mewarisi politik pecah belah Hindia Belanda tentang pengistimewaan sekaligus pengisolasian masyarakat Tionghoa di masa lalu. Persamaan hak dan kewajiban sebagai jiwa Kemerdekaan Indonesia selayaknyalah berlaku bagi siapa pun yang menjadi warga negara Indonesia.

(Christantiowati)