Berbagai Berita Tentang Walikota Baru Bogor di Hari Pertama

Bima Arya Jadikan Bogor Kota Berwawasan Lingkungan – 6 April 2013 -skalanews

Skalanews – Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto menyatakan komitmennya untuk menjalankan visi sebagai kepala daerah salah satunya untuk menjadikan “Kota Hujan” Bogor sebagai kota berwawasan lingkungan.

Berbagai langkah akan dilakukannya dalam mewujudkan Bogor sebagai Kota Berwawasan Lingkungan.

“Pertama saya akan memaksimalkan aset yang dimiliki Pemerintah Kota Bogor yang memungkinkan untuk berfungsi menjadi ruang terbuka hijau dan wilayah serapan,” ujar Bima di Bogor, Minggu.

Selain langkah tersebut, lanjut Bima, ia juga akan melakukan evaluasi semua perizinan yang sudah dilakukan, agar tidak ada lagi penyimpangan fungsi lahan yang ada di Kota Bogor.

“Saya juga akan mengawasi bagaimana fasilitas umum dan fasilitas sosial betul-betul ditaati oleh pengembang, termasuk drainase. Jangan sampai pembangunan dan pengembangan yang ada merusak tata kota yang ada.

Tidak hanya itu, ia pun akan mengawasi sangat serius pembangunan hotel dan mall yang ada di Kota Bogor.

“Pembangunan hotel dan mall akan kita awasi agar tidak menghancurkan ekosistem yang ada di Kota Bogor,” ujarnya.

Sementara itu, ancaman hilangnya hutan kota di Kota Bogor kian terlihat, sejumlah pembangunan dengan menebang pohon dilakukan oleh para pengembang.

Pembangunan nyata yang menyalahi aturan terlihat di Jalan Semeru depan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, di mana pembangunan ruko-ruko dilakukan di sepanjang jalan pinggiran aliran Sungai Cidepit.

Aksi protes terhadap pembangunan di pinggiran Sungai Cidepit sempat mendapat protes dari sejumlah warga yang menginginkan kawasan Jalan Semeru kembali asri dengan banyaknya pohon. (ant/mar)

Pasca Dilantik, Bima Arya-Usmar Hariman Keliling Kota Bogor- okezone.com
Selasa, 08 April 2014 10:39 wib | ant -


BOGOR – Wali Kota Bogor Bima Arya dan wakilnya Usmar Hariman berkeliling bersama seluruh kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk meninjau langsung kondisi kota hujan tersebut.

“Kebun Raya ini merupakan etalase Kota Bogor yang harus kita jaga dan perhatikan kondisi kebersihannya dan kelayakannya,” ujar Bima saat meninjau langsung Kota Bogor, Selasa (8/4/2014).

Dengan menggunakan satu bus pariwisata, Bima dan Usmar mengajak seluruh Kepala SKPD melihat kondisi nyata di lapangan Kota Bogor. Berbagai kritikan dan masukkan disampaikan selama dalam perjalanan yang berlangsung mulai dari Plaza Balai Kota bergerak menuju Jalan Surya Kencana.

Bima mengatakan, kondisi di sekeliling Kebun Raya Bogor sangat memprihatikan, banyak pendestrian yang bolong-bolong, begitu juga sampah dan tali rapia bergantungan di pohon-pohon.

Bima juga mengomentari persoalan arus lalu lintas di depan Bogor Trade Mall (BTM) yang sembrawut dan begitu juga di Jalan Oto Iskandar Dinata. Bima meminta Kepala DLLAJ untuk melakukan evaluasi terhadap manajemen kemacetan dan trayek di titik tersebut untuk mengurai persoalan kesembrawutan di wilayah itu.

Selain itu, Bima juga mengkritisi adanya parkir sepeda motor di depan Sekolah Dasar depan Plaza BTM. “Itu kacau sekali, ada P coret kenapa pada parkir motor disana,” ujar Bima.

Kunjungan berlanjut ke Jalan Surya Kencana. Di depan Plaza Bogor dan Vihara Dhanagun, Bima menyampaikan bahwa lokasi tersebut harus menjadi prioritas untuk dibenahi karena merupakan wajah Kota Bogor. “Ini Vihara Dhanagun sangat bersejarah. Lokasi ini harus diperhatikan, sayang jika dibiarkan. Kita tata, di sini cocok dijadikan kios khusus buah,” ujarnya.

Berlanjut ke sepanjang Jalan Suryakencana, Bima meminta DLLAJ untuk menyerahkan laporan pengelolaan parkir dan tarif di wilayah tersebut yang menjadi persoalan utama.

Kunjungan terus berlanjut, Bima mempertanyakan keberadaan sejumlah gedung yang tidak beroperasi dan belum selesai pengerjaannya yang terdapat di sepanjang Jalan Suryakencana.
“Saya ingin memastikan, semua perizinan harus sesuai dengan pengaturan tata ruang,” ujar Bima.

Sebelumnya diberitakan, hari pertama kepemimpinannya, Bima dan Usmar melakukan apel pagi. Usai apel pagi, Wali Kota dan Wakil Kota berkeliling ke seluruh ruangan bagian di Sekretariat Daerah Kota Bogor dan memimpin rapat staf.
(ant//sus)

Selasa, 08/04/2014 10:37 WIB
Hari Pertama Kerja, Bima Arya Minta Rute Angkot di Bogor Dikaji Ulang – detik.com

Bogor – Wali Kota Bogor Bima Arya mulai memetakan permasalahan di wilayahnya. Yang paling mencolok perhatiannya adalah soal kemacetan dan kaitannya dengan penumpukan angkot.

Setelah bersilaturahmi dengan jajaran pegawai di balai kota Bogor, Jl Kapten Muslihat, Jabar, Selasa (8/4/2014), Bima langsung berkeliling kota menggunakan bus. Dia berencana melakukan sidak ke sejumlah dinas.

Di tengah jalan, dia sempat mengutarakan berbagai rencana soal pengaturan lalu lintas untuk mengatasi kemacetan. Salah satunya mengkaji rute angkot.

“Jl Otto Iskandardinata depan Museum Zoologi Bogor dicatat sebagai lokasi yang macet dan banyak PKL. Saya harap terus ada koordinasi dengan dinas kabupaten untuk dilakukan kajian untuk rute angkot dan jalur kendaraan,” kata Bima.

Bima ingin mengkaji kemungkinan dilakukan rute satu arah di beberapa ruas jalan penting di Kota Bogor. Untuk itu, dia meminta laporan dari anak buahnya dalam tiga hari ke depan.

“Saya mendapat laporan terjadi pemadatan rute angkot soalnya. Terus ada tempat parkir motor di dekat sekolah padahal ada rambu P dicoret. Tolong dirapikan. Kalau sekolah keberatan bilang sama saya. Karena saya malu melihat ada rambu P coret tapi masih banyak yang parkir,” paparnya.

Selain itu, Bima juga ingin memberi surga pada para pejalan kaki. Banyak trotoar yang tidak layak digunakan dan butuh perbaikan segera. “Kita fokuskan pedestrian yang mengelilingi Kebun Raya. Karena saya suka lari minimal seminggu sekali, saya ingin lari atau jalan kaki ke Kebun Raya,” imbuhnya

Masalah kemacetan juga tak lepas dari faktor PKL. Hal ini tak luput dari perhatian politikus PAN tersebut. Dalam waktu dekat, dia akan merevitalisasi para pedagang, agar tak menjamur di jalanan.

“China Town dan pintu Kebun Raya harus cantik. Sayang kalau vihara ini nggak kelihatan kan. Aset-aset kota ini. Bagaimana cara nanti PKL direlokasikan. Saya minta nanti berdialog dengan para tokoh di lokasi ini,” pesannya.

Lokasi parkir pun bakal diatur sedemikian rupa agar tidak meluber ke pinggir jalan. Bima akan menggandeng pihak swasta untuk mengatasi masalah ini.

“Gedung BHS (dulunya bioskop ternama di Bogor) juga saya minta untuk diurus. Ini kayaknya jadi gedung paling tinggi di Bogor. Ke depan betul-betul harus kita perhatikan perizinan dan penggunaan harus sesuai dengan tata ruang,” paparnya.

Gaya Wali Kota Bogor Bima Arya di Hari Pertama Kerja-Rima News
Tue, 08/04/2014 – 11:48 WIB

RIMANEWS- Salah satu Walikota termuda di Indonesia, Bima Arya, melakukan gebrakan di hari pertama dirinya dinas sebagai Wali Kota Bogor.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya dan wakilnya Usmar Hariman berkeliling bersama seluruh kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk meninjau langsung kondisi Kota Hujan tersebut.

“Kebun Raya ini merupakan etalase Kota Bogor yang harus kita jaga dan perhatikan kondisi kebersihannya dan kelayakannya,” ujar Bima, Selasa (8/4).

Dengan menggunakan satu bus berukuran pariwisata, Bima dan Usmar mengajak seluruh Kepala SKPD melihat kondisi nyata di lapangan Kota Bogor.

Berbagai kritikan dan masukan disampaikan selama dalam perjalanan yang berlangsung mulai dari Plaza Balai Kota bergerak menuju Jalan Surya Kencana.

Bima mengatakan, kondisi di sekeliling Kebun Raya Bogor sangat memprihatinkan, banyak pendestrian yang bolong-bolong, begitu juga sampah dan tali plastik bergantungan di pohon-pohon.

Bima juga mengomentari persoalan arus lalu lintas di depan Bogor Trade Mall (BTM) yang semrawut dan begitu juga di Jalan Otto Iskandar Dinata.

Bima meminta Kepala DLLAJ untuk melakukan evaluasi terhadap manajemen kemacetan dan trayek di titik tersebut untuk mengurai kemacetan di wilayah tersebut.

Selain itu, Bima juga mengkritisi adanya parkir sepeda motor di depan Sekolah Dasar depan Plaza BTM. “Itu kacau sekali, ada P coret kenapa pada parkir motor di sana,” ujar Bima.

Kunjungan berlanjut ke Jalan Surya Kencana. Di depan Plaza Bogor dan Vihara Dhanagun, Bima menyampaikan bahwa lokasi tersebut harus menjadi prioritas untuk dibenahi karena merupakan wajah Kota Bogor.

“Ini Vihara Dhanagun sangat bersejarah. Lokasi ini harus diperhatikan, sayang jika dibiarkan. Kita tata, di sini cocok dijadikan kios khusus buah,” ujarnya seperti dikutip Antara.

Berlanjut ke sepanjang Jalan Suryakencana, Bima meminta DLLAJ untuk menyerahkan laporan pengelolaan parkir dan tarif di wilayah tersebut yang menjadi persoalan utama.

Kunjungan terus berlanjut, Bima mempertanyakan keberadaan sejumlah gedung yang tidak beroperasi dan belum selesai pengerjaannya yang terdapat di sepanjang Jalan Suryakencana.

“Saya ingin memastikan, semua perizinan harus sesuai dengan pengaturan tata ruang,” ujar Bima.

Di hari pertama kepemimpinannya, Bima dan Usmar melakukan apel pagi. Usai apel pagi, Wali Kota dan Wakil Kota berkeliling ke seluruh ruangan bagian di Sekretariat Daerah Kota Bogor dan memimpin rapat staf.

Sebelumnya, Bima Arya mempunyai 6 progam unggulan, yaitu:

1. Anti Metropolitan

Bima akan mengembalikan Bogor menjadi kota nyaman dan sejuk. Kota yang dulunya menjadi favorit warga luar daerah khususnya Batavia, untuk datang dan berlibur.

Kalau sekarang Bogor dikenal dengan kota sejuta angkot, Bima sesumbar akan mengubah dan mengembalikannya menjadi kota sejuta taman. Dia juga akan menindak pedagang kaki lima yang bandel, berjualan di sembarang tempat.

2. Siap Copot Kepala Dinas yang Tak Sejalan

Selanjutnya wali kota muda ini berjanji, tidak akan segan menggeser kepala dinas yang tak bisa mengikuti irama kepemimpinannya. Dia menjelaskan, reposisi atau mutasi kepala dinas tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Dia akan melihat dahulu kinerja para Kadis. Selain itu, reposisi tidak didasarkan pada alasan suka atau tidak suka.

3. Membenahi Jumlah Angkot

Jumlah angkot di Kota Bogor terus membludak, sedikitnya 3.412 angkot beroperasi setiap hari. Dalam waktu dekat, dirinya akan mengkaji dan merumuskan angka ideal angkot yang boleh beroperasi di kota hujan itu.

Masalah transportasi dalam kota, diakui Bima sudah ada konsep jalan keluarnya, baik dari Dinas Perhubungan maupun lingkup universitas.

4. Menata PKL

Bima Arya akan memfokuskan penataan PKL di sekeliling Pasar Bogor dan Jembatan Merah dengan cara revitalisasi, relokasi, retribusi ke daerah pinggir kota dan represif.

Selain PKL, Bima juga akan menindak para bekingan yang selama ini meminta jatah ‘uang keamanan’ kepada para PKL.

5. Anti Mal Baru

Bima Arya menegaskan tidak akan memberikan izin mendirikan mal baru di kota Bogor. Menurutnya, mal yang ada di kota Bogor sudah cukup banyak. Jika ada pengembang yang ingin tetap mendirikan mal, keberadaannya akan dibatasi. Lokasinya pun akan ditempatkan di pinggir kota Bogor dengan catatan harus berkonsep heritage dan hijau.

6. Demografi dan Tata Ruang

10 Tahun lagi jumlah penduduk Bogor diprediksi mencapai 1,5 juta dari angka sekarang di kisaran 500 ribu jiwa. Isu demografi tersebut akan ditata melalui pendidikan dan lapangan pekerjaan.

“Agar bonus demografi yang kita nikmati akan berdampak positif, bukan menjadi generasi yang membebani,” kata Bima.

Selain itu, diperlukan penataan tata ruang kota, mengingat adanya istana kepresidenan. Bima Arya menyatakan akan membuat Bogor tidak kumuh lagi. Dia berharap agar pemerintah pusat membantu pertumbuhan Bogor.

Bima menggarisbawahi jika berbagai masalah yang dihadapi Bogor saat ini, tidak akan selesai dalam lima tahun atau satu periode kepemimpinannya. (rim/mer)

——————-
selamat bekerja
semoga amanah dalam menjalankan tugas

Menteng residents seeking property tax break-Jakarta Post

Menteng residents seeking property tax break
Indah Setiawati, The Jakarta Post, Jakarta | Jakarta | Fri, March 21 2014, 10:06 AM

Dozens of residents of the upscale Menteng area in Central Jakarta are seeking a reduction in their property tax following the administration’s decision to drastically hike the taxable value of property (NJOP) by 120 percent to 240 percent this year.

Menteng subdistrict head Sulastri said 56 residents had requested a reference letter to propose a property tax reduction since tax returns were distributed in February.

“Most residents who have asked for a reduction in the property tax live in elite RWs [neighboorhood units] such as RW 4, RW 5, RW 7 and some parts of RW 6. Many of them are retirees, while others probably inherited the houses and don’t have high positions like their parents,” she said in a phone interview Wednesday.

She said some of the residents live on upper-class streets such as Jl. Teuku Umar and Jl. Taman Suropati.

The administration estimates revenue from property and building tax will surge by 82.2 percent to 6.7 trillion (US$598.2 million) this year from Rp 3.68 trillion last year.

Recently, Governor Joko “Jokowi” Widodo promised to give tax breaks only to residents with demonstrated need. His promise is in line with Gubernatorial Decree No. 211/2012, which allows for a maximum tax reduction of 50 percent for taxpayers who cannot afford the tax and a maximum of 75 percent for war veterans.

Tumpal, a resident of Jl. Purwakarta, said he planned to seek a property tax reduction because his family was not able to pay the rising property tax. He said this year he would have to pay Rp 35 million in property tax, more than double the Rp 14 million he paid in previous years.

“I think the increase in the NJOP is fair and rational because the property prices here are skyrocketing. But personally, I feel burdened by the amount of the property tax. We need time to adjust our spending,” he said.

His now deceased father had been receiving a sizeable tax break because he was a veteran. Now, however, Tumpal has only been able to secure a 10 percent tax reduction.

“There should be a dispensation for residents who preserve their old buildings like our family. It is not easy to preserve an old building. We must struggle with the dust and use expensive paints because the walls need special treatment,” he said.

Tumpal’s Dutch colonial-era house has been declared a heritage site. The history of Menteng dates back to 1908, when the area was purchased by real estate company De Bouwploeg and developed as a housing complex for the elites.

Although a 1975 gubernatorial regulation declared Menteng a historical preservation area in the city, many houses were converted, without the city administration’s knowledge, into garish mansions that left little or no glimpse of the old architecture. Other homes were neglected and now lie in ruins, such as the famous Rumah Cantik on Jl. Cik Di Tiro.

Tumpal said several of his old neighbors who could no longer keep up with higher property tax ended up renting or selling their properties to business tycoons moving in from other upper class residential areas such as Pantai Indah Kapuk or Kelapa Gading in North Jakarta.

“The demand for houses in Menteng is higher than what’s available because this neighborhood is free from floods and safe,” he said, adding that his house was appraised at Rp 60 billion in the market.

Urban activist Marco Kusumawijaya said the property tax should be integrated with spatial planning, as it could be used as an important instrument to control land use. He said the city administration could use the property tax to protect and revitalize heritage areas.

“For example, the city can ease the tax in heritage areas such as Menteng and Kebayoran Baru, so the owners can get tax breaks for preserving old buildings,” he said.

He said a property tax break could also be used as an incentive or disincentive to control infrastructure, transportation and flooding issues. It could be used to manage the growth of industries in the capital, encourage the development of buildings with mixed functions and control the use of ground water.

Bima Arya Berjanji Akan Mendata Ulang Benda Cagar Budaya-inilah.com

Bima Arya Berjanji Akan Mendata Ulang Benda Cagar Budaya

January 25, 2014

INILAHBOGOR (KOTA BOGOR) – Kondisi bangunan SMA Negeri 1 dan SMP Negeri 1 Kota Bogor yang semula merupakan benda cagar budaya (BCB) kini hilang ditelan moderenisme arsitektur. Hilangnyanya bangunan yang menjadi Aset Nasional itu, dinilai sebagai bentuk ketidak pedulian pemerintah daerah dan jajaran pendidikan kota Bogor akan arti sejarah bagi peradaban manusia.

Menyikapi hali itu, Walikota Bogor Terpilih, Bima Arya Sugiarto mengatakan, bahwa kedepan pihaknya akan lebih menata benda-benda dan bangunan cagar budaya.

“Dengan masuknya Kota Bogor sebagai Kota Pusaka, kedepan kita akan lakukan penataan terhadap peninggalan benda-benda bersejarah di Kota Bogor. Salah satunya terkait dengan benda dan bangunan cagar Budaya.” ungkap Bima Arya kepada inilahbogor.com usai menghadiri pembukaan Depelovment Basketball Legue (DBL) di GOR Pajajaran Bogor, Sabtu (25/1/14).

Dikatakannya, Dikatakannya, Benda Cagar Budaya (BCB) adalah merupakan peninggalan sejarah yang perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak, terutama pemerintah, baik pusat, provisi dan daerah.

“Untuk itu kedepan kita akan kembali mendata benda-benda dan bangunan cagar budaya, baik itu milik pemerintah kota maupun perorangan,” katanya.

Ditanya perihal hilangnya bangunan benda cagar budaya yang kini beralih wujud menjadi bangunan bernuansa modern, Bima menuturkan bahwa pasca April 2014 mendatang pihaknya akan mengingatkan kepada pihak-pihak yang menempati bangunan bernilai sejarah dan cagar budaya untuk dapat sama-sama menjaga kelestarian bangunan tersebut, termasuk yang kini terjadi terhadap SMA dan SMP Negeri 1 Bogor.

Reporter : Herman

Bima Arya Ingin Bogor Menjadi Primadona Pariwisata-Kompas

Bima Arya Ingin Bogor Menjadi Primadona Pariwisata
Minggu, 12 Januari 2014 | 17:56 WIB

BOGOR, KOMPAS.com – Wali Kota Bogor terpilih Bima Arya menyatakan komitmennya untuk memajukan pariwisata Kota Bogor karena memiliki banyak potensi yang bisa dikelola dan menjadikannya primadona bagi masyarakat luas.

“Pemerintah Kota Bogor akan total berjuang menjadikan pariwisata Kota Bogor sebagai primadona,” ujar Bima dalam Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Bogor, di Ruang Rapat I Balaikota Bogor, Sabtu (11/1/2014).

Bima mengatakan Kota Bogor layak menjadi kota jasa dan pariwisata karena dari kajian berbagai aspek yang ada, historis, topografis, potensi, dan APBD termasuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), jasa dan pariwisata sangat menonjol di kota hujan tersebut.

“Oleh karena itu, kita perlu menggerakkan semua lini. Melihat data yang ada, dalam satu tahun jumlah kunjungan wisawatan ke Kota Bogor mencapai 3,5 juta,” katanya.

Menurut Bima, dalam mewujudkan hal tersebut Wali Kota bersama jajarannya bertugas menyiapkan infrastruktur yang bagus.

“Ke depan Kota Bogor menjadi surga bagi pejalan kaki. Bisa kita bayangkan nanti mulai dari stasiun, terminal, sekitaran keliling Kebun Raya, dan kawasan Suryakencana nyaman untuk pejalan kaki,” ujarnya.

Dikatakannya, berbagai rencana telah disiapkan dalam menata Kota Bogor sebagai primadona pariwisata. Salah satunya di kawasan Surya Kencana akan dijadikan seperti di Jalan Braga Bandung.

Di sana, masyarakat bisa nyaman berjalan kaki menikmati wisata kuliner Surya Kencana. Begitu juga disejumlah titik wisata lainnya akan dihidupkan.

Bima menambahkan, hal tersebut dapat terwujud dengan kerja sama semua pihak. Di tahun 2014 ini Pemerintah Kota Bogor agar berbenah dan 2015 siap untuk menyambut tahun yang datang.

“Tahun 2015 kita siap menyambut tamu-tamu yang datang ke Kota Bogor, sehingga warga dari berbagai kota yang datang ke sini (Bogor) tidak disambut dengan ‘billboard’ yang merusak pemandangan. Mari kita sambut wisatawan yang datang dengan aura Bogor yang luar biasa,” ujarnya.

“Kita akan cerewet tentang desain hotel yang berdiri, kalau tidak heritage jangan bangun hotel di Bogor. Jadi, nanti kalau ada pengusaha yang akan membangun hotel jangan asal modern, apalagi kalau lebih tinggi dari Tugu Kujang akan kita babat,” tegasnya.

Ketua HPI Kota Bogor, Bagus Karyanegara menyatakan, pihaknya siap menjadikan Bogor sebagai Kota tujuan utama pariwisata. “Rakercab HPI betujuan untuk bagaimana menyusun dan merumuskan Kota Bogor sebagai Kota tujuan wisata,” kata Bagus.
Editor : I Made Asdhiana
Sumber : Antara

ditunggu janjinya kang

Mencari Jalan Keluar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya-National Geographic Indonesia

Mencari Jalan Keluar Pelestarian Bangunan Cagar Budaya
Bertahun-tahun didiskusikan, apa langkah nyata kita?

Ada 59 bangunan tua Tionghoa di Jakarta yang terdaftar sebagai cagar budaya menurut SK Gubernur No.475/1993. Sebagaian besar — 57 — merupakan ruko, 1 rumah tinggal dan 1 gereja, kebanyakan berlokasi di Jakarta Barat. Bahkan yang sudah berstatus harus dipertahankan, kelestariannya pun patut dipertanyakan.

Persoalannya klise: pemilik bangunan cagar budaya tak mendapatkan insentif dari Pemerintah Daerah untuk biaya pemeliharaan yang tak sedikit itu. Langkah akhir dari si pemilik cagar budaya adalah membongkar bangunan untuk pemanfaatan ekonomi, atau menjual lahan dan bangunan itu. Sementara, pembeli yang tahu atau mungkin pura-pura tak tahu, tak menganggap penting bangunannya. Hanya butuh lahannya. Jadi, bangunan juga segera dibongkar.

Akan terjadi “ribut-ribut” sejenak – komunitas pencinta bangunan tua bersejarah akan membuat petisi, protes agar bangunan itu dipertahankan. Tapi imbauan ini biasanya tak cukup kuat untuk meluluhkan hati si pemilik atau si pembeli.

Ini terjadi misalnya pada Rumah Karawaci, peninggalan tuan tanah Kapiten Oei Djie San di Kota Tangerang yang dibongkar pada 2009. Upaya komunitas Walibatu (Warga Peduli Bangunan Tua) pun terhenti.

Jika alasan pemilik “Rumah Cantik Menteng”, bangunan cagar budaya yang dijual kepada putra orang nomor satu Indonesia, semata karena alasan ekonomi, tak kuat membayar pajak di kawasan elite itu, pemilik bangunan cagar budaya Tionghoa punya alasan lain untuk tak mempertahankannya:

Bangunan Tionghoa punya kecenderungan menjadi sasaran amuk massa bila terjadi kerusuhan berbau etnis. Ini mengemuka dalam Diskusi “Bangunan Tua Tionghoa di Jakarta, Sejarah yang Terlupakan” di Museum Bank Indonesia, Minggu, (28/7), yang menampilkan pembicara antara lain, pemerhati sejarah dan budaya Tionghoa, Mona Lohanda. Diskusi ini digelar Kecapi Batara — Kelompok Pecinta dan Pemerhati Bangunan Tua Nusantara.

Jalan keluarnya? “Sebenarnya ada dana pemeliharaan di Pemda DKI, tapi hanya untuk bangunan yang dimiliki oleh Pemda DKI. Jadi, desak kami, ajukan permintaan agar keluar surat keputusan yang mengatur anggaran untuk bangunan cagar budaya,” papar Andrian Attahiyat, Kepala Balai Konservasi DKI Jakarta.

Dan tak kalah penting, adanya bela rasa dan pengakuan tulus, bahwa Tionghoa adalah bagian sejarah dan masyarakat kita. Jangan terpaku mewarisi politik pecah belah Hindia Belanda tentang pengistimewaan sekaligus pengisolasian masyarakat Tionghoa di masa lalu. Persamaan hak dan kewajiban sebagai jiwa Kemerdekaan Indonesia selayaknyalah berlaku bagi siapa pun yang menjadi warga negara Indonesia.

(Christantiowati)

Lestarikan Masa Lalu Untuk Masa Depan

Lestarikan Masa Lalu Untuk Masa Depan-Laretna T. Adishakti

04 February 2013
By Tahun Pusaka 2013

Komandan Jerman menolak ketika diperintahkan untuk membakar kota Paris. Karena kota ini kaya akan pusaka cerita Gubernur Provinsi Gyeongsangbuk-Do Korea Selatan, Kwan-Yong Kim. Cerita tersebut merupakan bagian film €Paris Burning€ yang ditontonnya ketika kecil. Kenangan kanak-kanak ini mengawali sambutannya dalam pembukaan UNESCO Asia-Pacific Mayors Forum for World Heritage Cities (APMF2012) akhir bulan Agustus lalu di Kota Gyeongju, Korea Selatan. Ungkapan tersebut mensiratkan pemahaman keunggulan nilai pusaka kota merupakan persoalan penting.

Sementara Kishore Rao, Direktur UNESCO World Heritage Center yang berkedudukan di Paris, dalam kesempatan yang sama menegaskan pentingnya pengelolaan perubahan dalam Kota Pusaka. Upaya pelestarian pusaka perkotaan telah berevolusi. Dari monumen dan situs arkeologi ke kota yang hidup dan saujana (cultural landscape). Dari restorasi ke regenerasi serta panduan perencanaan dan disain perkotaan. Dari mono-disiplin ke integrasi dan perencanaan partisipatori.

Semua pihak meyakini, walikota/bupati memegang peran kunci dalam mengelola perubahan. Mereka dituntut untuk mampu menyeimbangkan antara pelestarian pusaka dan tekanan modernisasi. Agar diperoleh pertumbuhan yang berkelanjutan dan kualitas hidup bagi penduduknya. Untuk itulah UNESCO-APMF 2012 di Korea Selatan tersebut diselenggarakan. Forum juga bertujuan untuk menjadi ajang saling berbagi pengalaman antar kota-kota di Asia-Pasifik. Diharapkan ke depan tumbuh erat jejaring antar kota-kota tersebut.

Untuk memenuhi tujuan tadi, tiga tema diangkat dalam Forum. Pertama, ekonomi pusaka perkotaan difasilitasi oleh Donovan Rykema (Amerika Serikat). Kedua, mobilisasi swasta dan peran serta masyarakat untuk pusaka perkotaan, difasilitasi penulis. Ketiga, pelestarian pusaka dan keberlanjutan perkotaan oleh Dr. Kongjian Yu (RRC).

Kenyataan peran pimpinan daerah dalam pengelolaan kota pusaka perlu pula diimbangi dengan kinerja para pemangku kepentingan lain secara menyeluruh. Seperti fokus pertemuan para ahli dalam Pengelolaan Kota Pusaka di Asia-Eropa: Peran “Public-Private Partnership” yang diselenggarakan oleh Asia Europe Foundation (ASEF) dan Universitas Gadjah Mada bulan Juli lalu di UGM, Yogyakarta. Salah satu rekomendasi pertemuan ini menyebutkan berbagai pihak perlu paham bahwa pusaka perkotaan tidak terbatas pada monumen. Perlu mempertimbangkan elemen sosial-budaya dan ekonomi lingkungan lokal yang terajut membentuk pusaka urban€.

Direkomendasikan pula agar pemerintah mendorong dan mengambil bagian dalam interaksi antara persoalan pusaka budaya dan dunia usaha. Demikian pula dalam memperkuat peran serta masyarakat. Termasuk menindak lanjuti berbagai inisiatif yang sudah dilakukan mereka. Ke sembilan rekomendasi yang dihasilkan pertemuan ahli ASEF-UGM disampaikan dalam Pertemuan ASEM Menteri-menteri Kebudayaan ke 5, 18-19 September 2012 di Yogyakarta. Bertemakan €Pengelolaan Kota Pusaka untuk Masa Depan Berkelanjutan.

Ada 4 sub tema yang akan dibahas dalam pertemuan Menteri-menteri Kebudayaan Asia dan Eropa tersebut:

Memperkuat tata kelola kota pusaka
€Historic Urban Landscape€ dalam menjawab tantangan dan bencana
Kota pusaka sebagai generator ekonomi kreatif
Promosi kota pusaka untuk membangun pemahaman lintas budaya.

Pembahasan pengelolaan kota pusaka dunia yang gencar ini sebenarnya telah dimulai sejak tahun 90an. Piagam Washington tentang Pelestarian Kota dan Kawasan Perkotaan Pusaka (1987) menandai gerakan ini. Berbagai lembaga dunia yang terkait memperkuat dengan menyusun pedoman dan rekomendasi. Di antaranya, Pedoman Pengelolaan Kota Pusaka Dunia yang dikeluarkan oleh Organization of World Heritage Cities (2003). Juga Rekomendasi UNESCO tentang Historic Urban Landscape (2011).

Bagaimana Indonesia?

Persoalan Kota Pusaka di Indonesia, walaupun asetnya luar biasa terserak di segala penjuru, adalah hal baru. Meskipun demikian beberapa walikota yang tanggap dan didukung Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) tahun 2008 mengupayakan langkah baru.

Sebelum dimulainya konferensi Euro-Asia World Heritage Cities di Solo, 25 Oktober 2008 langkah baru tersebut terwujud. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI meluncurkan terbentuknya Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Berawal dari 12 walikota/bupati sebagai anggota, kini telah meningkat menjadi 48 anggota.

Direktorat Tata Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum menanggapi upaya JKPI dengan meluncurkan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP)Indonesia, April 2012. Salah satu tujuannya adalah secara teknis memfasilitasi penyusunan Rencana Aksi Pengelolaan Kota Pusaka (RAKP). Rencana tersebut sangat diperlukan dalam pelestarian kota pusaka. Dengan RAKP langkah-langkah sistematik dilaksanakan agar keunggulan nilai pusaka kota yang dimiliki terlindungi, dikembangkan dan termanfaatkan dengan benar.

Melalui P3KP disepakati pula Kota Pusaka Indonesia adalah kota yang memiliki kekentalan sejarah yang bernilai. Memiliki pusaka alam, budaya baik ragawi dan tak-ragawi yang terajut secara utuh sebagai aset pusaka. Dapat berupa kawasan pusaka sebagai bagian dari kota tersebut yang hidup dan perlu berkembang serta dikelola secara efektif. Pengertian kota juga termasuk kabupaten.

Banyak pihak memang telah mulai melangkahkan upaya untuk mengelola kota pusaka. Namun kenyataan lapangan di Indonesia bahkan Asia-Pasifik, memang masih saja menunjukkan terusik, terusak dan terobohkan berbagai aset pusaka kota. Terkadang banyak pihak yang berusaha menyelamatkan tetapi tidak tahu kemana harus mengadu. Bagaimana harus berlaku. Bahkan tidak jarang para pelestari menghadapi tembok tebal dalam berupaya. Padahal, sebagaimana salah satu rekomendasi APMF2012 , pemerintah perlu terus mendorong kreativitas dan memupuk rasa bangga masyarakat terhadap kota pusakanya.

Memang, seperti disepakati para ahli dalam pertemuan ASEF-UGM, penyelamatan dan pembangunan pusaka merupakan komitmen jangka panjang. Upaya yang mensyaratkan kreatifitas, pendekatan fleksibilitas dan kebersamaan berbagai pemangku kepentingan.

Ditegaskan oleh Rykema (2012) Sudah bukan saatnya memilih pelestarian pusaka atau pembangunan ekonomi. Itu adalah keliru. Keduanya merupakan satu kesatuan proses yang perlu dijalankan bersama dengan benar€. Oleh karena itu upaya integrasi multi sektor dan disiplin, nasional dan daerah, serta keterlibatan masyarakat dan pihak swasta di Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Pelestarian pusaka kota bukan hanya untuk memugar monumen, bukan pula untuk turis saja.

Upaya integrasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota pusaka yang dinamik dan masa depannya. Hingga mampu secara mandiri melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan keunggulan pusaka kota. Bahkan menghasilkan ”pusaka-pusaka masa depan” yang unggul tanpa merusak yang lama. Semoga.

Ditulis oleh: Laretna T. Adishakti (Dewan Pimpinan BPPI, Dosen dan Peneliti Jurusan Arsitektur, Fak. Teknik UGM)

(Tulisan “Kolom” di Buletin Kota Pusaka 1, November 2012, Ditjen Tata Ruang Kementrian Pekerjaan Umum)

Pola Hunian Unik dan Mistis di Jantung Bogor-National Geographic Indonesia

Pola Hunian Unik dan Mistis di Jantung Bogor

Pecinan Surya Kencana dan Kampung Arab sengaja didesain para leluhur kita untuk “menggunting” Istana Bogor.

“Kalau klenteng itu dibongkar, klenteng mah kan engselna gunting, kalo dibongkar Bogor hancur atuh!” ujar penjual lumpia basah yang keturunan Cina kepada Agni Malagina tatkala dia melancongi kota itu.

Agni merupakan sinolog dari Program Studi Cina di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Menurutnya, ungkapan dari penjual lumpia itu ada benarnya. “Bahwa permukiman di Kota Bogor ini telah didesain seperti gunting dengan Klenteng Dhanagun sebagai poros engselnya,” ujar Agni pada kesempatan lain.

“Bagian pangkal pegangan gunting adalah kampung Cina dan kampung Arab, sedangkan Istana Bogor berada di antara bagian ujung gunting yang tajam.”

Paparan Agni tersebut berkait dengan mitos Situ Gunting yang berkembang dalam budaya tutur masyarakat Bogor. Bahwa dua bilah sisi tajam gunting imajiner tersebut membentuk telaga berpola segitiga yang kini dijuluki warga sebagai Situ Gunting. Lokasinya di Kebun Raya, tepat dibelakang Istana Bogor. Toponimi telaga itu rupanya menegaskan kembali tentang adanya garis imajiner yang membentuk pola bak alat pangkas.

Baca lebih lanjut

Di Bogor, Daendels Menanam Pohon-Republika

Di Bogor, Daendels Menanam Pohon
Minggu, 20 Oktober 2013, 10:55 WIB

Oleh Angga Indrawan

REPUBLIKA.CO.ID, Jalan Raya Bogor berujung di kawasan Jambu Dua yang sekarang menjadi pusat perbelanjaan pertama kali jika kita menyambangi Kota Bogor. Sebenarnya jika tetap lurus, kita dapat menempuh perjalanan hingga menuju Ciawi, salah satu lokasi yang juga dijadikan proyek jalan Daendels.

Kendati demikian, jalur yang saat ini bernama Jalan Pajajaran, sesungguhnya bukanlah jalur yang dibangun dari fondasi Jalan Daendels. “Jalan Pajajaran baru dibuat pada awal 1970-an,” ujar Hendra M Astari menjelaskan.

Menyisir Jalan Daendels di Bogor dari Jambu Dua, perjalanan berbelok ke arah timur dengan menyusuri Jalan Ahmad Yani. Jalur ini merupakan akses terdekat menuju kawasan Air Mancur yang kemudian menghubungkan dengan Istana Bogor yang juga dibangun Daendels pada saat kepemimpinannya.

Jalan Ahmad Yani bernuansa teduh lantaran pepohonan yang masih tertanam rapi di kanan-kiri jalan. Ada inspirasi Daendels di sini. Konon, selain membangun pos-pos penjagaan di tiap 45 kilometer jalan, Daendels juga menanam pohon kenari atau pohon asem di pinggiran jalan.

Selain memberikan kesan asri, peruntukan pepohonan ini juga untuk memisahkan proyek jalan dengan perkebunan yang dikelola Belanda. Pada zaman tersebut, Bogor memiliki perkebunan luas dengan komoditas mayoritas perkebunan karet. Perkebunan karet, bahkan tersebar hingga Kabupaten Bogor di wilayah barat yang berbatasan langsung dengan Rangkasbitung, Banten.

Baca lebih lanjut

Jejak Tionghoa dan Arab di Lembah Salaka-Kompas

Jejak Tionghoa dan Arab di Lembah Salaka

Penulis :
Ambrosius Harto Manumoyoso
Sabtu, 2 November 2013 | 10:20 WIB

Bangunan tua milik keluarga Kapitan Tan berarsitektur Indis di Jalan Suryakencana, Bogor Tengah, Kota Bogor, yang masih berdiri, terawat, dan menunjukkan sisa keberadaan kawasan Tionghoa Bogor. | KOMPAS/AMBROSIUS HARTO

KOMPAS.com – ”Deep down below us lay a valley of eden,” kata Scidmore, pelancong terkenal asal Inggris, tentang keindahan lanskap kaki Gunung Salak seperti tertulis dalam Buitenzorg Kota Terindah di Jawa, Catatan Perjalanan dari Tahun 1860-1930 karya Ahmad Baehaqie. Di lembah inilah terdapat jejak kehidupan beragam bangsa, termasuk Tionghoa dan Arab.

Hingga 1579, hamparan berbukit di kaki Salaka yang diapit Ciliwung dan Cisadane dan dibelah Cipakancilan terdapat Kerajaan Sunda Galuh dengan ibu kota Pakwan Pajajaran.

Sejak 1619, di sedikit sisa reruntuhan akibat pemusnahan oleh Kesultanan Banten, bangsa Eropa, Tionghoa, Arab, dan Sunda (pribumi) terbangun kawasan bernama Buitenzorg. Inilah cikal bakal Kota Bogor.

Seperti pernah diutarakan oleh Scidmore, keindahan Buitenzorg era kolonial amat terkenal di kalangan pelancong Eropa. Namun, Bogor yang sekarang tidak lagi pantas disebut valley of eden. Lingkungan sekarang sudah semrawut dan tak lagi sejuk.

Baca lebih lanjut