Pemerhati Desak Pemkot Bogor Cabut BCB yang dirusak-bogornews.com

Pemerhati Desak Pemkot Bogor Cabut BCB yang dirusak
Minggu, 12 Oktober 2014 – WIB |

BOGORnews, == Para pemerhati budaya dan budayawan Kota Bogor menyesalkan, banyaknya Benda Cagar Budaya (BCB) terutama gedung– gedung tempo dulu yang dipugar dengan menghilangkan aslinya.

BCB yang tidak bergerak, telah beralih fungsi seperti bangunan percetakan di Jalan IR. H. Juanda yang telah berubah menjadi restoran siap saji, bangunan hotel peninggalan kolonial yang berubah menjadi mall, dan gedung SMP Negeri 1 yang telah direnovasi dengan menghilangkan asilnya.

Rachmat Iskandar salah satu pemerhati BCB menyesalkan pemerintah Kota Bogor yang tidak bisa mempertahankan gedung– gedung peninggalan tempo dulu yang telah masuk BCB. “Ironis lagi gedung – gedung yang masuk BCB telah tercatat di Kemenbudpar, “ ujar Rachmat.

Salah satu gedung SMP Negeri 1 yang berlokasi di Jalan Ir. Juanda, padahal gedung Sekolah tersebut sudah tercatat di Kementerian sebagai BCB. “ Mestinya pihak Disbudpar memberikan masukan kepada Dinas Pendidikan untuk tidak memugar secara total gedung SMP Negeri 1. Silahkan saja kalau direnovasi tapi tidak menghilangkan yang menjadi ciri BCB nya, “kata Rahmat.

Terkait dengan pemugaran gedung SMP Negeri 1 Rachmat mengatakan, bahwa pihaknya telah mengingatkan kepada Disbudpar agar SMP Negeri 1 Bogor tidak dipunggar secara total. Sayangnya tidak ditanggapi, dan pemugaran SMP Negeri terus berlanjut,

“Saya telah mengingatkan ketika Kepala Disbudpar dijabat oleh Pak Yan Tan Rusmana, namun tidak mendapat tanggapan, “ sesalnya.

Rachmat menuturkan, pihaknya juga telah berkonsultasi dengan Departemen Ilmu Pengetahuan Arkelologi Universitas Indonesia, terkait banyak BCB di Kota Bogor yang telah dipugar dengan menghilangkan aslinya “Pada bulan Agustus 2013 lalu saya mendatangi Prof. Dr. Agus Munandar dari Departemen Ilmu Pengetahuan Arkeologi UI untuk berkonsultasi terkait BCB yang dirubah, “ kata dia.

Selain mendatangi UI, kata Rachmat, pihaknya juga mendatangi Balai Pelestarian Peninggalan Pubakala (BP-3) Serang. Untuk diketahui wilayah kerja BP-3 Serang meliputi Jawa Barat, Banten dan Lampung.

Rachmat menuturkan, dari hasil konsultasi dengan Departemen Ilmu Pengetahuan Arkeologi UI BP-3 Serang, Pemkot Bogor harus segera mengajukan pencabutan Kepada Kementerian terkait sehingga gedung yang telah dipugar dicabut dari catatan BCB.

Nantinya, kalau sudah dicabut gedung yang telah dipugar hanya dicatat sebagai tinggalan BCB, bukan lagi BCB. Jika hal ini tidak dilakukan, Pemkot Bogor telah melakukan kebohongan Publik, “ tukasnya.

Sementara itu Kepala Disbudpar Kota Bogor Shahlan Rasyidi membenarkan banyak BCB di Kota Bogor terutama gedung– gedung tempo dulu yang dipugar dengan menghilangkan aslinya dan bahkan telah beralih fungsi.

Shahlan mengatakan, salah satu BCB yang terancam keberadaannya, dua bungker di Lawang Gintung Kecamatan Bogor Selatan. Dua bungker masuk peninggalan BCB rencananya akan dibeli untuk menjadi aset Pemerintah Kota Bogor.

“Saat ini benda bersejarah itu masih dimiliki Bank Mandiri. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Disbudpar tahun 2010 kedua bungker tersebut masuk dalam BCB yang harus dilestarikan, “ kata Shahlan.

Ia tidak menginginkan BCB itu hilang mengingat Disbudpar sudah bersusah payah melakukan penelitian. Untuk proses pembelihan lahan Shahlan telah meminta kepada pihak ketiga untuk tidak menaikan harga jual, karena peruntukan lahan tersebut untuk kepentingan masyarakat yang rencannya akan menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH). “Harga jual lahan diperkirakan Rp1 Juta per meter dengan luas diperkirakan 4000 meter persegi, “ ungkapnya.

Shahlan menambahkan, ketika dirinya menjabat Kepala Bidang Kebudayaan pada Disbudpar, ada 24 BCB yang tidak bergerak di Kota Bogor sudah tercatat di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar).(iso)

note : SMPN 1 yang notabene milik pemkot aja ga bisa dipertahanin :(, masih mau beli bunker?
pertanyaan untuk kadisbudpar : masa dari dulu benda cagar budaya Bogor “cuma” 24 pak?

Pelestarian Bangunan Kuno di Kota Bogor Akan diatur dalam Perda -bogornews.com

Pelestarian Bangunan Kuno di Kota Bogor Akan diatur dalam Perda
Sabtu, 11 Oktober 2014 – WIB

BOGORnews, == Pemerintah Kota Bogor telah menyampaikan perubahan terhadap Peraturan Daerah (Perda) No : 7 tahun 2006 tentang Bangunan Gedung kepada DPRD Kota Bogor untuk bisa ditetapkan menjadi Perda yang definitif.

Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman menjelaskan, perubahan Perda No : 7 tahun 2006 dibutuhkan sehingga Kota Bogor memiliki Perda yang lebih efektif dalam mengatur perihal pengawasan, pengendalian, pemanfaatan ruang Kota serta bangunan Gedung.

Usmar menjelaskan, dalam perubahan perda No : 7 tahun 2016 diantaranya mengatur tentang pelestarian bangunan – bangunan gedung yang tergolong sebagai pusaka Kota Bogor. “ Kita ketahui bahwa Kota Bogor menjadi salah satu anggota dari kota-kota pusaka Indonesia, “ kata Usmar.

Oleh kerena itu, lanjut Usmar, Kota Bogor perlu mempunyai peraturan tentang bangunan – bangunan berarsitektur kuno, bersejarah yang perilu dilindungi dan dilenstarikan.

Dalam perda itu, kata Usmar, Pemerintah Kota Bogor bisa membongkar bangunan – bangunan gedung yang dinilai tidak sesuai dengan perizinannya atau bahkan melanggar izin yang telah diberikan.

Selama ini, diakui Usmar, pembongkaran terhadap bangunan seperti itu, biayanya menjadi tanggungan si pemilik. Namun, ketentuan tersebut ada kalanya tidak dapat dilaksanakan antara lain karena pemilik bangunan beralasan tidak ada biaya atau belum punya biaya.

Makanya, jelas Usmar, melalui perda ini akan diatur tentang biaya pembongkaran yang bisa ditanggung Pemerintah Kota Bogor. Jadi, pembongkaran perlu dilakukan agar penindakan terhadap bangunan pelanggar izin bisa berjalan optimal, “ kata Usmar saat menyampaikan enam Raperda kepada DPRD Kota Bogor.

Enam raperda tersebut yaitu Rancangan APBD perubahan tahun 2014, Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2014-2019, Raperda Penyelenggaraan Reklame, Raperda Penyelenggaraan Jalan, Raperda Bangunan Gedung, dan Raperda Retribusi Perizinan Tertentu. (iso)

note : sekalian aja pak , itu yang bangunan cagar budaya juga pada ga punya imb, melanggar kan? rubuhin semuanya :D

Perlu Perda Lindungi Cagar Budaya -Media Indonesia

Perlu Perda Lindungi Cagar Budaya


BANYAKNYA bangunan purbakala dan aset bersejarah di Bogor yang hilang tanpa kejelasan membuat sedih warga Indonesia, khususnya Bogor. Banyak komunitas di Bogor yang menyayangkan kerja para pegawai Pemkot Bogor, sehingga banyak aset bersejarah yang hilang.

Salah satu komunitas yang peduli mengawasi bangunan-bangunan cagar alam itu ialah Bogor Historia.

Yudi Irawan, pengurus Bogor Historia mengatakan benda cagar budaya yang berada di Kota Bogor perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah kota, provinsi, bahkan pemerintah pusat. Namun, yang terpenting dari masyarakat Bogor.

Menurut Yudi, bangunan-bangunan itu merupakan bukti-bukti sejarah yang bisa dipelajari anak-anak. Terlebih, benda cagar budaya tersebut bisa dijadikan aset bagi pemerintah di bidang pariwisata dan kebudayaan. “Namun, jika tidak diperhatikan, ya akan menjadi cerita kosong,“ ujarnya.

Untuk melestarikannya, tambah Yudi, Pemkot Bogor harus segera memiliki perda soal benda cagar budaya, agar tidak lagi ada benda/bangunan cagar budaya yang hilang atau beralih fungsi.

Selain itu, pemilik-pemilik rumah zaman dulu seperti rumah Belanda dan peninggalan warga negara asing lainnya seharusnya juga dibebaskan dari pajak atau diberikan bantuan dana agar mereka tidak merasa berat dalam melakukan perawatan tempat tinggal mereka.

“Ya, jika pemerintah merasa anggarannya kurang, mereka kan bisa menggandeng perusahaan-perusahaan melalui CSR yang memang respect terhadap aset-aset sejarah kita.“

Alex Solihin, anggota Komisi D DPRD Kota Bogor, yang membidangi masalah pendidikan, kesehatan, dan pariwisata mengatakan pihaknya turut prihatin dengan kondisi bangunan cagar budaya di Kota Bogor.

Oleh karena itu, dia siap membantu dengan turut mendorong lahirnya perda. Bahkan, lanjutnya, kalau sifatnya darurat, tidak perlu menunggu lahirnya PP. “Saya juga di balegda (badan legislatif daerah). Saya akan bantu. Kalau memang darurat, kita buat saja perda.Tidak perlu nunggu PP.“

Dia mengatakan tinggal pihak dinas mengajukan laporan dan permohonan ke dewan, juga ke tingkat provinsi bahwa ini sifatnya darurat.

Pendapat berbeda diungkapkan Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman. Usmar yang ditemui saat hendak menghadiri sidang paripurna penyampaian raperda (rancangan peraturan daerah) mengatakan perda bangunan cagar budaya akan dipikirkan nanti.“Walaupun perdanya sendiri harus menunggu peraturan induknya dulu,“ kata Usmar.

Selain upaya memperkuat regulasi dengan mendorong lahirnya perda khusus tentang bangunan cagar budaya, dinas pariwisata juga berencana memotong pajak sebesar 25% bagi rumah yang merupakan cagar budaya. “Kalau membebaskan sih enggak. Potongan 25% akan kita ajukan,“ kata Shahlan.

Salah seorang pemilik rumah cagar budaya, Mario, mengatakan dari dulu hingga saat ini, tidak ada perhatian.Bahkan ia mengatakan tidak berharap banyak pada pemkot. “Harapan sih tipis sama orang pemkot. Mereka biasanya minim penghargaan pada cagar budaya,“ katanya.

Saat menanggapi wacana Pemkot Bogor melalui dinas pariwisata yang akan memotong pajak sebesar 25%, ia mengatakan ide itu lumayan bagus.(DD/J-2)

note : makin ga jelas kebijakan pemkot :D, padahal dirjen pajak aja lebih peduli :(
btw saya bilang pemotongan pajak bagus, ada niat tapi ga ada gunanya kalo nilainya segitu :D

Mengingat Bogor Tempo Dulu yang Manusiawi-Kompas

Mengingat Bogor Tempo Dulu yang Manusiawi
Selasa, 24 Juni 2014 | 17:07 WIB

LEBIH dari 100 foto tua dan baru dipamerkan melalui ”Catatan Sejarah Kota Bogor dalam Foto”, di Lantai 3 Bogor Trade Mall, Senin (23/6/2014).

Ada foto yang menerangkan Stasiun Bogor dibangun pada 1872. Pembangunan itu untuk mempercepat lalu lintas barang dan manusia antara Buitenzorg (Bogor) dan Batavia (Jakarta) menggunakan kereta api, yang sebelumnya bergantung pada kereta kuda.

Foto lain bercerita, di depan Stasiun Bogor pada 1910, dibangun Taman Wilhelmina atau Taman Kebon Kembang. Pada 1970, sebagian kawasan diubah menjadi terminal angkutan kota.

Namun, usia terminal tidak bertahan lama. Taman Wilhelmina diubah menjadi Taman Topi yang sampai kini terdiri atas Taman Ade Irma Suryani dan Plaza Kapten Muslihat.

Jadi, sebelum Terminal Taman Topi ditutup, pengunjung yang naik kereta dapat turun di Stasiun Bogor kemudian menyeberang dan melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan kota. Inilah bukti bahwa sebelum diubah menjadi Taman Topi, sistem angkutan umum di Kota Bogor pernah terintegrasi.

Apalagi, di luar gerbang Stasiun Bogor, saat Terminal Taman Topi masih ada, juga ramai deretan delman, becak, dan bemo. Pengunjung bebas memilih menikmati Bogor dengan pelbagai sarana transportasi.

Kendali banjir

Foto lain bercerita bahwa, jauh sebelum ada Kanal Barat dan Kanal Timur di Jakarta, ada Kanal Selatan di Bogor. Belanda membangun Kanal Selatan yang notabene adalah sodetan Ciliwung-Cisadane pada 1854.

Saluran itu dulu disebut Westerlokkan atau Kanal Barat Ciliwung. Alirannya dari Empang melalui Paledang, Jembatan Merah, Ciwaringin, Jalan Sumeru, dan Cimanggu Barat. Di tempat terakhir itu, kanal bercabang ke kiri menuju Cilebut dan ke kanan ke Jalan RE Martadinata dan Jalan Ahmad Yani dan masuk lagi ke Ciliwung.

Dari foto terungkap bahwa sejak dulu pun Belanda memikirkan bagaimana Ciliwung diatur agar limpahan airnya tidak membanjiri Ibu Kota (Batavia atau Jakarta), dengan membagi debit air ke Cisadane yang bermuara di Tangerang.

Nah, saat Jakarta banjir tahun ini, didengungkan kembali proyek sodetan Ciliwung-Cisadane. Lho, bukankah Belanda sudah mewariskan Kanal Selatan yang kini tak terurus itu?

Foto lain bercerita keberadaan Witte Pall (tugu) yang dibangun pada 1839 untuk peringatan kembalinya Buitenzorg dari penguasaan Inggris ke Belanda.

Tugu itu dulunya berlambang Kerajaan Belanda dan berfungsi sebagai titik triangulasi primer. Penanda koordinat letak ketinggian Bogor dari permukaan air laut. Nah, koordinat itu diperlukan bagi pembuatan peta topografi yang mencakup lahan di Pulau Jawa.

Tugu itu dihancurkan pejuang Indonesia pada 1958. Senasib dengannya adalah kuburan Belanda (memento mori) yang kini menjadi Terminal Merdeka, Pasar Kebon Jahe, dan Pusat Grosir Bogor.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengakui, foto-foto yang dipamerkan amat penting untuk membuktikan sejarah Kota Bogor dalam perjalanan Republik Indonesia.

Sayang, kemauan untuk merekam perjalanan sejarah dalam dokumentasi tulisan dan foto masih lemah. ”Budaya kita itu kuat dalam penuturan, bukan dokumentasi, sehingga masa lalu mudah dilupakan,” katanya.

Pameran juga menunjukkan masih banyak bangunan bersejarah yang tersisa dan terpelihara sehingga patut dijaga. Lihatlah, pada masa lalu, Kota Bogor dinamai Buitenzorg karena tidak ada masalah atau sangat nyaman dan manusiawi. (Ambrosius Harto)

Klenteng Cina Rasa Eropa di Pecinan Bogor-National Geographic Indonesia

Klenteng Cina Rasa Eropa di Pecinan Bogor

Kisah vila peristirahatan berlanggam arsitektur indis yang menjelma sebagai klenteng. Warga pecinan setempat pernah menjulukinya sebagai “Gredja Boeloloe”.
klenteng-cina-rasa-eropa-di-pecinan-bogor
Wihara Dharmakaya di Jalan Siliwangi, kawasan pecinan Bogor. Awalnya merupakan tempat peristirahatan yang dibangun sebuah keluarga Tionghoa di Batavia. Dari puncak menara, yang bisa disetarakan dengan pagoda, tampak pemandangan Gunung Salak nan membiru. (Agni Malagina)

Memasuki halaman muka Wihara Dharmakaya, kita disuguhi pemandangan bangunan klenteng yang tak biasa. Gedung berarsitektur campuran gaya Eropa, Cina, Indonesia berpadu dengan warna merah simbol kebahagiaan. Awalnya bangunan ini merupakan wihara Buddha yang dikenal sebagai Kwan Im Bio.

Saya lebih suka menjulukinya “Si Klenteng Cina Rasa Eropa”. Bangunan ini memiliki menara di sisi kanannya yang berjendela gaya gotik. Tampaknya, menara ini disetarakan dengan pagoda. Pagoda yang dalam bahasa Sansekerta disebut stupa, yang merupakan langgam bangunan asli India, dikenal dengan nama “dhagoba”—berasal dari “dhatu-garbha”. Artinya, tempat penyimpanan keramat yang dalam agama Buddha merupakan simbol ketaatan yang tak tertandingi.

Orde baru telah mengganti nama klenteng ini dari Kwan Im Bio menjadi wihara Dewi Chandra Naga Sari, dan sekarang berubah menjadi vihara Dharmakaya. Wihara ini dikelola oleh Wihara Vajra Bodhi yang bertempat di Tajur, Bogor. Rupanya, bangunan ini merupakan bekas bangunan langgam arsitektur Eropa yang pernah disebut warga sebagai “Gredja Boeloloe”.

preview
Potret para biksuni, yang pernah mendarmakan hidupnya di Wihara Dharmakaya Bogor, membuat suasana wihara ini hangat dan tampak privat. (Agni Malagina)

Istilah “klenteng” merupakan adaptasi hasil pendengaran penduduk lokal terhadap bunyi dari “Guan Yin Ting” (kediaman Dewi Kwan Im atau Kwan Im Teng dalam bahasa Hokkian). Sepanjang pecinan Bogor di Jalan Suryakencana hingga Jalan Siliwangi terdapat tiga buah klenteng: Hok Tek Bio (Wihara Dhanagun), Klenteng Phanko (Pan Ku), dan Wihara Dharmakaya yang terletak di Jalan Siliwangi.

Konon, bangunan tersebut merupakan vila keluarga Tionghoa asal Kwitang, Batavia—kini Jakarta Pusat—pada awal abad ke-20. Kemudian didarmakan untuk biara, dan pada awal 1940-an, klenteng ini dikelola oleh seorang biarawati atau suhu wanita yang bernama Tan Eng Nio.

Bubungan pada atap sisi depan bergaya atap ekor walet yang merupakan bangunan dengan arsitektur khas daerah selatan Cina. Dua naga saling berhadapan, dengan imaji bulat dengan rambut api yang berada di antara keduanya. Inilah ciri khas atap klenteng.

Dalam tradisi Cina, naga merupakan simbol kekuatan “Yang” dan simbol kesuburan. Naga pun dapat dimaknai sebagai lambang supremasi kekuatan tertinggi dalam dunia mitologi Cina. Sementara, imaji bulatan berambut api dapat diinterpretasikan sebagai mutiara, matahari, atau bulan.

Tidak seperti klenteng lain, tak ada ukiran dan pahatan motif poenix, naga atau bunga dedaunan pada bubungan atap vihara Dharmakaya.

Dua singa penjaga gerbang pun menyambut kadatangan setiap tamu. Kedua patung singa ini biasa diletakkan di muka bangunan pemerintahan dan wihara/klenteng. Singa yang terletak di sebelah kanan biasanya lengkap dengan ornamen bola di kaki kanannya. Simbol laki-laki atau kekuatan maskulin. Sementara singa di sebelah kiri dengan anak singa di kaki kirinya merupakan simbol kekuatan feminin. Keduanya merupakan penjaga bangunan penting dan simbol harmoni Yin dan Yang.

Teras bangunan indis ini memiliki pintu dengan ornamen pada papan jati berupa ukiran ular naga dan burung phoenix. Satwa bersayap itu merupakan mahkluk supranatural dalam kepercayaan tradisional Cina yang merupakan simbol kekuatan Yin, pelengkap Yang yang dimiliki oleh Naga. Keduanya merupkan simbol harmoni.

preview2
Ruangan dalam Wihara Dharmakaya yang memadukan beragam budaya: tradisi Cina dan arsitektur indis. Tampak hiasan pintu bergaya neoklasik dengan balutan art-deco khas awal abad ke-20 yang menghubungkan dua ruangan. (Agni Malagina)

Pada sisi lain terdapat gambar kelelawar sebagai simbol kemakmuran. Keindahan bangunan ini pun disempurnakan oleh lengkung-lengkung bingkai pintu dan jendela khas bangunan Indis. Tak ketinggalan lantai keramik djadoel bercorak dekoratif kuning kunyit dan coklat yang menambah kesan antik bangunan tersebut.

Memasuki ruang utama, pengunjung akan di sambut oleh Dewa Kuan Ong, sang dewa rejeki. Tak jauh darinya terdapat tangga naik ke pagoda. Tidak seperti pagoda lain yang beranak tangga 21 yang melambangkan kebaikan, jumlah anak tangga wihara ini hanya 19. Sesampainya di atas, kita akan menemui Dewa Langit, San Tian Ong. Dari ruangan kecil di ujung menara itu kita dapat menikmati pemandangan Gunung Salak.

Kembali ke ruang utama yang memajang altar Dewi Kwan Im yang berukir flora dan fauna; juga foto dari biksuni yang pernah mengabdi di wihara Kuan Im tersebut.

Kesan privat lebih terasa di vihara ini. Konon menurut cerita penjaga vihara tersebut, tempat itu lebih sering digunakan oleh keluarga para biksuni untuk beribadah. Namun pada saat sembahyang Imlek, Cap Gomeh dan ulang tahun Dewi Kwan Im, wihara ini akan ramai dikunjungi umat.

Di halaman samping dan belakang terdapat bangunan tambahan untuk klinik pengobatan yang dijembatani oleh taman kecil nan asri, ibarat berada di sebuah vila peristirahatan yang tenang.

Demikianlah kisah Vihara Dharmakaya yang dibangun dan berhiaskan simbol-simbol dalam tradisi Negeri Tirai Bambu yang telah mengakar di bumi Nusantara.

(Agni Malagina, Sinolog FIB Universitas Indonesia/MYTh)

Pulo Geulis Menyimpan Tinggalan Budaya Masa Belanda dan Tionghoa-antaranews.com

Pulo Geulis Menyimpan Tinggalan Budaya Masa Belanda dan Tionghoa
Rabu, 12 Februari 2014 02:15

Kampung Pulo Geulis dan kawasan Babakan Pasar Kecamatan Bogor Tengah, merupakan salah satu dari Kawasan di Kota Bogor yang memiliki aset wisata paduan antara Budaya Tionghoa dan Kolonial Belanda. Pulo Geulis semula memiliki nama yang sangat puitis, Parakan Baranangsiang, namun telah berganti menjadi Pulo Geulis artinya Pulo nan cantik.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Rachmat Iskandar salah satu nara sumber Tim RIPPDA (Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah) Kota Bogor, Pulo Geulis selain terkenal dengan Vihara Mahabrahma yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bogor, juga banyak menyimpan tinggalan Budaya Masa Belanda dan Tionghoa,

Di Kampung Pulo Geulis dan Kawasan Babakan Pasar banyak ditemukan tinggalan budaya Belanda, berupa arsitektur bergaya neo Classic, art deco, dan modern tropis. “ Ini merupakan asset yang bisa dikembangkan menjadi salah satu objek wisata menarik di Kota Bogor. Kita berharap Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto yang akan dilantik 7 April mendatang bisa mengembangkan kawasan ini menjadi salah satu Objek Wisata, “ ungkap Rachmat.

Rachmat memaparkan, bekas hotel Pasar Baroe misalnya, yang bergaya neo Classic berikut sebuah bangunan rumah tinggal mewah yang dikenal dengan nama Landhuisen yang juga bergaya neo Classic.

Hotel Pasar Baroe dan bangunan rumah tinggal tersebut terletak di belakang Pasar Bogor. Kondisi bangunan Hotel Pasar Baroe kondisinya sangat memprihatinkan. “ Bangunan itu sudah tidak terurus, dan kumuh, “ kata Rachmat.

Selain itu, terdapat juga bangunan yang bergaya art deco. Ciri-cirinya adalah bangunan yang diberhiasan (dekoratif) dalam bentuk alur-alur beton, kotak – kotak kaca dan berlantai dengan motif arabesca.

Rachmat menceritakan, di Pulo Geulis dan Babakan Pasar juga masih ditemukan bangunan bekas gedung teh, pagar dari rel kereta api yang dibuat tahun 1868. Sedangkan dalam kaitannya dengan budaya Tionghoa, menurut Rachmat ditemukan makam leluhur alm Masagung pemilik penerbit toko buku Gunung Agung. Makam tersebut terletak di belakang SD tidak jauh dari Puskesmas Belong Babakan Pasar.

Tak hanya itu, lanjut Rachmat, juga ditemukan perlengkapan untuk membuat tahu tradisional berupa alat penggilingan kedelai yang terbuat dari batu Selain itu ada alat tumbuk dari batu, kolam ikan dari batu milik salah satu tokoh masyarakat setempat bernama Bram.

Dikawasan ini juga terdapat sebuah bangunan sosial yang berfungsi membantu warga miskin dalam Mulasara Jenazah (Pengurusan jenazah-red). Diatas bagian depan bangunan tersebut masih tercantum huruf Fons Untuk Orang Miskin 1930. “Bangunan ini bergaya Kolonial Belanda yang masih difungsikan untuk untuk kegiatan amal dan sosial. “ ujarnya.

Disamping itu juga ada Gardu Listrik dan Pos Jaga peninggalan Belanda yang lokasinya di Jalan Roda. “Sayangnya bangunan Pos Jaga telah beralih fungsi menjadi tempat berjualan asinan, “ kata Rachmat.

Menariknya lagi, kata Rachmat, sebagian warga asli Pulo Geulis memiliki keahlian membuat emping jengkol. Alat untuk membuat emping jengkol tersebut menggunakan alat tumbuk dari bahan batu berbentuk bulat yang diambil dari sungai Ciliwung. “Masyarakat Pulo Geulis menyebutnya alat tersebut batu emping. Hasil produk mereka dijual ke para pedagang soto di kawasan Suryakencana, “pungkasnya. (yan)

Pemilik Cagar Budaya Ogah Urus Pengurangan Pajak-Tempo.co

Rabu, 11 September 2013 | 17:59 WIB
Pemilik Cagar Budaya Ogah Urus Pengurangan Pajak

TEMPO.CO, Yogyakarta – Pemilik bangunan cagar budaya di Yogyakarta diminta membuat surat tidak mampu agar bisa memperoleh potongan pajak bumi dan bangunan. Padahal pemilik bangunan lawas itu di kawasan Kotabaru, Yogyakarta, dari kalangan ekonomi mampu.

Akibatnya, pemilik bangunan cagar budaya ogah mengajukan keringanan pajak pada Pemerintah Kota Yogyakarta. “Ya, enggak maulah suruh buat surat tidak mampu. Wong orang mampu, kok, disuruh bilang tidak mampu,” kata Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Kotabaru, Soegiarto, Rabu, 11 September 2013.

Dia memberikan contoh seorang pemilik rumah berstatus cagar budaya di kawasan Jenderal Soedirman. Saat pemilik itu mengajukan keringanan pajak yang seharusnya dibayarkan Rp 45 juta per tahun kepada pemerintah kota, ia malah diminta membuat surat keterangan tak mampu.

Pemberian potongan pajak ini dinilai penting sebagai upaya agar pemilik bangunan mau mempertahankan bentuk bangunan itu. ”Sebenarnya masyarakat mau saja, tapi prosedur pengajuan surat permohonannya yang tidak pas,“ kata Soegiarto.

Tak heran, program pengurangan pajak yang diberlakukan Pemerintah Kota Yogyakarta sedikit peminatnya. “Syaratnya sebenarnya mudah. Cukup mengajukan permohonan lalu kami cek lapangan,” kata Kepala Seksi Pembukuan dan Pelaporan Dinas Pendapatan Daerah dan Pajak Keuangan (DPDPK) Pemerintah Kota Yogyakarta, Santosa. Di kawasan Kotabaru, Yogyakarta, ada 700 obyek pajak yang merupakan bangunan bekas peninggalan kolonial Belanda.

Pengurangan pajak untuk bangunan cagar budaya lumayan besar. “Kategori pemilik cagar budaya bisa sampai 35 persen pengurangannya,” kata Kepala Seksi Penagihan dan Keberatan DPDPK, Irawati.

Sementara itu, aktivis cagar budaya Yogyakarta, Joe Marbun, menilai prosedur pemberian program insentif pajak itu menyepelekan persoalan. “Itu, kan, (pengurangan pajak) sebenarnya bentuk penghargaan. Tapi, dengan meminta membuat surat keterangan tidak mampu, itu menjadi bentuk perendahan,” kata dia.

PRIBADI WICAKSONO

*catatan : kekonyolan pegawai dispenda dan aturannya ini juga berlaku di Bogor