Cap Go Me Dashyat – Jurnal Bogor
LUAR BIASA. Gebyar Cap Go Meh 2560 memang dahsyat, berlangsung khidmat, lancar, dan aman. Sekitar 120.000 orang memadati sepanjang jalur naga, Jl. Suryakencana hingga bibir Jl. Siliwangi, Senin (9/2). Mereka rela berdesak-desakan dari pagi hingga tadi malam, meski hujan sempat mengguyur kota Bogor. Arak-arakan joli dari berbagai daerah, seperti Ungaran-Semarang, Bekasi, Sukabumi, Bogor,dan Jakarta berakhir hingga dini hari ini.
Massa tumpah-ruah dari mulai pintu Kebun Raya Bogor, the heritage of the world, sampai dengan pertigaan menuju Istana Batu Tulis. Tak hanya warga Tionghoa, namun etnis lain yang beragama Islam, Kristen, Protestan, Buddha, dan Hindu melebur, menikmati penampilan seni budaya dalam rangka perhelatan akbar Cap Go Meh 2560 yang dikemas dalam Bogor Street Festival 2009 itu.
Mulai dari pukul 10.00 WIB, rombongan pertama dari Hok Tek Bio, Kebayoran Lama tiba. Mereka disambut dengan tabuhan tambur oleh panitia dan segenap umat di Vihara Dhanagun. Rombongan berikutnya, rombongan dari Vihara Chen It Thian Kun, Babakan Madang tiba lengkap dengan jolinya pada pukul 10.40 WIB.
Lalulintas umum, terutama angkot 02, 10, dan kendaraan umum ditutup mulai 16.30 sampai dengan pukul 00.00. Sebelum pukul 16.30, kendaraan umum itu masih bisa melewati Jl Suryakencana, meskipun harus mengikuti banyolan warga: “pameran paha” (padat merayap, antrean panjang, harap hati-hati).
Padatnya massa yang meringsek di depan Vihara Dhanagun, persis dekat mulut tikungan Jalan Suryakencana itu membuat polisi mengatur satu jalur khusus buat kendaraan umum. Sesekali tampak, warga yang mendekat Liong 50 meter berwarna merah-putih itu mencegat angkot menuju titik finish arak-arakan di depan Vihara Dharmakaya depan showroom Murni Motor. Di sini terdapat panggung kehormatan, tempat tokoh agama menyaksikan atraksi legendaris itu.
Kebanyakan dari mereka ingin menyaksikan pawai, tak terkecuali bayi, balita, ABG, lansia yang dipapah dan menggunakan kursi roda hingga ibu-ibu hamil muda dan tua pun turut duduk di bahu jalan menanti dimulainya pawai tahunan tersebut.
TEMA DARI BOGOR BERSATU DALAM RAGAM BUDAYA TAK HANYA MOTO BASI, TAPI HARUS JADI KENYATAAN
Kepadatan di sekitar Vihara Dhanagun terjadi mulai dari pukul 11.00. Kendaraan pengunjung diparkir di berbagai gedung sekitar Kebun Raya Bogor, seperti Departemen Kehutanan,. Plaza Bogor, Gedung Megaswara, sedangkan sejumlah jalan alternatif di sepanjang Suryakencana digunakan untuk lalu lalang Liong dan Barongsai.
Acara itu sendiri diresmi-kan oleh Plt Sekretaris Daerah Kota Bogor Bambang Gunawan, mewakili Walikota Bogor Diani Budiarto, pada 16.00 WIB yang disambut dengan tarian kecak. Peresmian ditandai dengan penabuhan tambur oleh Bambang.
Kemudian tepat pukul 17.00 WIB, Street Festival 2009 dimulai. Iring-iringan Joli yang ikut dalam arak-arakan itu ialah Joli Abu, Joli Mpeh Houw Ciang Kun, Joli Kwan Yin, Joli Kwan Kong, Joli Kong Co Hok Tek Ceng Sin dan disertai Joli Pan Kho dari Vihara Mahabrama, Pulo Geulis.
Arak-arakan diawali oleh Joli Abu, diikuti Joli Mpeh Houw Ciang Kun berbentuk seperti macan. Selanjutnya
diikuti oleh Joli Kwan Yin, Joli Kwan Kong, Joli Hok Tek Ceng Sin atau Dewa Bumi yang akan dikawal oleh Barong Kie lin dari Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih Bogor.
Pawai dimulai dengan iringan Sepeda Onthel yang dikendarai oleh Komunitas Warga Gunung-gunung, dilanjutkan dengan pawai pakaian khas Sunda dari Paguyuban Mojang Jajaka Kota Bogor.
Kampung Budaya Sunda, Sindangbarang ikut meramaikan pesta rakyat tersebut, dengan menampilkan kesenian unik, seperti angklung gebrak dan kesenian sudat.
Sementara itu, di sekitar area jalan Suryakencana yang dipadati warga, sebagian toko-toko tetap buka, bahkan mengadakan open house bagi masyarakat sekitar dengan menyuguhkan makanan. Ngesti tutup, namun restoran di dekatnya buka dan cukup banyak warga yang menikmati jajanan dan minuman khas. Tidak hanya itu, warga sekitar, terutama warga Tionghoa memberikan ang-pao untuk Barongsai dengan cara yang unik.
Arum, warga Purwakarta yang ikut menyaksikan pesta rakyat tersebut mengaku sangat terpesona dengan keguyuban dan kebersamaan warga yang mengikuti pros-esi di penghujung pesta rakyat, Cap Go Meh itu.
Berbeda dengan Arum, Josep, warga Layungsari, Bogor mengatakan bahwa keberhasilan Cap Go Meh 2560 harus dipertahankan, dan tahun mendatang, semoga warga Tionghoa lebih bebas mengeksplorasikan dan mennuangkan segala inspirasinya. “Tema dari Bogor Bersatu dalam Ragam Budaya tak hanya moto basi, tapi harus jadi kenyataan,” ujarnya.*
Februari 19, 2009 at 10:53 am
Terima kasih atas artikelnya… Cuma kurang foto2nya nih…. Hehehe….
Februari 19, 2009 at 4:19 pm
kembali kasih