Pemkot Rancang Perda PBLCB

KAPTEN MUSLIHAT – Pemkot mengupayakan terbitnya peraturan daerah (perda) tentang pelestarian bangunan atau lingkungan cagar budaya (PBLCB). Ini untuk mengantisipasi perkembangan pembangunan di kota.

“Kami khawatir benda-benda cagar budaya yang memiliki nilai sejarah di masa lalu bakal punah,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bogor Ade Sarip Hidayat saat workshop pembinaan dan pelestarian budaya dan sejarah daerah di wisma Warungkondang, Jalan Dr Sumeru, kemarin.
(lagi…)


Hak cipta foto pada ANTARA

Warga Tolak Penghancuran Vila Kembar
Kompas – Senin, Oktober 26

MEDAN, KOMPAS.com-Masyarakat dari berbagai kalangan menolak penghancuran gedung vila kembar yang berada di Jalan Diponegoro, Medan. Penghancuran gedung tersebut berarti turut menghilangkan identitas Kota Medan. Mereka menuding eksekutif sengaja membiarkan penghancuran ini terjadi.

Vila kembar ini merupakan perumahan perkebunan pertama yang ada di Medan. Bangunan ini berada dalam satu kawasan pusat kota. “Namun penghancuran malah dibiarkan oleh pemerintah,” kata Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumatera Utara, Ahmad Deliarnur, Minggu (25/10) saat bersama elemen warga lain menduduki gedung tersebut.
(lagi…)

Mayor Jantje dan Tanjidor

Jumat, 11 September 2009

Musik orkes yang kemudian dikenal sebagai tanjidor berawal dari Citrap atau Citeureup dan dimulai sekitar dasawarsa kedua abad 19. Musik ini disebut-sebut sebagai musik para budak dan tak bisa lepas dari peran seorang mayor yang keturunan mardijkers (orang merdeka).

Adalah Augustijn Michiels, keturunan langsung dari Jonathan Michiels seorang mardijkers yang jadi pemimpin kaum mardijkers di timur laut Batavia, yang mewariskan kesenian musik tersebut. Jonathan bergelar Oud Luitenant der Inlandsche Burgerij of der Papangers – letnan senior kaum Papang. Ia memiliki tanah di Cileungsi dan Klapanunggal. Warisan Jonathan akhirnya jatuh ke tangan Augustijn yang pada 1807 – setelah 20 tahun dinas di kemiliteran – berhenti dengan gelar Oud Majoore der Burgerij atau Kolonel Titulair.

(lagi…)

Bogor, 15 Agustus 2009

Kepada Yth.
Bapak / Ibu Pemerhati Budaya
yang Budiman
di tempat.

Dengan hormat,

Bersama ini perkenankan kami dari Himpunan Persaudaraan Umat Vihara Dhanagun Bogor
mengundang Bapak / Ibu meluangkan waktu untuk bersama-sama menyaksikan
pagelaran Wayang Potehi dengan rincian informasi sebagai berikut:

Jenis Kegiatan : Pentas seni tradisi Wayang Potehi
Dalang (senior) : Bapak Thio Tiong Gie dari Semarang
Tanggal : 20 Agustus s/d 27 Agustus 2009
(Khusus tanggal 21 Agustus, pentas ditiadakan untuk acara
ritual Chiokou/ Sembahyang Rebutan khas Bogor)
Pukul : 16.00 – 18.00 dilanjutkan 19.00 – 21.00 tiap harinya
Tempat : Halaman Vihara Dhanagun (Hok Tek Bio)
Jalan Suryakencana No. 1, Bogor

Demikian undangan kami sampaikan, dengan harapan Bapak / Ibu berkenan hadir
menikmati kembali acara yang telah lebih dari 44 tahun “terkubur” ditelan bumi
Pajajaran.

Untuk informasi silakan menghubungi:
Wahyutie 0251 9268219
Candra 087770101212
Mardi Lim 0815 11487596 (email: mardilim88@…)

Terima kasih.

Hormat kami,
Himpunan Persaudaraan Umat Vihara Dhanagun Bogor

Wahyutie
Ketua

nb.MOHON PERKENAN BAPAK / IBU MENYEBARLUASKAN INFORMASI INI SECARA
ESTAFET BAGI PARA PEMERHATI BUDAYA / REKAN-REKAN YANG
TERTARIK AKAN ACARA PENTAS WAYANG POTEHI TERSEBUT DI ATAS.TERIMAKASIH.

Mendesak, Keringanan Pajak untuk Kota Tua

Warta Kota/Pradaningrum Midjarto
Rabu, 12 Agustus 2009

PERSOALAN revitalisasi kota tua atau ada yang menyebut kota lama dan kota bersejarah sepertinya berkutat pada satu benang merah yang sama. Peranan para pasukan berani mati yang rela mengonservasi bangunan tua, menyelamatkannya menjadi bangunan yang hidup kembali masih dilihat sebelah mata. Ada keengganan untuk berbagi, antara dana yang besar dalam rangka konservasi dengan regulasi yang meringankan pemilik/penyewa bangunan.

Pengalaman pada Kota Lama Semarang juga menunjukkan hal tersebut. Adalah Widya Wijayanti yang terus mengupayakan agar Revitalisasi Kota Lama Semarang yang sudah dimulai sejak enam tahun lalu bergerak pasti. Widya yang adalah perancang dan perencana lingkungan binaan itu menyesalkan tak adanya upaya yang mencairkan kondisi stagnan.

Kondisi stagnan yang digambarkannya berupa pertumbuhan kawasan yang melambat karena banyak pihak saling menunggu. Misalnya, menunggu kepastian bahwa investor akan mendapat insentif jika melakukan peraturan dalam rangka mengonservasi dan menghidupkan kembali sebuah gedung tua.

Hal ini juga yang pada acara Workshop untuk Wartawan di Bidang Kebudayaan dan Pariwisata yang berlangsung di Museum Bank Mandiri, Selasa (11/8), diangkat oleh Deputi Gubernur DKI bidang Pariwisata dan Kebudayaan, Aurora Tambunan. Sebuah kepedulian yang belum diperlihatkan oleh pemerintah pusat, melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yaitu membahas pemberian insentif dan disinsentif bagi mereka yang berusaha mengonservasi dan memfungsikan kembali bangunan tua di kota tua. Jika diterjemahkan, insentif itu berarti keringanan pajak.

Urusan saling memberi tadi memang seharusnya diberlakukan di seluruh Indonesia bagi investor yang bersedia menanamkan uang mereka pada sebuah gedung tua di kawasan yang direvitalisasi yang kemudian menjadi kawasan tujuan wisata. Begitulah, Lola, demikian Aurora biasa disapa, berkali-kali mengulang tentang mendesaknya kepedulian pemerintah pusat untuk segera membahas masalah keringanan pajak dan kemudian bersama Pemprov DKI membangun dan mengidupkan kawasan kota tua. Tentu, tegasnya lagi, nantinya keringanan pajak itu berlaku di seluruh Indonesia.

Masalahnya, adakah pemerintah pusat, dalam hal ini Departemen Kebudayaan dan Pariwisata merasa memiliki Jakarta yang sejak 2006 berupaya sendiri merevitalisasi kawasan yang kini bisa dibilang jadi unggulan itu? Faktanya, Jakarta seperti dibiarkan sendiri meski pada akhirnya yang menangguk berbagai untung tentunya juga pemerintah pusat.

Kolam Renang Pertama di Indonesia Kini Tinggal Puing
Mulyadi Saputra – detikBandung

Bandung – Pemandian Tjihampelas kini benar-benar tinggal kenangan. Kolam renang pertama di Indonesia itu kini sudah luluh lantak. Rencananya di bekas kolam renang yang berada di belakang Ciwalk itu, akan dibangun sebuah hotel.

Kolam yang dibangun sejak 1902 itu, kini hanya menyisakan puing-puing yang menjadi incaran para pemulung. Pantauan detikbandung, Senin (3/8/2009), terlihat puluhan pemulung yang mencabuti besi atau bata-bata yang tersisa.

“Kita cuma ambil besi-besinya saja buat dijual, lumayan,” kata Rahmat Gunawan (53), salah seorang pemulung.

Pembongkaran kolam itu sudah berlangsung lama, sejak tahun lalu. Namun beberapa bulan lalu kondisinya tak separah ini. Kini bangunan utama sudah rata dengan tanah, hanya lekukan kolam saja yang masih terlihat.
(lagi…)

Menilik Bangunan Kolonial Belanda di Kota Bogor
Bangunan Pribadi Banyak Berubah, Kantor Dipertahankan

Kota Bogor memiliki bangunan peninggalan sejarah cukup banyak. Salah satunya bekas bangunan milik penjajah Belanda. Bagaimana kondisinya sekarang?

Bangunan bekas kolonial di Kota Bogor cukup banyak, yakni mencapai 680 bangunan. Maklum, petinggi pemerintah kolonial Belanda saat menjajah negeri ini betah berlama-lama tinggal di Kota Hujan. Alasannya, udara Bogor sejuk dan cocok untuk permukiman warga Belanda. Saking kerasannya tinggal di Kota Hujan ini, orang-orang Belanda ini mendirikan rumah peristirahatan dan kantor.
(lagi…)

Memberi Arti Pada Lawang Sewu
Warta Kota/Pradaningrum

Sabtu, 25 Juli 2009 | 14:21 WIB

BICARA tentang Kota Semarang tak genap jika tak menyebut Lawang Sewu. Gedung tua bikinan Belanda di awal abad 20 ini masih berdiri anggun di keuzurannya. Bangunan dua lantai ini bak lukisan yang menggenapi keindahan kawasan Tugu Muda di mana bangunan ini berdiri. Seperti arsitektur bangunan kolonial di awal abad 20, bangunan ini juga sudah dilengkapi dengan sistem canggih dalam urusan saluran air dan udara. Belum lagi teknologi glasir yang begitu sempurna padahal batu granit dipesan dan dibikin di Jerman.
(lagi…)

Bangunan Cagar Budaya Berubah

Selasa, 21 Juli 2009 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas – Sekitar 900 bangunan cagar budaya di Menteng dipugar tanpa kendali. Pemugaran yang mengubah bentuk asli bangunan itu diketahui setelah Ikatan Arsitek Indonesia dan Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta melakukan penelitian.

Ketua Kehormatan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Budi A Sukada, Senin (20/7) di Jakarta, mengatakan, banyaknya bangunan cagar budaya yang sudah berubah dari bentuk aslinya diketahui saat IAI dan Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) meneliti semua bangunan cagar budaya guna menyusun pedoman pemugaran bangunan cagar budaya di Menteng, Jakarta Pusat. Bangunan yang berubah bentuk itu mencapai 30 persen dari 3.000-an bangunan cagar budaya yang ada.
(lagi…)

CAGAR BUDAYA
Model Konservasi Barat Kurang Cocok dengan Asia
Sabtu, 11 Juli 2009

Jakarta, Kompas – Konservasi bangunan cagar budaya dengan cara dan landasan teori Barat kurang cocok diterapkan di Asia, termasuk Indonesia. Landasan konservasi serta karakter bangunan di negara-negara Barat berbeda dengan bangunan di Asia.

Hal tersebut terungkap dalam acara diskusi bulanan Badan Pelestari Pusaka Indonesia yang bertema ”Teori Konservasi”, Kamis (9/7).

Pembicara dalam diskusi tersebut, yaitu arsitek dari Universitas Kristen Petra, Surabaya, Timoticin Kwanda, mengatakan, konservasi untuk bangunan cagar budaya di Asia, termasuk Indonesia, sulit jika harus mengikuti cara atau teori Barat. Pendekatan konservasi Barat sangat menekankan sejarah dan otentitas sebesar-besarnya. Bangunan sebagai obyek menjadi yang utama. Hal itu tak lepas dari tradisi kekristenan dengan keberadaan berbagai relief-relief suci pada bangunan yang dipandang sakral sehingga otentitas menjadi sangat penting.
(lagi…)

Halaman Berikutnya »