16 Pemerhati Seni dan Bangunan Cagar Budaya Terima Penghargaan-Kompas.com

16 Pemerhati Seni dan Bangunan Cagar Budaya Terima Penghargaan
Riana Afifah | Benny N Joewono | Kamis, 22 Desember 2011 | 20:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta memberikan penghargaan kepada 16 pemerhati seni budaya dan bangunan cagar budaya yang berada di Jakarta. Ke-16 penerima penghargaan ini melalui seleksi dan penilaian yang ketat. Penghargaan sendiri diserahkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budhiman mengatakan tim penilai ini berasal dari tim pengamat yang berasal dari unsur Akademi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Badan Kerjasama Kesenian Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi, Tim Sidang Pemugaran, Akademisi dan para ahli yang kompeten di bidangnya.

“Pemberian penghargaan ini untuk mendorong minat para pecinta, pemerhati seni, pemilik atau pengelola bangunan cagar budaya dan masyarakat untuk melestarikan seni tradisi dan budaya serta bangunan cagar budaya,” kata Arie, di Balaikota, Jakarta, Kamis (22/12/2011).

Ia memberikan apresiasi yang tinggi pada para tokoh seni dan budaya serta para pemilik atau pengelola bangunan cagar budaya. Ini karena mereka mampu menjaga loyalitas untuk terus melestarikan budaya bangsa yang ada di Jakarta.

Berikut adalah penerima penghargaan pelestarian budaya di Jakarta, yaitu koreografer/pelatih Tari Betawi Wiwiek Widiyastuti, pemain dan Pembina Rebana Biang H Engkos Kosasih, pemain Topeng Betawi H Hasyim, dalang Wayang Kulit Betawi Arsih, penyanyi Lagu Gambang Kromong Hj Totih serta pemain dan Pembina grup Tanjidor Sait Neleng.

Kemudian dua budayawan yaitu Abdul Chaer dan Mona Lohanda. Selanjutnya, dua pemerhati seni yaitu Yulianti Parani dan Mahbub Djunaidi. Ada pula empat lembaga/organisasi seni budaya yang diberikan penghargaan yaitu Sanggar Setia Muda, Sanggar Betawi Si Pitung, Grup Kesenian Uncul dan Grup Tanjidor Pusaka Tiga Saudara.

Untuk bangunan cagar budaya ada dua yang meraih penghargaan yaitu gedung PT Bhanda Ghara Reksa Jl Kali Besar Timur No. 5-7, Jakarta Barat dan Rumah Tinggal Duta Besar Swiss, Jl Diponegoro No. 5 Menteng, Jakarta Pusat.

“Bagi para seniman, budayawan dan pemerhati seni masing-masing mendapatkan penghargaan senilai Rp 20 juta per orang. Untuk lembaga/organisasi seni budaya dan bangunan cagar budaya diberikan penghargaan Rp 25 juta per orang,” imbuhnya.

Categories: pelestarian cagar budaya, tata kota | Tags: , | Tinggalkan komentar

Kondisi “Rumah Cantik” Menteng Memprihatinkan-Kompas.com

Kondisi “Rumah Cantik” Menteng Memprihatinkan
Riana Afifah | Tri Wahono | Rabu, 30 November 2011 | 17:51 WIB

null

RIANA AFIFAH Rumah Cantik di Jalan Cik Dik Tiro No. 62, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (30/11/2011), tampak terbengkalai dan separuh bangunannya sudah dibongkar.

JAKARTA, KOMPAS.com — Rumah yang terletak di Jalan Cik Dik Tiro Nomor 62, Menteng, Jakarta Pusat, selama ini terkenal dengan keasrian dan keindahan dari bunga-bunga yang tertata rapi. Namun, sayangnya semua itu tinggal kenangan karena sekitar 50 persen dari bagian bangunan yang sering disebut “Rumah Cantik” Menteng tersebut sudah dibongkar.

Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat Dewi Susanti mengatakan, kawasan Menteng memang penuh dengan rumah-rumah pribadi yang jadi cagar budaya. Ini terbukti dengan banyaknya rumah di kawasan Menteng yang arsitekturnya masih bergaya zaman Belanda. Selain itu, bangunan-bangunan tersebut juga memiliki nilai historis yang patut dilestarikan.

“Namun, sayangnya banyak pemilik rumah yang tidak mengerti pemanfaatan rumah tersebut. Begitu pula perawatannya,” kata Dewi saat dihubungi wartawan, Rabu (30/11/2011). Yang terjadi kemudian adalah bangunan dengan gaya arsitektur unik ini tidak memiliki nilai jual lagi. Orang-orang hanya berpatokan pada harga tanahnya yang melambung tinggi tanpa memerhatikan lagi nilai sejarah dan nilai estetika di balik bangunan tersebut.

Ia mengakui, saat ini pihaknya masih terganjal keterbatasan dana sehingga belum bisa memberi subsidi untuk membantu para pemilik rumah merawat dan memanfaatkan rumahnya. Untuk itu, ia meminta para pemilik untuk aktif dalam merawat dan memanfaatkan cagar budaya tersebut.

“Setiap rumah tersebut sebenarnya bisa dijadikan tempat wisata untuk melihat sejarahnya dan keasriannya,” ungkapnya.

Sebenarnya, pemilik terdahulu dari “Rumah Cantik” ini, yakni Sari Shudiono, sangat paham sekali merawat rumahnya yang unik tersebut. Namun, karena alasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang sangat tinggi hingga Rp 16 juta, akhirnya rumah tersebut dijual.

Dewi pun menuturkan, terkait masalah pajak yang tinggi, pemilik dapat mengajukan keringanan pajak sampai 40 persen. Namun, hal itu harus dilengkapi syarat bahwa bangunan tersebut terlihat dilestarikan.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta Arie Budhiman mengungkapkan, “Rumah Cantik” masuk kriteria C yang sebenarnya bebas dipugar, tetapi tetap harus dilengkapi dengan surat izin dan memerhatikan tata ruang dan menyesuaikan dengan tata bangunan di sekitar Menteng.

“Jadi, tetap harus dapat rekomendasi dan tetap sesuai dengan bangunan sekitarnya,” ujarnya.

other related link :

http://handelstraat.wordpress.com/2008/11/24/persoalan-rumah-mentengnya-yang-asri-kompas

Categories: batavia, pelestarian cagar budaya, tata kota, Uncategorized | Tags: , , , , | 1 Komentar

Hari Jadi Bogor: Pesta Rakyat “Warna Warni Bogorku”

Dalam Rangka Merayakan Hari Jadi Kota Bogor ke 529, Taman Ade Irma Suryani, Kampoeng Bogor, didukung oleh Pemerintah Kota Bogor, menyelenggarakan Pesta Rakyat bertajuk Warna Warni Bogorku…

Berikut susunan kegiatannya

28 Mei – 5 Juni 2011
09:00 – 17:00
Pameran Sejarah (Kampoeng Bogor)
Pojok Permainan Tradisional
Pameran Oleh-oleh
Pameran Kerajinan (Bogor Kreatif)
Aksi Sumbang Buku (Komunitas Bogor maca & Sanggar Baroedak)

Sabtu, 28 Mei 2011
08:45 – 09:00 Pembukaan
09:00 – 09:30 Musik Barang Bekas (TRIVORTRUE – Malik)
09:30 – 10:00 Musik Barang Bekas (NUTILAS – Sekolah Alam Bogor)
10:00 -10:30 Musik Barang Bekas (Univ. Pakuan – Tatakolan)
10:30 – 11:15 Band Top Fourty (SIGMA)
11:15 – 12:00 Band Top Fourty (BELL BOYS)
12:00 – 13:00 Break
13:00 – 15:00 Band Top Fourty (SIMBOLIST)
15:00 – 15:30 Break
15:30 – 16:00 Band Top Fourty (SODAPINK)
16:00 – 16:30 Band Top Fourty (JAMZROCK)

Minggu, 29 Mei 2011
09:00 – 10:00 Atraksi PARKOUR (Komunitas PARKOUR Bogor )
10:00 – 11:00 Atraksi Satria Nusantara (Satria Nusantara Bogor)
11:30 – 12:00 Musik indie I (Bonchie her little trees)
12:00 – 13.30 Break
13:30 – 15:00 Musik indie II (Daylight & Kezia)
15:00 – 15:30 Break
15:30 – 17:30 Musik indie III (Adopta & Eyeliner)

Senin, 30 Mei 2011
10:00 – 17:00 Pameran

Selasa, 31 Mei 2011
10:00 – 17:00 Pameran

Rabu, 01 Juni 2011
10:00 – 12:00 Tantangan Games Tradisional MC
12:00 – 13:00 Break
13:15 – 13:45 Nasyid sesi I ( Ar – Roya Voice )
13.45 – 14:45 Talkshow ” 1000 rupiah untuk Pendidikan ” (Gebu Cinta & Baz)
14:45 – 15:10 Nasyid sesi II ( Ar – Roya Voice )
15:10 – 15:30 Break
15:30 – 16:30 Atraksi Tae Kwon Do Tae Kwon Do ( SIPJIN SMAN 1 Ciawi )

Kamis, 02 Juni 2011
09:00 – 10:00 Atraksi B M X (Komunitas B M X Bogor)
10:00 – 11:00 Penampilan Musik 8 bit chip toon (The Listrix & Massive Until Morning)
11:00 – 12:00 Tantangan Games Tradisional MC
12:00 – 13:00 Break
13:00 – 13:30 Tantangan Games Tradisional MC
13:30 – 14:30 Japanese Music & Cosplay (Bonkurazu & J-Lovers)
14:30 – 15:00 Atraksi HIP HOP & Break Dance (Ruang Kosong & The Big Brother & Bogor Emeny)
15:00 – 15:15 Break
15:15 – 16:00 Atraksi HIP HOP & Break Dance & Beat Box (Plow . R & Bogor Beatbox Community)

Jumat, 03 Juni 2011
09:00 – 09:30 Rampak Angklung (SDN Cibadak)
09:30 – 11:00 Pencak Silat (Merpati Putih)
11:00 – 13:30 Break Break
13:30 – 15:00 Musik Indie IV (Next Saturday & Kujang Band)
15:00 – 15:15 Break
15:15 – 17:15 Musik Indie V (The Kuda & Asphoria)

Sabtu, 04 Juni 2011
07:00 – 08:30 Senam Jantung Sehat Existing
09:30 – 12:00 Musik Reggea ” BANANA BEACH ” Musik Reggea
12:00 – 13:00 Break
13:00 – 15:00 Musik Reggea ” BANANA BEACH ” Musik Reggea
15:00 – 15:30 Break
13:00 – 17:00 Musik Reggea ” BANANA BEACH ” Musik Reggea

Minggu, 05 Juni 2011
08:30 – 10:00 Parade Sepeda Fixie & Gowel (Fixed Faction & Komunitas Gowel)
10:00 – 11:54 Musik Dangdut ” RONA 93 ” Orkes Dangdut
11:45 – 12;30 Break
12:30 – 15:00 Musik Dangdut ” RONA 93 ” Orkes Dangdut
15:00 – 15:30 Break
15:30 – 16:45 Musik Dangdut ” RONA 93 ” Orkes Dangdut
12:00 – 13:00 Break
13:00 – 17:00 Musik Dangdut ” RONA 93 “
16:45 – 17:00 Penutupan MC + Panitia


Komunitas Kampoeng Bogor
Jl. Pangeret Ujung No.12 Rt 01/12
Tegal Gundil, Bogor
West Java, Indonesia
tlp : 08567174888 [uthie]
fax : 0251-8359072
mail : kampoengbogor@kampoengbogor.org
kampoengbogor@yahoo.com
web : kampoengbogor.org
milis: kampoengbogor@yahoogroups.com

Categories: bogor, pameran | Tags: , | Tinggalkan komentar

BUITENZORG KOTA TEINDAH DI JAWA


…Deep down below us lay a valley of Eden, where thousands of palm trees were in constant motion, their branches bending, swaying, and fluttering as softly as ostrich plumes to the eye …

BUITENZORG KOTA TEINDAH DI JAWA
Catatan Perjalanan dari Tahun 1860-1930

Buku seharga Rp 40.000,- ini, dapat di iperoleh di:

Rumah&Gallery Kampoeng Bogor:

Jl. Pangeret Ujung No.12

Pangiuhan Kampoeng Bogor:

- Hotel Salak,
Jl. Ir. H. Juanda No 8 Bogor

- Istana Bogor,
Jl. Ir. H. Juanda

- Gumati Cafe, Resto & Gallery,
Jl. Paledang No. 26 & 28 Bogor

- Garden Shop Kebun Raya Bogor

- Toko Buku Jendela,
Jl. Cikabuyutan No. 6, Baranangsiang

Untuk Pemesanan dan pengiriman dapat menghubungi:
Opih – 081316071937
Evie – 081319600643

salam…


Komunitas Kampoeng Bogor
Jl. Pangeret Ujung No.12 Rt 01/12
Tegal Gundil, Bogor
West Java, Indonesia
tlp : 08567174888 [uthie]
fax : 0251-8359072
mail : kampoengbogor@kampoengbogor.org
kampoengbogor@yahoo.com
web : kampoengbogor.org
milis: kampoengbogor@yahoogroups.com

Categories: bogor | Tags: | Tinggalkan komentar

Pusat Studi Tionghoa Melacak Sejarah-Kompas

Pusat Studi Tionghoa Melacak Sejarah
Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono
Minggu, 20 Februari 2011 | 00:28 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Pusat Studi Kajian Indonesia Tionghoa “Center for Chinese Indonesian Studies/CCIS” Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya menemukan sekitar 116 komunitas Tionghoa di Surabaya karena ingin menyusun sejarah yang hilang selama ini.

“Kebudayaan Tionghoa begitu beragam mulai dari kuliner, bahasa, tata busana, arsitektur, dan teknologi. Untuk itu, kami perlu menyusun missing link yang selama ini seolah hilang,” kata Sekretaris Center for Chinese Indonesian Studies (CCIS) Elisa Christiana saat ditemui dalam seminar “Chinese Indonesians in Modern Indonesia” sekaligus pengenalan CCIS di kampus setempat, Jumat.

Menurut dia, selama ini, keberagaman kebudayaan Tionghoa semakin memperkaya kebudayaan Indonesia. Contohnya, budaya makan Lontong Cap Gomeh saat Tahun Baru Imlek.

“Budaya tersebut hanya diterapkan oleh masyarakat Tionghoa yang tinggal di Indonesia, apalagi idenya adalah merayakan Tahun Baru China dengan makanan khas Indonesia,” ujarnya.

Untuk mempertahankan dan melestarikan budaya tersebut, ia mengajak, masyarakat Surabaya dan sekitarnya menginventaris apa pun yang selama ini menjadi identitas Tionghoa.

“Kami optimistis upaya ini dapat membuktikan bahwa Tionghoa bukanlah kaum minoritas melainkan bagian dari Indonesia,” katanya.

Sementara itu, salah satu pembicara di seminar tersebut, Priyanto Wibowo, mengungkapkan, sebenarnya dalam setiap torehan sejarah bangsa Indonesia banyak jejak peran orang Tionghoa di dalamnya. Selain itu, keberadaan etnis ini di Indonesia sudah dimulai berabad lamanya.

“Mereka sudah menetap di Indonesia sebelum masa kemerdekaan,” kata pria yang juga menjabat Ketua Departemen Sejarah Universitas Indonesia.

Kondisi tersebut, tambah dia, merupakan bentuk ungkapan etnis Tionghoa agar diakui sebagai bagian dari Indonesia tanpa pembedaan apa pun. Apalagi, pasca-era Reformasi (1998) adalah awal kebangkitan masyarakat Tionghoa di Indonesia.

“Situasi itu tampak berbeda ketika masyarakat Tionghoa hidup pada masa orde yang penuh tekanan,” katanya.

Salah satunya, kata dia, pada masa Orde Baru, masyarakat Tionghoa dipaksa untuk melebur dengan warga pribumi dengan mengubah nama menjadi nama pribumi. Di sisi lain, adanya pembatasan gerak dalam dunia politik, pegawai negeri, dan pendidikan.

“Akibatnya masyarakat Tionghoa hanya bisa menempati posisi sebagai pedagang,” katanya.

Di lain pihak, lanjut dia, kalau dianalisis komunitas Tionghoa di Indonesia berbeda dari komunitas Tionghoa di belahan dunia mana pun. Apalagi, selama ini sudah mengakar dengan Indonesia sehingga banyak budaya yang muncul saat ini bercampur dengan budaya Indonesia.

Categories: budaya tionghoa, surabaya, tata kota | Tags: , , , | 1 Komentar

SUSUNAN ACARA CAP GO MEH BOGOR 2562/2011

SUSUNAN ACARA CAP GO MEH BOGOR 2562/2011

1
Minggu, 6 Feb 2011 (Cia Gwee Ce Si)

pengobatan Gratis di Vihara Pan Kho

09.00 s/d 12.00 WIB

2
Senin, 07 Feb 2011 (Cia Gwee Ce Go)

Acara Hiburan Keroncong Asmara dari PGB Bangau Putih

Pukul 19.30 s/d selesai

dalam rangka She Jit Dewa Pan Kho

3
Selasa, 08 Feb 2011 (Cia Gwee Ce Lak)

kebaktian pembacaan Sutra, dipimpin oleh anggota sangha

pukul 10.00 s/d selesai

4
Selasa, 15 Februari 2011 (Cia gwee Cap Sa)

Pengobatan Gratis di Vihara Dhanagun

Pukul 09.00 s/d 14.00

5
Selasa, 15 feb 2011 ( Cia gwee Cap Sa)

Gladi resik Team joli

Pukul 14.00 s/d selesai

6
Rabu, 16 feb 2011 (Cia Gwee Cap Si)

07.00
Mpe Houw Ciong Kun naik joli

08.00-12.00
Atraksi Barong/Liong I PLBB

12.00-13.00
Persiapan Dewa Pan Kho naik joli

13.00
Dewa Pan Kho naik joli

13.00-15.00
Atraksi Barong/Liong I PLBB

15.00-16.00
Ritual Tangsin

16.00-18.00
Atraksi Barong/Liong I PLBB

18.00-19.00
Istirahat Maghrib

19.00-20.30
Ritual Tangsin

20.30-22.00
Atraksi Barong/Liong I PLBB

22.00
Istirahat

7
Kamis, 17 feb 2011 (Cia Gwee Cap Go)

06.00-07.00
Persiapan Kongco, Dewi Kwan Im & Kwan Kong naik joli

07.00-09.00
Kongco Hok Tek Ceng Sin, Dewi Kwan Im dan Kwan Kong naik joli secara bergiliran

09.30-10.30
Team Ritual berangkat ke Pan Kho

10.30-11.00
Persiapan joli Pan Kho diboyong ke Vihara Dhanagun

11.00-12.00
Dewa Pan Kho dan Joli diboyong ke Vihara Dhanagun

12.00-13.00
Dewa Pan Kho tiba di vihara Dhanagun sekaligus Dewa Pan Kho turun Joli

13.00-14.30
kebaktian Cap go Meh 2011 dipimpin langsung oleh anggota Sangha

15.00-16.00
Atraksi budaya

16.15-16.45
atraksi Barong Kie Lien dan Bela Diri PGB

16.45-17.00
Dewa Pan Kho naik Joli

17.00
Ritual Cap go Meh 2011

Joli Thian lu (Abu) diarak di halaman setelah berkeliling 3 putaran, joli houw ciong kun keluar berkeliling 3 putaran di belakang joli Thian Lu, kemudian menunggu joli kwan Im keluar untuk berkeliling halaman. Setelah 45 menit, Joli Kwan Im berkeliling halaman, joli Kwan Im masuk, Joli Thian lu dan Joli Houw Ciong Kun tetap di Luar

Joli Kwan Kong keluar berkeliling halaman selama 45 menit. Setelah selesai Joli Kwan Kong masuk dan Joli Pan Kho keluar berkeliling selama 45 menit. Setelah selesai joli Pan Kho masuk lalu Joli Kongco Hok Tek ceng Sin keluar untuk berkeliling halaman selama 45 menit

Sumber : Kampoeng Bogor

Categories: bogor, budaya tionghoa, suryakencana | Tags: , , , , , | Tinggalkan komentar

Bersihkan Vihara, Tiadakan Atraksi Barongsai di Jalan-Radar Bogor


Rabu, 26 Januari 2011 , 10:19:00
Bersihkan Vihara, Tiadakan Atraksi Barongsai di Jalan

BERBENAH: Seorang penjaga vihara membersihkan ukiran di dinding Vihara Dhanagun. Kegiatan itu dilakukan untuk menyambut Imlek.
Perayaan Cap Go Meh yang merupakan rangkaian penutupan kegiatan Imlek selalu menjadi pusat perhatian warga. Prosesi kirab berupa arak-arakan dan atraksi barongsai selalu memenuhi Jalan Suryakencana. Namun, dalam perayaan Imlek tahun ini, kegiatan kirab di Suryakencana akan ditiadakan. Kenapa?

Laporan: Faisal Hilmi

PENYAMBUTAN tahun baru Imlek ke 2562 tahun ini di Kelenteng Ho Tek Bio (Vihara Dhanagun) di Pasar Bogor akan berbeda. Pasalnya, tahun ini tak akan digelar acara kirab atau arak-arakan di sepanjang Jalan Suryakencana seperti yang dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini, panitia perayaan Cap Go Meh tak akan melakukan kirab lantaran turut prihatin pada kondisi Indonesia yang kerap dilanda bencana akhir-akhir ini. Mulai dari bencana alam di Wasior,Tsunami di Nias dan meletusnya Merapi di Jogjakarta. “Untuk tahun ini, Cap Go Meh lebih pada kegiatan aksi sosial,yakni dengan memberikan pengobatan gratis di Vihara Dhanagun dan Vihara Maha Brahma di Pulogeulis,” kata Wakil Ketua Pelaksana Perayaan Imlek dan Cap Go Meh Vihara Dhanagun Bogor Chandra Kusuma, kemarin.

Meskipun demikian, persiapan-persiapan menjelang perayaan tahun baru bagi pemeluk agama Konghucu itu tak ada yang berubah. Seperti terlihat pada Selasa (25/1). Puluhan orang terlihat sedang membersihkan seluruh ruangan. Mulai dari dinding, gambar dan seluruh ornamen yang ada di Viharan Dhanagun.

Kelenteng Hok Tek Bio di Jalan Suryakencana itu merupakan kelenteng pertama di Bogor. Vihara itu didirikan pada 1672 dan berfungsi sebagai tempat peribadatan pemeluk agama Konghucu.

Bangunan bergaya khas China yang didominasi warna merah dan kuning itu dihiasi berbagai gambar berkontur di dindingnya. Di dalam ruangannya pun terdapat beberapa meja sesembahan. Semuanya dirapikan dan dibersihkan.

Hari-hari ini, akan dilakukan penyaringan abu. Di vihara yang bersebelahan dengan Pasar Bogor ini sedikitnya ada sembilan tempat dupa. Abu dupa itu lama kelamaan menumpuk dan itu pun akan dibersihkan

Selanjutnya, pada Sabtu (29/1) akan dilakukan pemandian arca atau rupang. Prosesi itu merupakan suatu keharusan yang dipersiapkan setiap menjelang tahun baru Imlek. “Ini sudah menjadi tradisi kami di
semua vihara,” kata Chandra.

Makna yang terkandung dalam pembersihan semua ruangan dan rupang itu adalah untuk membersihkan diri. Dan kebersihan itu bermakna kebersihan hati masing-masing. Ada ratusan rupang yang ada di Vihara Dhanagun itu. “Sehari harus selesai dibersihkan semua,” tuturnya.(*)

Categories: bogor, budaya tionghoa, suryakencana, tata kota | Tags: , , , | Tinggalkan komentar

Wihara Dhanagun Sambut Imlek-Kompas


Menyambut Imlek tanggal 2 Februari, sekitar 30 warga Bogor melaksanakan tradisi bersih-bersih Vihara Dhanagun di Jalan Suryakancana, Kota Bogor, Sabtu (29/1/2011).

BOGOR, KOMPAS.com – Menyambut Imlek yang jatuh tanggal 2 Februari, sekitar 30 warga Bogor melaksanakan tradisi bersih-bersih Wihara Dhanagun di Jalan Suryakancana, Kota Bogor, Sabtu (29/1/2011). Sekitar 50 rumphang dibersihkan atau dimandikan, termasuk meja altar dan lemari-lemari tempat rumpang diletakkan atau dipajang.

Ketua Pengurus Ritual Wihara Dhanagun, Frenkie Sibbald menjelaskan, membersihkan rumphang dan wihara adalah tradisi Wihara Dhanagun dalam menyambut tahun baru Imlek. “Pada saat imlek nanti wihara sudah bersih. Ini juga maksudnya, kita harus bersih saat menyambut tahun baru,” katanya.

Rumphang atau patung dewa dan orang suci di Wihara Dhanagun ada sekitar 50 buah. Rumphang terbuat dari kayu, kuningan, atau porselen. Tampilan wajah rumpang, mulai dari berwajah rupawan dengan senyum manis hingga angker dan garang.

Di antara koleksi rumphang itu ada yang berusia ratusan tahun dan rumphang tersebut hanya ada di Wihara Dhanagun. Wihara itu sendiri sudah ada sejak tahun1862.

Frenkie Sibbald menjelaskan, Wihara Dhanagun adalah wihara Buddha Mahayana di bawah naungan Sangha Agung Indonesia. Perayaan imlek tidak ada kaitannya dengan ritual peribadatan Buddha Mahayana.

Imlek itu adalah perayaan tahun baru kalender China dan secara tradisi dirayakan oleh orang China atau keturunan Tionghoa. “Pada saat perayaan tahun baru itu, sebagaimana perayaan tahun baru lainnya, dilangsungkan secara meriah. Saat itu juga merupakan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga dan bersilaturahmi dengan sanak saudara serta teman dan tetangga,” katanya.

Menurut Frenkie, siapa pun orang China dan keturunan Tionghoa biasanya secara tradisi menyelenggarakan perayaan ini dan melaksanakan ibadah tahun baru, sesuai agama atau kepercayaannya masing-masing.

“Kalau yang agamanya Kristen, ya ibadahnya ke gereja. Yang Islam, ke masjid. Kalau yang Buddha, Tao, dan Kong Hu Cu ke wihara atau kelenteng. Jadi melakukan peribadatan tanda syukur dan gembira menyambut tahun baru, sesuai agama masing-masing,” tutur Frenkie.

Perayaan atau libur tahun baru, lanjutnya, biasanya selama dua minggu. Perayaan ditutup dengan dengan pesta pada tanggal 15, yang disebut Cap Go Meh. Cap Go Meh adalah belasteran dari kata cap go (artinya 15) dan meh dari singkatan meriah. Di luar Indonesia pesta tanggal 15 itu populer dengan istilah Yen Siau Cie.

Pada Cap Go Meh nanti, tidak ada pesta besar-besaran sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Arak-arakan rumphang diiringi puluhan rombongan kesenian barongsai dan lainnya ditiadakan. Tradisi menggotong dan mengarak rumpang, hanya akan dilaksanakan halaman wihara, tidak diarak sampai ke Jalan Suyakancana.

“Kami tidak menyelenggarakan pesta atau arak-arakan karena kami menilai, tidak pantas kita berpesta di situasi Indonesia yang masih prihatin karena banyak bencana. Tanda gembira dan bersyukur kami menyambut tahun baru, selain beribadah, juga menyelenggarakan kegiatan-kegiatan bakti sosial saja,” ungkap Frenkie Sibbald.

Categories: bogor, budaya tionghoa | Tags: , , , | Tinggalkan komentar

Potensi Salatiga yang Terkubur…-Kompas

Home
ARTHUR RIMBAUD
Potensi Salatiga yang Terkubur…
Senin, 1 November 2010 | 03:21 WIB
KOMPAS/ANTONY LEE


Rosa Darwanti, istri Wali Kota Salatiga, menunjukkan bagian belakang rumah dinasnya. Rumah tersebut dahulu merupakan kediaman asisten residen dan diyakini menjadi tempat menginap Arthur Rimbaud, penyair besar Perancis, selama dua pekan pada Agustus 1876.

Bagi orang Perancis, nama Arthur Rimbaud tak asing. Ia merupakan penyair besar Perancis pada akhir abad ke-19. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa ia pernah singgah di Kota Salatiga. Rimbaud diyakini pernah tinggal di rumah asisten residen yang kini menjadi rumah dinas Wali Kota Salatiga.

”Saya malah enggak tahu, tuh. Saya kurang paham sejarah rumah ini,” tutur Rosa Darwanti, istri Wali Kota Salatiga John Manoppo, dalam perbincangan di rumah dinas wali kota, Sabtu (21/8).

Rosa Darwanti bersama keluarganya mulai menempati rumah dinas di Jalan Diponegoro tersebut tahun 2007, tak lama setelah suaminya dilantik sebagai wali kota menggantikan Wali Kota Totok Mintarto yang meninggal dunia. Sayang, selama dua tahun itu ia tak mengetahui kisah Rimbaud. Padahal, hanya berselang beberapa puluh meter dari bangunan utama kediamannya, terpasang sebuah plakat dari Kedutaan Besar Perancis.

”Aux pays poivres et detrempes”, begitu tertulis di plakat yang dipasang Duta Besar Perancis untuk RI Thierry de Beauce, 6 Mei 1997, itu. Lebih kurang terjemahan bebasnya berbunyi, ”Di negeri yang banyak lada dan beriklim basah (hujan)”. Kota Salatiga memang sejuk karena berada di kaki Gunung Merbabu.

Dalam plakat itu juga ditulis dalam bahasa Perancis dan Indonesia, ”Penyair besar Perancis Arthur Rimbaud (1854-1876) pernah berdiam di Salatiga tanggal 2-15 Agustus 1876”.

Kolonel (Purn) Jean Rocher, mantan Atase Pertahanan Kedubes Perancis untuk RI, dalam perbincangan pada Mei lalu di Semarang menuturkan, kutipan dalam plakat itu merupakan satu kalimat yang dihasilkan Rimbaud selama dia berada di Salatiga meskipun puisi secara keseluruhan ditulis sekembali dia ke Eropa.

Arthur Rimbaud dinilai sebagai penyair besar karena karya-karyanya, seperti ”Illuminations”, dinilai memberikan pengaruh pada kesusastraan modern. Oleh beberapa penyair Perancis, ia dijuluki sebagai ”Shakespeare semasa kanak-kanak”.

Bernard Dorleans dalam bukunya, Orang Indonesia dan Orang Perancis dari Abad XVI sampai dengan Abad XX, menuturkan, pada tahun 1876 saat berusia 22 tahun, Rimbaud bergabung dalam legiun asing Eropa. Ia berangkat dari Den Helder, Belanda, menaiki kapal Prins van Oranje menuju Batavia (Jakarta), 10 Juni 1876. Ia lalu melanjutkan perjalanan ke Semarang.

Kemudian, ia bersama legiunnya naik kereta api dari Semarang menuju Stasiun Tuntang dan melanjutkan perjalanan berjalan kaki menuju Salatiga. Ia menghabiskan waktu dua pekan di kota ini sebelum akhirnya desersi dari pasukannya dan kembali ke Eropa.

”Kisah itu luar biasa dampaknya bagi Kota Salatiga. Bisa digunakan sebagai daya tarik wisata sebagai kota sejarah,” tutur Edy Supangkat, pemerhati sejarah Salatiga, yang juga penulis buku Salatiga Sketsa Kota Lama dan Galeria Salatiga.

Dia mengakui bahwa selama ini potensi sejarah Salatiga terkubur dalam-dalam. Tak banyak petugas di Pemerintah Kota Salatiga memahami sejarah kota. Padahal, kisah-kisah itu bakal laku dijual kepada wisatawan asing. Apalagi dengan ”jejak” keberadaan tokoh sekaliber Rimbaud.

Rosa Darwanti setelah mengetahui kisah Rimbaud juga menilai hal ini potensi luar biasa. Dia bahkan mengusulkan rumah dinas wali kota itu dijadikan museum. Apalagi, selama ini bangunan tersebut dinilai sudah kurang representatif sebagai rumah dinas kepala daerah. ”Di bagian belakangnya ada hotel yang tinggi, jadi bisa ’mengintip’ aktivitas di rumah dinas,” tuturnya.

Apa pun caranya, potensi Arthur Rimbaud yang sudah lama terkubur itu harus bisa digali agar memberikan manfaat pariwisata dan memperkaya khazanah kebudayaan di Salatiga.

(Antony Lee/Iwan Santosa)

Categories: pelestarian cagar budaya | Tags: | 3 Komentar

RUU Cagar Budaya Banyak Pasal yang Kontraproduktif-Kompas

RUU Cagar Budaya
Banyak Pasal yang Kontraproduktif
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
Jumat, 15 Oktober 2010 | 17:59 WIB
KOMPAS/HERU SRI KUMORO

JAKARTA, KOMPAS.com – Rencana pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Cagar Budaya tanggal 18 Oktober mendatang, dinilai sejumlah kalangan sebagai terburu-buru. Padahal masih banyak kelemahan, banyak terdapat pasal-pasal yang sangat kontraproduktif dengan upaya-upaya pelestarian warisan budaya. Terdapat pasal-pasal yang megelisasi tindakan penghancuran, pengrusakan, pemusnahan, dan penghilangan cagar budaya bangsa.

Demikian benang merah yang diungkapkan Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya Jhohannes Marbun dan Ketua Dewan Pimpinan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia I Gede Ardika dan Direktur Eksekutif Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Catrini Pratihari Kubontubuh , Jumat (15/10), sehubungan dengan akan disahkannya RUU Cagar Budaya menjadi UU Cagar Budaya.

Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Aurora Tambunan, secara terpisah mengatakan empat menteri akan menandatangani pengesahan RUU Cagar Budaya menjadi UU Cagar Budaya, tanggal 18 Oktober 2010. UU Cagar Budaya merupakan penggati UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Uji publik terhadap RUU Cagar Budaya sudah dilaksanakan di sejumlah kota. Semula direncanakan tanggal 12 Oktober pengesahannya, namun kemudian ditunda tanggal 18 Oktober 2010, katanya.

Karena terkesan buru-buru pengesahannya, Masyarakat Advokasi Warisan Budaya dan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia mendesak pemerintah dan DPR RI menunda pengesahan, agar bisa dihasilkan UU Cagar Budaya yang komprehensif.

Jika RUU Cagar Budaya disahkan dengan materi yang ada sekarang, justru memperburuk kegiatan pelestarian warisan budaya di Indonesia. Jika itu terjadi, Masyarakat Advokasi Warisan Budaya akan yudicial review, tandas Jhohannes Marbun.

Dia menyontohkan, pasal 72: Setiap orang yang merusak atau menghancurkan Benda Cagar Budaya tanpa izin Pemerintah, Pemerintah daerah, dan/atau pemiliknya wajib mengembalikan bahan, bentuk, tata letak, dan/atau teknik pengerjaan sesuai dengan aslinya atau tanggungan sendiri.

“Pasal ini harus dihapus, karena justru institusi pemerintah dilegalkan melakukan penghancuran warisan budaya bangsa , seperti kasus Proyek Informasi Majapahit di Situs Trowulan awal tahun 2009 yang dilakukan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,” jelas Jhohannes.

Pasal 71 tak jauh berbeda dengan pasal 72 dan merupakan pasal karet. Pasal 60 ayat (1) dikatakan bahwa Pemanfaatan benda Cagar Budaya yang tidak langka jenisnya, tidak unik rancangannya, jumlah setiap jenisnya cukup banyak, dan sudah dikuasai negara atau yang sudah menjadi koleksi museum dapat digunakan untuk kepentingan komersial.

Menurut Jhohannes, tindakan komersialisasi merupakan pelanggaran pidana dan bukan merupakan tujuan dari pelestarian warisan budaya. Ini hanya akan dijadikan pasal karet untuk mendukung upaya lelang artefak yang ada di bawah air, yang saat ini masih menjadi polemik.

Pasal lain yang kontraproduktif dan perlu ditinjau ulang adalah pasal 58 ayat (4), Pasal 48 ayat (1), dan pasal 45 ayat (5).

Karena itu I Gede Ardika mengatakan, penyempurnaan demi penyempurnaan terhadap RUU Cagar Budaza lebih memudahka pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota, serta masyarakat dalam implementasi sehingga tidak timbal kerancuan dan keraguan dalam pelestarian cagar budaya.

Catrini menabahkan, BPPI juga mendesak pemerintah agar segera menyiapkan berbagai peraturan, pelaksanaan yang diperlukan melalui proses yang transparan dan partisipatif .

Categories: pelestarian cagar budaya | Tags: , | Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.