Hebe, Menanti Ketegasan Pemerintah Pusat

Kamis, 14 Januari 2010 | 17:31 WIB
Demi pembangunan Bangka Trade Centre, pemerintah kota Pangkalpinang akan meruntuhkan bekas gedung bioskop dari tahun 1917 dan bernilai sejarah tinggi.

DEWI Kawula Muda (Goddess of Youth) Yunani dipilih menjadi nama sebuah gedung bioskop di Pangkalpinang. Di kalangan penggemar komik Marvel, nama Hebe juga mengingatkan komik tentang Hebe, istri Hercules, yang ciamik membuat bir ambrosia yang beken dalam mitologi Yunani itu. Entah kenapa nama bioskop tertua di Bangka Belitung itu diberi nama sesuai dengan nama putri Zeus dan Hera yang ternyata adalah jagoan meracik minuman buat para dewa dewi di Gunung Olympus. Hebe kemudian dikenal pula dengan nama Banteng, Bioskop Banteng, di zaman Soekarno.

Gedung yang selama ini telantar itu ada di kawasan bernama Pasar Pembangunan. Keberadaan gedung itu kini sedang di ujung tanduk. Alih-alih merevitalisasi eks Bioskop Banteng, Pemerintah Kota Pangkalpinang di bawah Wali Kota Zulkarnain Karim memilih segera merobohkan bangunan tersebut pada 20 Januari nanti. Itu dilakukan demi pembangunan Bangka Trade Centre (BTC).
(lagi…)

Sekali Lagi, Pembantaian Identitas Kota

Selasa, 12 Januari 2010 | 10:38 WIB

Di negeri yang tergila-gila mal, plasa, trade centre ini, pusaka budaya tidak dilirik, tidak penting karena tidak menggemukan kocek otoritas terkait.

MAGNA Plaza, sebuah bangunan megah bergaya gothic berdiri di tengah kota Amsterdam. Bangunan dari akhir abad 19 ini semula adalah kantor pos pusat yang kemudian di tahun 1990-an disulap jadi mal pertama di Amsterdam. Meski banyak warga Amsterdam tak suka pada arsitektur bangunan tersebut tapi tak berarti bangunan itu pantas dirobohkan. Setidaknya ingatan inilah yang tiba-tiba melesat lewat di benak saya ketika menerima kabar di Jumat malam lalu, sebuah kabar yang jamak terjadi di negeri ini. Bangunan tua, bangunan bersejarah di Pangkalpinang segera dirobohkan demi sebuah bangunan baru, demi sebuah mal.

Adalah Melly Suwandhani, keturunan si pembuat Hebe – demikian gedung bioskop itu biasa disebut – yang berupaya mencegah bioskop dari tahun 1917 itu dirobohkan. Melly berkisah, “Bioskop itu biasa juga disebut Bioskop Banteng. Sudah lama bangunan itu mau dirobohkan, mau dibangun mal. Pemerintah kota beralasan, itu bukan bangunan cagar budaya (BCB), pokoknya tetap akan dirobohkan tanggal 20-21 Januari ini.”

(lagi…)

Bangunan Cagar Budaya Akan Dijadikan Mal

Kamis, 31 Desember 2009 | 04:00 WIB

SALATIGA, KOMPAS – Bangunan cagar budaya, eks Markas Kodim 0714 Salatiga yang berusia hampir 100 tahun, akan diratakan tanah dan dijadikan pusat perbelanjaan. Padahal, bangunan tersebut masuk dalam daftar inventarisasi bangunan bersejarah oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Salatiga.

”Itu (gedung eks markas kodim) bisa dibongkar karena

baru masuk daftar (inventarisasi). Belum dikuatkan secara hukum sebagai benda cagar budaya,” kata Wali Kota Salatiga John Manoppo seusai rapat koordinasi membahas rencana pembongkaran gedung itu, Rabu (30/12).

Gedung itu kosong sejak markas Kodim 0714 pindah beberapa bulan lalu.

Menurut Manoppo, dalam permohonan pemilik, lokasi itu akan dijadikan pertokoan atau pusat perbelanjaan. Manoppo menyatakan, bangunan itu merupakan milik warga Semarang, bukan aset militer. Pemilik bangunan juga sudah menawar untuk membeli Rutan Salatiga yang berada di sebelah gedung eks markas kodim. Rutan itu juga termasuk dalam daftar inventarisasi benda bersejarah Salatiga.

Menurut Manoppo, dalam memutuskan izin pembongkaran, pemkot tak perlu berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng karena hal itu sudah diatur dalam peraturan daerah mengenai izin mendirikan bangunan. Kewenangan itu meliputi izin membangun, membongkar, mengubah, dan memanfaatkan.

”Bangunan tua itu banyak kriterianya. Dari arsitektur dan perannya, gedung eks markas kodim itu tak menonjol,” katanya.

Eddy Supangkat, pemerhati sejarah sekaligus penulis buku Salatiga: Sketsa Kota Lama mengatakan, membongkar bangunan itu sama artinya dengan tidak menghargai sejarah. Menurut dia, bangunan eks markas kodim dulu adalah Hotel Blommestein yang usianya lebih tua dibandingkan dengan gedung gemeente atau Kotapraja Salatiga tahun 1917.

Eddy memiliki foto hotel yang diabadikan tahun 1911. Blommestein merupakan hotel sederhana dan boleh dimasuki oleh orang yang bukan kulit putih juga.

(GAL)

Ini adalah permulaan cerita SAM KOK ( Tiga Negara ) dengan fokus pada pergulatan TjoTjoh salah seorang penguasa pada jaman Tiga Negara menuju puncak kekuasaan

diceritakan kembali oleh Monsieur KEKASIH
diterbitkan oleh penerbitan SUNRISE
Djakarta

tamat dalam 2 jilid

Sampek Engtay adalah legenda dari Cina mengenai tragedi romantika antara dua kekasih, Sampek dan Engtay. Legenda ini sering dianggap sebagai Romeo dan Juliet versi Cina.

Diceritakan kembali oleh Monsieur KEKASIH

Kisah Jenderal Sie Djin Kwie dalam peperangan Kerajaan Tong Tiauw melawan negara Koo-lee-kok

Badan penerbitan ,,SUNRISE” Djakarta

Kwan Kong dengan bawa kedua ensonya menerobos keluar lima kota, tabrak lima rintangan jang dipasang dengan akal muslihat atau dengan kekerasan sendjata

ditjeritakan kembali dengan bebas oleh :
Monsieur ,,KEKASIH”

Badan Penerbitan ,,SUNRISE” Djakarta

tebal : 59 halaman

Trotoar, Bukan Hanya untuk Pejalan Kaki

Jurnal Bogor, 15 December 2009 oleh jayadi
Rubrik: Surken Empang

Surken – Sejak dahulu, ruas jalan Suryakencana tak mendapatkan pelebaran jalan. Malah, sebagian dari warga Suryakencana mengaku beberapa meter lahan di depan rumahnya harus direlakan terpakai untuk membangun trotoar bagi pejalan kaki sesuai dengan keputusan walikota saat itu.
“Dulu rumah ini lebih luas daripada sekarang. Tepatnya saya lupa, bahwa seluruh rumah yang menjadi ruko atau tempat tinggal di sepanjang jalan Suryakencana ini harus dibuat trotoar seperti sekarang,” ujar Chandra, pengusaha Mebel di Suryakencana.Namun, kita bisa lihat sekarang bahwa fungsi trotoar telah beralih fungsi.
(lagi…)

Pemkot Rancang Perda PBLCB

KAPTEN MUSLIHAT – Pemkot mengupayakan terbitnya peraturan daerah (perda) tentang pelestarian bangunan atau lingkungan cagar budaya (PBLCB). Ini untuk mengantisipasi perkembangan pembangunan di kota.

“Kami khawatir benda-benda cagar budaya yang memiliki nilai sejarah di masa lalu bakal punah,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bogor Ade Sarip Hidayat saat workshop pembinaan dan pelestarian budaya dan sejarah daerah di wisma Warungkondang, Jalan Dr Sumeru, kemarin.
(lagi…)


Hak cipta foto pada ANTARA

Warga Tolak Penghancuran Vila Kembar
Kompas – Senin, Oktober 26

MEDAN, KOMPAS.com-Masyarakat dari berbagai kalangan menolak penghancuran gedung vila kembar yang berada di Jalan Diponegoro, Medan. Penghancuran gedung tersebut berarti turut menghilangkan identitas Kota Medan. Mereka menuding eksekutif sengaja membiarkan penghancuran ini terjadi.

Vila kembar ini merupakan perumahan perkebunan pertama yang ada di Medan. Bangunan ini berada dalam satu kawasan pusat kota. “Namun penghancuran malah dibiarkan oleh pemerintah,” kata Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumatera Utara, Ahmad Deliarnur, Minggu (25/10) saat bersama elemen warga lain menduduki gedung tersebut.
(lagi…)

Halaman Berikutnya »